Patut Belajar dari Bebek

Oleh Safriana*

Kata ‘antre’ dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Dalam konteks arti kata ‘antre’ ini kita dituntut untuk memiliki rasa sabar dan disiplin. Bagi umat muslim kata ‘sabar’ bukanlah sesuatu yang asing lagi, jadi akan aneh jika mereka tidak mengerti arti kata itu. Karena dalam Alquran, Allah berulang-ulang kali memerintahkan hamba-Nya untuk bersikap sabar. Seperti contoh dalam surah Al-Baqarah ayat 153 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”

ILUSTRASI. (Netralnews.com)

Selain itu Allah Swt dalam firman-Nya yang lain memerintakan hambanya untuk bersikap disiplin sebagaimana surah Huud ayat 112 yang artinya “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa, disiplin bukan hanya tepat waktu saja, tetapi juga patuh pada peraturan-peraturan yang ada. Melaksanakan yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Di samping itu juga melakukan perbuatan tersebut secara teratur dan terus menerus walaupun hanya sedikit. Karena selain bermanfaat bagi kita sendiri juga perbuatan yang dikerjakan secara kontinu dicintai Allah walaupun hanya sedikit. Seperti sikap antre.

Islam telah mengajarkan umatnya untuk bersikap sabar dan disiplin. Indonesia dengan mayoritas muslim mengapa sikap patuh pada antre di Indonesia masih kurang jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang mana penduduknya bukan mayoritas Islam seperti negara Jepang dan Amerika.

Pokok Persoalan

Inti permasalahan antre di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu adalah kurangnya kesadaran mahasiswa dan dosen-dosen. IAIN yang lebih dikenal dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam khususnya IAIN Palu dengan mahasiswa yang semuanya beragama Islam, belum bisa menerapkan sikap antre di setiap kegiatan. Bahkan sikap antre hampir tak terlihat di lingkungan IAIN Palu sendiri. Contoh ketika mahasiswa masuk maupun keluar dari Auditorium, mereka tak pernah terlihat untuk berantre. Hal ini sangat berbeda jauh dengan kampus yang besic-nya bukan Islam ataupun agama  lainnya, tetapi sikap antre bisa mereka terapkan. Seperti contoh ketika kami pergi menghadiri seminar di lingkungan kampus mereka saat kami mendaftarkan nama di panitia dan menunjukan tiket yang telah kami beli kami harus berdiri berderet-deret tanpa harus berdesak-desakan.

IAIN Palu benar-benar belum bisa menunjukan keunggulannya sebagai kampus yang besic-nya lebih keagamaan khususnya agama Islam sendiri yaitu sikap sabar dan sikap yang disiplin. Contoh lain tentang cueknya anak IAIN terhadap sikap antre yaitu ketika membayar SPP/UKT, berurusan dengan Akademik Mahasiswa (Akmah), kegiatan donor darah, keluar masuk ruangan, dan masih banyak hal lainnya lagi. Yang paling disesalkan lagi para panitia ataupun pengurus dari kalangan mahasiswa ataupun dosen seolah tak persoalkan ini sehingga mereka tidak menegur ataupun memberikan solusi agar bagaimana para mahasiswa dapat dengan tertib untuk menunggu giliran mereka

Akibatnya karena mahasiswa tak pandai untuk berantre mengharuskan mereka untuk saling berdesak-desakan antara kaum adam dan kaum hawa. Padahal dalam agama Islam sendiri kaum adam dan hawa yang belum muhrimnya tidak dibenarkan untuk saling bersentuhan. Bahkan hal ini merugikan kaum hawa itu sendiri. Bisa jadi daerah sensitif mereka bersentuhan dengan kaum adam bahkan dari kaum adam sendiri bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Yang terjadi di IAIN Palu bisa dimaklumi dan dipahami, karena kami juga orang Indonesia yang mana kita lebih tau kalau orang Indonesia itu sukanya yang pintas-pintas. Contoh yang sering kita dengar dari seorang guru fisika, matematika, atau kimia selalu mengatakan “Jika ada jalan yang mudah mengapa kita harus bersusah-susah” yah itulah kata-kata yang mereka pakai dalam mengajarkan rumus-rumus. Akibatnya kata-kata itu terus-terusan terpakai di kehidupan sehari-hari. Kalau ada jalan yang mudah mengapa kita pilih jalan yang susah”. Dan orang Indonesia itu Tidak mau dengan hal yang berbelit-belit jadinya main uang saja biar cepat selesai urusannya. Contoh kecilnya membuat kartu tanda penduduk (KTP) di kantor kecamatan.

Mulailah dari Diri Sendiri dan Mulailah dari Hal yang Kecil

Untuk menciptakan budaya antre IAIN, solusinya mulailah dari diri sendiri. Tidak bisa tidak, jika kita tidak memulainya dengan hal yang kecil terlebih dahulu. Segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaaan akan sulit untuk merubahnya jika tidak dirubah mulai dari sekarang. Dan untuk mendapatkan hasil yang besar semuanya berawal dari hal yang kecil terlebih dahulu. Hal kecil tersebut adalah ketika mengambil air wudu cobalah untuk berdiri teratur menunggu giliran, ketika meminjam buku di perpustakaan ajak rekan-rekan anda untuk membuat barisan yang panjang dan teratur sehingga tidak menutupi jalan keluar bagi mahasiswa lainnya yang tidak meminjam buku mengingat pintu keluar dan masuk ke dalam ruangan perpustakaan sangatlah kecil. Kemudian ketika jajan di warung nasi kuning ataupun di mas-mas penjual Somay. Dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang patut kita ubah mulai sekarang. Hal ini tidak akan terwujud jika masing-masing individu tidak memiliki kesadaran diri betapa pentingnya budaya antre itu.

Selain itu, mahasiswa IAIN juga membutuhkan dukungan dari dosen-dosen itu sendiri selaku orang yang lebih tinggi pendidikannya dan lebih banyak pengetahuannya dibandingkan dengan mahasiwa-mahasiswanya. Seharusnya dosen mampu memberikan contoh yang baik kepada mahasiswanya. Mereka seharusnya lebih peka terhadap hal ini. Ketika mereka melihat kerumunan mahasiswa yang saling berebutan tempat pertama untuk membayar SPP/UKT ataupun berurusan dengan Akmah mereka para dosen harus mencari jalan keluar agar mahasiswa tidak perlu berdesak-desakan lagi, contoh dosen harus menyediakan pagar pembatas jalan sehingga mahasiswa berdiri di satu baris saja. Akhir kata dengan kesadaran diri dan bantuan dari teman-teman sekalian mari kita ciptakan budaya antre di IAIN Palu dan tunjukan jati diri kampus kita tercinta.

Penulis adalah Redaktur Pelaksana (Redpel) Online Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Qalamun Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *