Home Kolom Literasi Riset, Buku dan Sekelumit Perubahan Dunia

Riset, Buku dan Sekelumit Perubahan Dunia

3
0

Oleh Muhammad Shadiq *

Siapa yang tak kenal indonesia Jika mungkin dalam film “Rudi 2” karya Presiden Crack Indonesia BJ Habibie. Seorang wanita bangsawan Jerman mengatakan, “Indonesia? saya tidak pernah mendengar nama itu Nama yang panjang dan aneh, “katanya dalam Subtitle. Anggap saja dia lagi khilaf, hehehehe

Indonesia, Negara yang baru saja bisa kembali ke babak baru nanti akan kembali mulai memanas dengan isu-isu pemilihan presiden pada 2019 mendatang. Tapi, Kita tinggalkan detik masalah yang ini buat dada terasa sesak dan khawatir saat membacanya. Tapi, mari kita menyesakkan dada dengan masalah yang menjadi jantung mahasiswa dalam dunia akademik, meski sebenarnya ini masalah untuk segolongan pihak.

Pengantar, Dilansir dari Tirto.id, tahun 2016 bulan Maret lalu oleh Central Connecticut State University mempublikasikan sebuah riset skala besar mengenai perilaku masyarakat dunia terhadap literasi pada 61 negara.

Posisi 10 besar dengan minat baca tertinggi pada penelitian ini adalah negara-negara Skandinavia yaitu mulai dari Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia pada posisi satu sampai dengan lima. Posisi keenam baru diputus oleh Swisss, Amerika Serikat, Jerman, Latvia dan Belanda pada posisi kesepuluh.

Indonesia dimana ?? Negara kita yang sebenarnya menjadi salah satu negara pengubah dunia dari sebuah buku, harus penuh posisi kedua sebelum nanti dalam kualitas minat baca. Atau kata lain berada di posisi 60, sangat mengagetkan bukan?

Negara kita berada satu tingkat atas Botswana salah satu negara Afrika bagian selatan. Parahnya, kita kalah dari Negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Thailand yang berada di posisi 59, Malaysia pada urutan 53 atau Singapura di posisi 36.

Tentu di umur yang ke 72 tahun, budaya membaca ini bukan hanya menjadi PR di setiap rezim, tapi juga menjadi masalah wajib di setiap pemerintahan, atau mungkin ada kesalahan penghitungan yang dalam riset yang baru dilakukan tersebut.

Entahlah bagaimana, aku pun bingung. Pasalnya, hampir diseluruh daerah di Indonesia memiliki Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) dan perpustakaan bergerak. Ada ada ribuan komunitas yang mengabdikan diri dalam dunia literasi indonesia, dari sabang sampai Merauke berjajar pulau- pulau, sambung menyambung menjadi satu. agar indonesia Nyanyi sedikit bolehkan, jadi tidak tegang.

Saya hanya tidak habis pikir, semua kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah bisa dicoba dengan aneka warna komunitas literasi yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan dalam hal ini budaya membaca, apa iya hanya bisa membuat Indonesia berdiri pada posisi ke-60? Fenomena hakikatnya, tujuan pemerintah dan komunitas-komunitas ini bukan untuk mencari peringkat dalam setiap riset yang dilakukan. Tapi hasil riset itu tersegel dari ikhtiyar dari penggerak bangsa ini untuk meningkatkan kualitas generasinya dari jembatan buku, membaca dan menulis.

Para ahli omidik itu harus melihat langsung semangat literasi di negeri ini dan kegilaan semangat baca di sudut desa Zamrud Khatulistiwa.

***

Bung Hatta pernah bilang, “aku siap dipenjara, asalkan bersama buku, karena bersama buku aku bebas.”

Begitu indah kalimat ini, seakan buku bagi Bung Hatta adalah sebuah kebebasan yang sebenarnya. Lewat buku ada sejuta dunia dan informasi yang dapat kita genggam. Bahkan lewat sebuah buku banyak perubahan dunia yang luar biasa terjadi.

Jika melihat sejarah, siapa yang tak tahu dasar kekuatan kerajaan Aceh Darusslam? Kerajaan ini menjadi salah satu dari 4 kerajaan Islam terbesar di dunia bersama kerajaan Fatimiyah di Mesir, Karajaan Turki dan Kerajaan Moghul di India.

Agung Pribadi dalam buku “Gara-Gara Indonesia,” rupa kerajaan Aceh Darussalam menjadi salah satu kerajaan yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda bersama dengan Kerajaan Batak Ketika Belanda hampir menguasai seluruh kerajaan Nusantara. Perlawanan kerajaan Aceh Darussalam menjadi perang terpanjang 1873-1910, 37 tahun, dengan empat periode perang. Namun kemudian, kerajan yang berada di sudut Indonesia bagian barat itu dengan sejarahnya harus takluk karena sebuah buku karangan Christian Snouck Hurgronje, “Het Mekaansche Feest,” yang berisi Strategi yang sesuai dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

Das Capital, buku karya Karl Marx yang menjadi hulu lahirnya baru komunisme dan sosialisme, yang kemudian memisahkan antara barat dan timur selama berpuluh- puluhan tahun.

Bagaimana seorang Machhiavelli dalam bukunya “Pangeran” untuk mempertahankan kekuatan seorang pemimpin tidak boleh ragu mengggunakan kekerasan. Buku ini merupakan bacaan Lenin, Stalin, Hitler, Musoini, Mao Tse Tung yang bertanggung jawab atas tewasanya puluhan juta orang.

Bagaimana setengah rakyat Inggris yang hampir pindah ke Amerika untuk mendapatkan tanah baru karena bahaya kelaparan, tidak terlaksana karena buku Thomas Robert Maltus yang memberi ide untuk membuka lahan baru.

Amerika harus pulang dengan rasa malu, setelah dipukul mundur oleh Vietnam karena kalah Strategi dari sebuah buku karangan Jendral AH Nasution, “Pokok-Pokok Perang Gerilya.” Buku tersebut adalah petunjuk Vietcong pemimpin gerilyawan dalam menentukan strategi.

Ingin jadi bagian dari perubahan? Menulislah

“Penting menjadi tidak penting jika tidak ditulis”

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester V Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.