Home Kolom Literasi Kekhawatiran yang Berlebihan

Kekhawatiran yang Berlebihan

2
0

Oleh Mohamad Shadiq*

AKTIVITAS manusia yang sibuk dengan keluarganya di rumah sakit, sedikit mencolek saya untuk sejenak mengamati. Kursi panjang di depan kamar pasien terasa begitu nyaman untuk duduk dan menggerakan bola mata melihat mereka yang keluar masuk kamar pasien dengan garis pipi yang melengkung sebagai tanda salam hangat buat keluarga yang sedang sakit.

ILUSTRASI

Mengamati hal tersebut, terlintas “redaksi apa yang menarik dari ruangan ini”, ruang yang menjadi saksi bisu akan penyesalan pasien dengan vonis yang beraneka ragam akibat ketidaksengajaan di hari kemarin.

Namun tak lama berselang, bola mata saya bergulir untuk mengamati tiga orang anak yang saling berkejaran di depan kamar pasien. salah satu diantara mereka membalut sebuah benda yang lagi sangat intim di era sekarang ini dengan tangan mungilnya.

Terlalu anarkis mungkin, jika saya mengatakan benda yang sangat intim tersebut adalah benda yang memiliki dua mata pisau. Namun ini hanyalah sebuah kekhawatiran.

Benda dengan dua mata pisau itu secara sadar digenggam oleh anak-anak yang belum mampu melihat luka sobekan yang dialami generasi sekarang. Bukannya berlaga so’soan untuk membahas ini, namun memang benda itu telah melukai bahkan menggerogoti seluruh lapisan masyarakat.

Ya.. bahkan secara fakta lapangan, sebut saja namanya “layar sentuh”, yang sedang dan telah meng-erosi budaya ketimuran yang syarat akan saling tegur sapa di negeri ini, mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Kita semua mungkin sering melihat atau mungkin mengalaminya. Dua, tiga orang bahkan sekelompok berkumpul dan saling berhadapan di suatu ruangan namun tak ada pembicaraan yang berlangsung, hening dan diam seribu kata, masing-masing sibuk dengan jari-jemari masing-masing.

Sangat Khawatir, ketika kita membuka mata dan mau menyadari, bahwa peristiwa erosinasi ini tetap mampu mengikis dinding-dinding kultur budaya masyarakat yang terlahir lebih awal, dari kelahiran benda ini. Karena hematku, kita ataupun mereka yang pada awalnya telah punya dasar kultur ketimuran yang cukup kuat sebelum adanya benda ini. Tetapi pada faktanya, dasar itu tetap goyah oleh benda tersebut. Cobalah kita mengamati bersama..!!

Sepintas peristiwa ini memekarkan tanda tanya yang sangat besar, namun sayangnya sebagian mata kita masih terpaku ke layar monitor dari benda yang berlayar sentuh ini, sehingga tak mampu melihat tanda tanya itu.

“Bagaimana nasib kultur budaya, bagi generasi yang terlahir setelah teraqiqahnya benda yang dimaksudkan tadi..????”

Dan mirisnya lagi, tidak sedikit orang tua yang seakan meng-iyakan benda yang dikenal masyarakat dengan sebutan android ini memasung kebudayaan timur dari anak-anak mereka.

Anak umur 2 tahun di zaman sekarang telah kecanduan mengotak-atik android. Mereka lebih mayoritas menggunakannya untuk bermain dan bersenang-senang dengan kesendirian dalam menggerakan jari-jemarinya. Kemungkinan besar mereka akan melupakan permainan klasik yang kaya akan nilai budaya ketimuran. Sehingga imbasnya melunturkan kreativitas anak dan mengubur jiwa sosial. Jika tanpa pengawasan dari orang-orang yang khawatir akan  keberlangsungan budaya timur di negeri ini.

Mungkin terlalu berlaga idealis jika sampai disangkut pautkan dengan kata-kata “negeri”, namun sekali lagi, ini hanyalah sebuah kekhawatiran, dan berharap bukan hanya menjadi kekhawatiran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.