Rendahnya Dosen di Indonesia dalam Menulis Jurnal Internasional

LPMQALAMUN.id – Kemampuan menulis jurnal internasional oleh dosen di Indonesia, masih sangat rendah dibanding beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Filipina, bahkan ASEAN. Hal ini disampaikan Pakar Komunikasi, Prof Dedi Mulyana dilansir dari republika.co.id.

ILUSTRASI. (INT)

Menurutnya banyak faktor yang menyebabkan sehingga jika dilihat dari sisi jumlah maupun porsi, jurnal internasional yang terindeks Scopus di Indonesia paling rendah dibanding negara tetangga. Problemnya, katanya antara lain bahasa.

“Karena bahasa Inggris bukan bahasa sehari-hari di negara kita, jadi enggak mudah untuk menulis karya ilmiah dalam bahasa tersebut,” ujarnya kepada wartawan belum lama ini, di kota Bandung, Jawa Barat.

Ia mengatakan harus ada langkah konkret, baik dari kementerian maupun perguruan tinggi yang bersangkutan, serta harus ada langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan dosen dalam menulis jurnal. Diantaranya, katanya dengan melakukan lokakarya, sebab tidak serta merta dosen menulis tanpa persiapan terlebih dahulu.

Ia menilai kemampuan setiap dosen dalam menulis itu berbeda-beda, ada yang sudah terbiasa dan ada juga yang belum.  Kebiasaan menulis ini, katanya tentunya butuh dilatih apalagi bahasa yang digunakan bahasa asing.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada progres dari kementerian untuk membenahi penulisan jurnal bagi dosen,” katanya.

Menurutnya langkah universitas pun harus dilakukan dengan memberi intensif yang cukup besar bagi dosen yang menulis di jurnal internasional. Langkah konkret dan strategi ini, katanya harus dilakukan dan dimulai dari sekarang untuk meningkatkan kemampuan dosen dalam menulis jurnal, agar dosen di Indonesia mampu bersaing dengan negara lain.

Deddy mengatakan, banyak cara untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggris para dosen, misalnya dengan kursus atau pergi ke luar negeri dan mendatangkan native ke sini. Melakukan hal ini di zaman yang serba mudah tidaklah sulit. Apalagi, katanya saat ini banyak program beasiswa sekolah di luar negeri.

“Yang tak kalah penting untuk menciptakan dosen yang produktif membuat jurnal harus dilakukan saat rekrutmen dosen,” katanya.

Menurutnya, seharusnya saat mengakat dosen harus yang bener-benar mau jadi akademisi, bukan karena pekerjaan semata. Di samping itu dengan memberikan insentif atau gaji bagi dosen dengan cukup, agar mereka bisa leluasa untuk mengembangkan diri. (IIM)

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *