Aksi 121, Siapakah Promotor dari Kampus Hijau?

Oleh Moh. Shadiq*

DUNIA kampus nusantara lagi dihebohkan oleh seruan dari tanah Jawa, seruan dari presidennya presiden dari seluruh presiden mahasiswa yang ada di seantaro negeri Indonesia, yang berkediaman di ibukota Negara.

Berita yang dibagikan oleh salah seorang teman di grup WA, sontak membuat saya kaget ketika membacanya, “reformasi?? beeeh! gila ee!”. Belum puas membaca informasi yang dibagikan tersebut, saya ingin memastikan bahwa statement yang mengutip Sembilan kata yang menjadi gerbang penutup masa orde baru di tahun 1998 adalah bukan berita hoaks, yang lagi gencar-gencarnya ditelusuri keberadaanya sekarang oleh pemerintah.

Ternyata, seruan untuk melakukan reformasi di era Jokowi adalah benar adanya. Sebuah Kutipan redaksi dari Tito Wibisono, koordinator pusat BEM seluruh Indonesia “Maka tetapkanlah!, Jika pemerintah masih bercanda mengelola Negara, maka REFORMASI JILID 2 harus menggelora!” seperti  yang terlansir di situs BEM SI yang diposting dua hari lalu.

Saya bukanlah pengamat politik seperti orang diluar sana, namun kita semua sebagai masyarakat yang  menerima asupan dari hasil kebijakan pemerintah tentu akan memiliki kesan  tersendiri kepada mereka. Ketika dapur rumah kita kekosongan, dabu-dabu iris (rica, tomat campur minyak) yang biasa menjadi lauk penghias nasi di kos. Kini bahan utama dari dabu-dabu tersebut yaitu rica atau yang dikenal dengan cabai, harganya melambung tinggi sejak awal tahun 2017. Ditambah pula dengan kenaikan harga BBM, Belum lagi tarif baru pengurusan dokumen kendaraan yang membuat dompet semakin angker.

Kemudian, mari kita sejenak bersafari ke kampus hijau Institut Agama Islama Negeri (IAIN) Palu. Tentu kita menyadari, bahwa keberhasilan aksi 121 yang jatuh pada hari Kamis besok,  tidak hanya dapat di ukur dari gema suara yang bergemuruh di Jakarta nantinya. Namun terlaksananya di daerah-daerah di seluruh Indonesia juga menjadi ukuran keberhasilan dalam mengaumkan rintihan rakyat yang tertindas oleh kebijakan pemerintah.

Nah pertanyaannya, kepada mahasiswa yang ketika turun ke jalan digelari “Pasukan hijau Diponegoro”, apakah tetap akan turun tanpa seorang “promotor”.. ? yang seyogyanya, dipegang oleh orang No. 1 di tatanan masyarakat kampus yakni Presiden Mahasiswa atau ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) institut.  Namun sampai hari ini, belum menemui kejelasan yang riil dan masih menjadi permainan wacana. Sehingga menjadi harapan kita bersama, aksi suci 121 untuk rakyat ini bukan dijadikan sebagai panggung kompetisi untuk siapa yang paling berkoar-koar dan berpengaruh demi sebuah anggapan tentang siapa yang paling layak untuk menduduki kursi terpenting di kampus, melainkan murni untuk rakyat dan sejenak menggantung kemeja yang kita bawa dari rumah/kos kita masing-masing dan memakai almamater perjuangan rakyat. Dan jikapun kejelasan mengenai orang No. 1 di kampus mendapatkan titik terang sebelum 121, maka aksi ini bisa jadi adalah ujian pertamanya. Dan kemungkinan kita akan menemui hal unik lainnya dalam aksi 121 nanti dan tak perlu mempertanyakan  apakah teman-teman dari ponegoro akan turun atau  tidak.!!!!

Hidup mahasiswa..!!!

Hidup rakyat…!!

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Palu angkatan 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *