Bunga dalam Pendekatan Historis

OLEH : M. Unggul*       

DALAM ajaran agama-agama samawi (agama wahyu), bunga sudah dikenal baik dalam Islam, maupun nasrani dan yahudi.  Dalam Islam (quran), bunga sudah di jelaskan dalam QS Ar Rum ayat 39,  dalam Nasrani (injil) di jealskan dalam Kitab Lukas pasal 6 ayat 34-35, kitab lukman pasal 6 ayat 35 dan levitikus pasal  25  ayat 35-37) dan Yahudi (Taurat) di jelaskan dalam Undang-undang Talmud, kita Exodus pasal 22 ayat 25, kitab Deuteronomy (ulangan) pasal 23 ayat 19 dan kitab Levicitus pasal 25 ayat 36-37). Artinya diskursus bunga sudah jauh dahulu kala menjadi diskusi di dunia keagamaan. Dalam tulisan ini perkembangan bunga dapat di bagi pada dua periode besar dalam peradaban umat manusia, yaitu periode sebelum masehi (SM) dan periode masehi (M).

PERIODE TAHUN SEBELUM MASEHI (2000-1 SM)

Dalam catatan sejarah yang ditemukan, bahwa bangsa Babilonia telah lama mendirikan sebuah kredit kuil-kuil saham mikro pada tahun 2000 SM.   Setelah itu, 500 SM menyusul bangsa Yunani mendirikan semacam bank yang dikenal dengan Greek Temple yang menerima simpanan  dengan memungut biaya penyimpanan serta menyimpan kembali kepada masyarakat. Catatan ini menunjukan bahwa praktek perbankan kuno dan bunga uang dimasa itu sudah mulai ada.

Pada masa Yunani (abad 7 SM – 1 M), terdapat beberapa jenis bunga yang besarnya dikategorikan menurut kegunaannya. Untuk pinjaman biasa antara 6-18%, pinjaman properti 6-12%, pinjaman antar kota 7-12%, sedang pinjaman perdagangan dan industri 12-18%. Tapi, praktek ini dicela dua ahli filsafat.  Pada masa inilah dua tokoh filusufis terkenal mengecam tindakan pengambilan bunga yaitu Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Keduanya  merupakan dua filosofis, pemikir, ahli tata Negara dan ahli hukum yang hidup dizaman itu.

Kritik Aristoteles pada bunga uang berawal dari konsep dasarnya terhadap fungsi dan hakikat uang  itu sendiri. Menurut Aritoteles, “Uang adalah ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur”. Menurutnya, fungsi uang yang utama adalah untuk mempermudah  perdagangan dan demikian mempermudah pula manusia memenuhi kebutuhannya. Itulah tujuan uang yang utama. Uang tidak dapat digunakan sebagai alat menumpuk-numpuk kekayaan, apalagi memeranakannya. Memperbanyak kekayaan dengan jalan memperbungakan uang adalah perbuatan yang sangat tercela. (Aristoteles; politics, book I, pasal 5.)

Sementara, Plato memberikan argumen yang tidak jauh berbeda dengan mengatakan bahwa praktek-praktek pembungaan uang sangat terkutuk tindakan tersebut (Plato ; laws, book V).  Dua alasan plato mengecam penngambilan bunga: pertama, bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puasa pada masyarakat dan kedua, bunga merupakan alat bagi golongan kaya untuk mengekspolitasi golongan miskin.

Pada periode sebelum masehi (SM) ini, sebenarnya bangsa Romawi sudah mulai mempraktekan pengambilan bunga yaitu ketika abad V SM hingga IV Masehi. Pendapat ini dari catatan sejarah. Bahwa Cicero (106-43 SM)  filsuf romawi  mengecam bangsa romawi yang mempraktekan bunga. Alasan filsuf romawi ini kurang lebih sama dengan para filsuf Yunani (plato dan aristoteles).

PERIODE TAHUN MASEHI (1-2013 M)

Di periode tahun masehi ini, perkembangan bunga mengalami pasang surut. Ini disebabkan kebijakan yang dibuat oleh para raja romawi dan raja-raja Negara lain terhadap penerapan bunga itu sendiri berbeda-beda. Ada yang mendukung, menolak dan menentang hingga campur tangan agama pun ketika itu ikut ambil bagian dalam pelarangan bunga. Pada periode ini, diskursus perkembangan  riba  dapat dilihat dua siklus yaitu periode Islam (614-615) dan periode Romawi:

  • Periode Islam (614-615 M)

Periode ini di bagi menjadi dua periode, yaitu masa Jahiliyah atau pra-Islam dan Masa Islam.

Periode Jahiliyah (pra-Islam)

Jauh sebelum Islam datang, praktek membungakan uang juga melanda bangsa Arab. Riba dilakukan dengan berlipat ganda baik terhadap uang maupun berbagai macam komoditi, dan  binatang ternak. Praktek pembungan uang ini dilakukan oleh penduduk dan kaum Taif, Kaum Taif  yang biasa neminjamkan uang kepada kaum Mughirah. Ketika jatuh tempo, kaum Mughirah berjanji akan membayar lebih jika diberi tenggang waktu.  Pembungan uang pada masa ini ketika jatuh tempo utang tidak di bayarkan, artinya konsep bunga ketika ini hanya dikenakan ketika utang tidak dibayar pada saat jatuh tempo, jika utangnya dibayar sebelum jatuh tempo, maka tidak ada pembungaan uang.

Konsep pembungaan uang yang diterapkan oleh kaum Taif yaitu dengan memberi pinjaman uang dengan jangka jatuh tempo yang telah ditetapkan, ketika jatuh tempoh si peminjam boleh membayar sekaligus utangnya dan boleh meminta penundaan pembayaran, dengan akibat, jika taksiran pinjaman itu seharga seekor unta betnia yang berumur setahun, maka sipeminjam harus menyerahkan seekor unta betina yang berumur dua tahun, ketika tahun berikutnya masih menunda, maka harus membyara dengan seeokr unta betina yang berumur tiga tahun. Hal ini juga diterapkan pada uang (dinar) dan emas ketika itu. Begitu pula dengan penduduk Mekkah ketika itu, tidak jauh berbeda dengan kaum taif. Bahkan kedua kota ini mempraktekan bunga uang dengan berlipat ganda.

Periode Masa Islam (sesudah Islam datang)

Perode ini dimulai ketika Islam mulai mengembangkan pengaruhnya di beberapa kabilah, kota-kota dan negara di jasirah arab. Larangan dan istilah Riba pertama kali diketahui berdasarkan wahyu yang diturunkan pada masa awal risalah kenabian Muhammad saw di Mekkah, kemungkinan besar pada tahun ke 4-5 Hijiriyah (614/615 M). Catatan ini berdasarkan fakta internal dalam al quran surat Ar Rum (30) ayat 39.

Pelarangan riba dalam Islam datang secara gradual, tidak secara utuh, ini disebabkan karena konteks masyarakat Islam ketika itu yang perlu penananman nilai-nilai Islam.  Larangan dalam al-quran ini dibagi dalam empat tahapan : Pertama,  surat Ar- rum (30) : 39 : ayat ini merupakan wahyu pertama yang berbicara terkait pelarangan riba yang turun berkenaan kegiatan perekonomian di kota mekkah. Ayat ini turun pada tahun 5 Hijiriyah atau  614 M. Kedua. Surat An Nissa (4) ayat 161:  Ayat ini turun ketika pada masa awal Nabi berada di Kota Madinah tepatnya ketika setelah perang Uhud (3H/629 M) atau 11 tahun setelah larangan riba pertama kalinya. Ketiga, Surat Ali Imran (3) ayat 130-132 : 130. Ayat ini turun ketika para sabahat hijrah agar menjahui Riba jika menginginkan kesejatraan ekonomi. Larangan riba pada ayat ini menunjukan secara eksplisit. keempat, Surat Al Baqarah (2) ayat 275-279 : ayat ini turun ketika misi Nabi Muhammad saw akan berakhir. Ayat ini juga merupakan wahyu terkahir yang membicarakan tentang Riba (8H/630M).  Kata umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M),  ketika ayat ini  turun, Nabi belum sempat menafsirkan secara utuh tentang makna ayat terakhir ini. Karena dua tahun setelah ayat ini turun Nabi wafat yaitu 632 M. Dari beberapa ayat tentang larangan Riba itu, sehingga dalam Islam ada dua larangan riba yaitu riba Fadl dan Riba Nasihah.

Seiring perjalanan waktu, larangan riba masih dijadikan sebagai doktrin umat Islam. Sempat terlupakan. Hingga publik pun mulai melirik kembali sistem ekonomi tanpa riba yang pernah dicampakkannya. Akhirnya, dunia Islam pun merespon ramai-ramai keinginan umat untuk kembali hidup tanpa riba.Tak heran, di penghujung tahun 1970-an, beberapa negara Islam mulai mengembangkan industri keuangan tanpa riba.Apalagi setelah berdiri Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB), sebagai hasil dari Sidang OKI di Karachi, Pakistan, Desember 1970.

Pada akhirnya, ulama pun terlibat aktif untuk mendukung kembalinya sistem tanpa riba ini. Tak heran, jika kemudian ulama-ulama sedunia mengeluarkan fatwa yang pada intinya menegaskan kembali bahwa bunga (riba) apa pun bentuknya tetap haram, sedikit atau banyak. Di antara fatwa itu adalah: Pertama, fatwa dari Pertemuan OKI di Karachi tahun 1970. Kedua, Fatwa Kantor Mufti Negara Mesir tahun 1989 hingga 1900 yang memutuskan bunga bank termasuk salah satu bentuk riba yang diharamkan. Ketiga, Konferensi II Konsul Kajian Islam Dunia (KKID) di Universitas Al-Azhar, Cairo, Muharram 1385 H/Mei 1965 menetapkan, tak ada keraguan sedikit pun atas keharaman praktek membungakan uang seperti dilakukan oleh bank-bank konvensional. Keempat, Fatwa Lembaga Fiqh Rabitah Alam Islami Makkah dan Konferensi Islam Internasional di Jedah tahun 1976.

Alhasil, doktrinisasi larangan riba yang menjadi sprit dan ruh ekonomi umat Islam benar-benar tetap konsisten. Hingga saat ini umat Islam tetap mempunyai prinsip yang kuat bahwa riba tidak mencerminkan keadilan.

Periode Romawi (1-2013 M)

Pudarnya pengaruh gereja ortodoks abad ke-13 dan kebangkitan Bunga dari Mati suri

Pada periode ini, hukum gereja merupakan peraturan tertinggi yang harus ditaati. Salah satu peraturan yang dikeluarkan oleh gereja ketika itu yaitu pelarangan bunga uang. pelarangan bunga ini pada abad ke-13. Diakhir abad ke-13 saat pengaruh gereja terus memudar, maka orang-orang mulai melakukan praktek riba. Catatan adanya praktek riba ini mulai muncul ketika, Bacon seorang tokoh ketika itu, menulis buku “discourse on usury” . Dalam tulisan itu, Bacon menggambarkan kondisi praktek riba disaman itu: “Keadaan yang memaksa manusia member dan menerima pinjaman uang, tetapi karena mereka tidak mempunyai belas kasihan, mereka tidak bersedia memberikan pinjaman kepada orang lain, apalagi jika mereka tidak memperoleh apa-apa dari perbuatan itu, oleh sebab itu, pengambilan bunga atas uang yang dipinjamkan haruslah diizinkan. (Francis Bacon ; Discuorse on Usury)”

Hingga secara perlahan,tapi pasti pelarangan riba di Eropa mulai dihilangkan. Di Ingris pelarangan itu dicabut pada tahun 1545, saat raja Hendry VIII berkuasa.  Titik peralihan inilah istilah usury (riba) diganti dengan istilah interest (bunga)  atau transaformasi Riba menjadi nama bunga di sahkan hingga saat ini kita kenal. Istilah bunga (intereset) ini dikeluarkan oleh Raja Hendry VIII tujuannya untuk memperlunakan tindakan manusia yang berhubungan dengan pinjaman uang. Bahkan suku bunga ketika itu ditentukan sebesar 10 %.

Ketika raja Hendry VIII wafat, kemudian digantikan dengan Raja Edward VI, maka Raja Edward VII menetapkan peraturan bahwa  membungakan uang tidak boleh dilakukan, namun kebijakan ini tidak berlangsung lama. Ketika Raja Edward VII meninggal dan digantikan Ratu Elizabeth I, maka kebijakan yang di baru ditetapkan bahwa membolehkan bunga uang.  Adanya kebijakan Ratu Elizabeth I ini, maka demam bunga ditanah eropa tidak terelahkan dan merembek kenegara-negara belahan dunia.

Ekspansi bunga ini kemudian berkembang bersamaan dengan emprilisme dan kolonialisme bangsa-bangsa eropa ke belahan dunia, salah satunya Negara Indonesia yang di bawah oleh Inggris dan Belanda (VOC). Penulis mengatakan, bahwa dua raja besar ini yaitu Raja Hendry VIII dan Ratu Elizabeth I, merupakan pelopor lahir kembalinya bunga (interest) dari mati suri hingga berkembang di belahan dunia dan  bertahan sampai saat ini.

KEGAGALAN AGAMA YAHUDI DAN NASRANI DAN KONSISTENSI AJARAN ISLAM

Dari uraian diskursus perjalanan bunga yang dijelaskan sebelumnnya, bahwa memang kemunculan riba atau bunga dalam kehidupan umat manusia, bukan lahir dari kehidupan ketika Islam itu hadir, namun jauh sebelum Islam ada, bunga (intereset) sudah dipraktekan. Praktek riba sebelum Islam datang  sudah menjadi polemik yang di pertentangkan dan dikecam oleh doktrin agama-agama samawi (nasrani dan Yahudi), para filsuf-filsuf yunani dan romawai, kaum revolusiner dan para raja-raja yang berpihak pada kebenaranpun sudah menentangnya. Namun semua itu tidak mampu merubah paradigma tatanan masyarakat dan sistem praktek riba. Artinya nama-nama besar dengan pemikiran besar dan agama-agama besar telah dianggap gagal dalam mempertahankan ajaran-ajaran dan pemikiran mereka tentang kedzaliman dan bahaya bunga. sementara hanya Islam yang mampu mempertahankan konsistensi ajarannya terhadap larangan-larangan riba hingga saat ini bertahan. Sementara agama-agama lain justru “terjungkal” dalam mempertahankan konsistennya dalam pelarangan Riba atau bunga.

KESIMPULAN

Oleh karena itu, bunga, intereset dan  riba merupakan sebuah fenomena kehidupan umat manusia yang mempunyai cerita sejarah yang panjang dari sebuah peradaban umat manusia baik sebelum Islam datang maupun ketika Islam datang. Bahkan jauh sebelum Islam ada. Jika kita menghitung umur Bunga, interest dan riba yang sudah dipraktekan dan mengalami rekonstruksi kearah modern, maka  kita dapat mengambil kesimpulan bahwa umur bunga sudah mencapai ribuan tahun dipraktekan. Mulai dari tahun sebelum masehi 2000 SM hingga 2013 Masehi.

Sementara itu, agama-agama samawai (yahudi dan nasrani), para filusufis bangsa eropa dan yunani tidak mampu memutuskan mata rantai eksistensi sel-sel bunga, dan hanya agama Islam yang sukses memutus mata rantai bunga itu menjadi sebuah doktrin yang terlarang melalui sistem ekonomi Islam.

Penulis adalah salah satu dosen di Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) IAIN Palu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *