Home Kolom Literasi Menumbuhkan Semangat Membaca

Menumbuhkan Semangat Membaca

2
0

Oleh Mashur Alhabsyi, S.Pd*

DI era modern saat ini, para pemuda seakan-akan telah dihipnotis dengan kemajuan zaman serta teknologi yang begitu canggih. Sehingga ada satu budaya yang telah hilang pada generasi muda sekarang ini, yang membuat mereka lalai bahkan tak memikirkan dampak masa depan yang penuh persaingan. Yang kemudian menjadi pertanyaan bagi kita, budaya apakah itu? Yaitu budaya “membaca”. Budaya ini seakan-akan telah lenyap dari kehidupan generasi muda. Padahal tanpa disadari membaca merupakan satu sumber ilmu pengetahuan yang paling utama dalam hal mendidik pribadi ini untuk menempuh jalan kehidupan yang lebih baik kedepannya.

ILUSTRASI.

Kalau kita tarik dalam konsep Islam, akan muncul satu pertanyaan yang kemudian akan menjadi satu renungan bagi kita semua, yaitu kenapa banyak dari orang-orang barat atheis yang lebih gemar membaca? Sedangkan diantara kita umat Islam kurangnya minat dalam membaca? Padahal  telah jelas bahwasanya dalam Alquran Allah SWT menurunkan ayat pertama itu melalui malaikat Jibril  berbunyi “Iqra” yang mempunyai arti bacalah. Itu berarti menunjukan kepada kita satu perintah untuk membaca. Ini merupakan kejelasan dari konsep Islam yang sebenarnya harus diterapkan oleh umat Islam, akan tetapi hal ini telah berubah melainkan seakan-akan konsep ini lebih diterapkan oleh orang barat dari pada umat Islam itu sendiri.

Satu contoh konkret yang menjadi acuan kita yang pernah saya alami dan itu baru saya sadari saat ini.  Ketika saya kembali dari kampung halaman,  sekitar tahun 2013 lalu. Kebetulan saat itu di dalam mobil saya bersama dengan orang barat yang akan menuju ke kota Palu. Nah sepanjang jalan perjalanan yang kita lalui, satu kesan unik yang saya dapatkan dari mereka yaitu hal yang dilakukan sepanjang jalan hanya membaca (mempelajari) kamus bahasa Indonesia. Ini telah menandakan budaya membaca telah mendarah daging pada diri mereka, sehingga dimanapun mereka berada, selalu melakukan pekerjaan tersebut.

Dari contoh di atas sebenarnya bisa menjadi renungan bagi penulis serta pembaca, apa yang harus kita petik dari peristiwa tersebut? Apa yang harus kita ambil pelajaran dari mereka? Sebenarnya generasi muda saat ini mampu melakukan budaya itu, akan tetapi satu faktor yang kita alami yaitu sifat malas yang telah merajalela pada diri kita. Padahal telah jelas dikatakan oleh orang bijak dalam sebuah potongan syair “Tuntutlah ilmu dan janganlah engkau malas, alangkah jauh kebaikan itu bagi orang yang malas”, telah jelas penegasan yang diungkapkan oleh para penyair dengan kata bijaknya. Betapa jauhnya kebaikan itu ketika kita malas. Sebenarnya belum terlambat ketika kita ingin memulai dari sekarang untuk membudidayakan membaca, karena tidak ada kata-kata terlambat dalam hal belajar. Oleh karena itu dalam melakukan sesuatu, satu hal yang sebenarnya ditanamkan dalam jiwa kita yaitu berawal dari niat yang ikhlas dan yang lurus, serta keinginan yang kuat.  Kalau kita cermati, kenapa dari beberapa hadis yang ditulis oleh Imam Bukhari hadis pertama yaitu “Innamal ‘amalu binniyaati”? Ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam melakukan sesuatu harus disertai atau diawali dengan niat. Sehingga sesuatu yang kita lakukan berjalan sesuai yang diinginkan. Dengan demikian saya mengajak kepada teman-teman, mari kita budidayakan membaca, jadikanlah kegiatan membaca merupakan darah yang mengalir dalam tubuh kita sehingga ketika kegiatan itu tidak dilakukan, akan menjadi kegelisahan bagi kita.

Penulis adalah mantan Direktur Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Qalamun IAIN Palu periode 2014-2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.