Home Kolom Literasi Masuk Organisasi, Takkan Menghambat Kuliahmu

Masuk Organisasi, Takkan Menghambat Kuliahmu

3
0

Oleh Imron Nur Huda*

MELANJUTKAN studi ke perguruan tinggi, menjadi pilihan banyak orang demi meraih masa depan yang cemerlang. Dianggapnya peluang kerja semakin besar dengan tercantumnya gelar sarjana di nama kita. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang menjamin dengan menempuh studi dan meraih gelar sarjana, akan menjadikan masa depan kita cemerlang dan sukses. Namun, tak sedikit pula mindset yang terbangun di kalangan masyarakat bahwa orang-orang yang berkualitas lahir dari perguruan tinggi dengan gelar sarjananya.

Sejalan dengan hal tersebut, kualitas diri seseorang akan terbentuk dari serangkaian proses yang dilewati selama di perguruan tinggi. Apapun yang kita lakukan, akan menjadi pengalaman-pengalaman yang notabenenya sebagai pembelajaran penting untuk menjadi tolak ukur hal yang akan kita lakukan kedepannya. Pengalaman itu tentunya tidak hanya didapatkan selama proses perkuliahan berlangsung. Dosen mengajar, kitanya duduk diam dengar, syukur-syukur kalau kita terbesit pertanyaan untuk ditanyakan saat itu. Nah, bagaimana mau meningkatkan kualitas diri kalau kita hanya sebatas mengikuti perkuliahan terus pulang? Tanpa ada kegiatan lain yang dilakukan untuk menunjang kualitas diri kita.

Salah satu penunjang kualitas diri adalah masuk organisasi. Ini menjadi hal penting ketika kita memutuskan pilihan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Banyak pengalaman bahkan ilmu pengetahuan yang diperoleh tentunya untuk meningkatkan kualitas diri kita. Malah tak sedikit yang mengatakan, ilmu pengetahuan di perguruan tinggi lebih banyak kita peroleh dalam organisasi dibanding saat perkuliahan berlangsung. Namun, seiring banyaknya yang mengatakan seperti itu, tak sedikit  pula mindset-mindset radikal yang berpandangan bahwa ‘masuk organisasi hanya akan menghambat perkuliahan’. Pandangan seperti ini sering terjangkit di dalam pemikiran orang tua dan orang-orang yang tidak paham akan organisasi.

Padahal jika dianalisa, organisasi bukanlah biang penghambatnya. Akan tetapi penghambat sesungguhnya yakni ‘diri kita sendiri’. Sebagaimana dikatakan Walikota Bandung, Ridwan Kamil dalam akun Instagramnya @ridwankamil bahwa “musuh terbesar yang menghalangi cita-citamu adalah dirimu sendiri. Diri kita yang malas, diri kita yang lemah, diri kita yang minderan, diri kita yang gampang patah, diri kita yang menyia-nyiakan waktu, diri kita yang sensitif, diri kita yang menyalahkan orang lain.”

Sebagaimana pengalaman penulis, masuk bahkan ikut aktif dalam organisasi sangat besar manfaatnya. Apalagi dengan menyandang status sebagai mahasiswa yang notabenenya merupakan Agen of Change, Agen of Control, ataupun agen-agen yang lain. Ada rangkaian proses di organisasi yang mungkin sama sekali tidak akan kita dapatkan dalam perkuliahan. Menghargai, bekerja sama, peka dengan keadaan sekitar, pendewasaan diri, saling mengerti, saling peduli, bahkan saling traktirpun kita akan dapatkan dalam organisasi. Apalagi organisasi tersebut sangat cocok dengan minat dan bakat kita. Tentunya potensi yang kita miliki akan terus terasah di dalamnya.

Dari beberapa hal di atas, secara otomatis pandangan yang mengatakan organisasi adalah penghambat kuliah itu salah besar. Karena yang terpenting adalah diri kita sendiri. Ketika kita mau memampukan diri kita dalam membagi waktu, organisasi dan kuliah akan sama-sama berjalan. Terkadang ada orang yang telah masuk dalam organisasi, namun ia terlalu over di dalamnya. Sehingga ia mengabaikan mata kuliah yang sedang masuk di kelasnya, padahal tidak ada agenda kegiatan di organisasinya. Ini juga salah besar.

Di luar dari itu, tak bisa dipungkiri bahwa dunia kerja membutuhkan orang bukan hanya sekedar memiliki ijazah dan gelar, namun lebih dari itu. Apa potensi yang kita miliki? Bagaimana skill yang kita miliki? Bagaimana cara kita bersosial? Itu menjadi tolak ukur terbesar diterimanya diri kita dalam dunia kerja. Makanya tak heran, banyak kalangan orang yang bisa dikatakan telah mencapai kategori sukses bukan karena gelar dan ijazah yang mereka miliki. Itu semua tak cukup hanya sekedar kuliah terus pulang ke rumah atau indekos. Akan tetapi ada rangkaian proses dan usaha yang mereka jalani salah satunya masuk organisasi.

Penulis adalah mantan layouter LPM Qalamun tahun 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.