Negosiasi atau Demonstrasi?

Oleh Ismail Syukur*

BANYAK polemik yang setiap harinya kita dengar dan perbincangkan di seputaran kampus kita Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Baik itu masalah Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK), Uang Kuliah Tunggal (UKT), almamater Mahasiswa baru (MABA), jadwal perkuliahan lambat, kurangnya dosen, dan masih banyak lagi.

Masalah tersebut bukan hanya dibahas di area kampus hijau saja, melainkan meluas puluhan kilo meter dari area kampus. Bahkan aib ini menjadi konsumsi mahasiswa dari kampus-kampus lainnya. Dalam hal sensitif seperti ini, pasti akan adanya dua pandangan berbeda yang akan kita dapatkan, baik itu positif ataupun dari sisi negatif. Namun kita harus melihat pada sisi positif dari meluasnya pembahasan tentang problematika tersebut.

Penulis berpendapat bahwa hal ini dilakukan semata-mata karena ingin mendapatkan solusi dari permasalahan tersebut, baik itu masalah PBAK, UKT, almamater Maba, dan lainnya. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian, apa yang harus dilakukan terlebih dahulu ‘Negosiasi atau Demonstrasi?’ Dua hal inilah yang harus kita pertimbangkan sebagai ‘siswa’ yang berdiri diatas ‘Maha-nya’, sehingga menjadi mahasiswa yang intelektual, kritis, dan berakhlak mulia.

Namun seringkali kita selalu keliru dalam menyikapi permasalahan seperti ini. Dimana sebagian orang langsung melakukan tindakan ‘Demonstrasi’ sebelum melakukan ‘Negosiasi’. Padahal kita sudah mempunyai penampung aspirasi mahasiswa yang notabenya mereka dipilih untuk mewakili serta menyampaikan semua kegelisahan dan permasalahan yang dirasakan mahasiswa.

Apa gunanya mereka? Padahal melalui mereka merupakan langkah awal yang mestinya memecahkan dan berdiskusi dengan pihak birokrasi guna mencapai satu titik temu. Tapi apakah mereka sudah berfungsi sebagaimana mestinya yang telah diamanahkan oleh masyarakat kampus dan birokrasi?

Pertanyaan di atas selalu memicu yang namanya demonstrasi mahasiswa. Karena memang, aspirasi mahasiswa tidak tersalurkan. Inilah yang membuat mahasiswa kritis selalu turun aksi untuk memperjuangkan hak dan menuntut keadilan bagi mereka yang tertindas bahkan tersakiti karena tak kunjung dapat solusi.

Akan tetapi, apakah ‘Demontrasi’ adalah langkah awal untuk mencari solusi?  Apakah ini akibat dari ‘Demokrasi’?  Atau mungkin hanya tau bertindak tanpa tahu atauran dalam ‘Demokrasi’?

Penulis, mahasiswa kritis, mahasiswa apatis, pihak birokrasi, dan bahkan semua orang mengetahui bahwa segala sesuatu yang kita jalani mempunyai tahap yang memang harus ditempuh secara bertahap. Begitu pula dalam mencari solusi masalah yang bertebaran di kampus, harus melalui tahap-tahap ‘Demokratis’.

Penulis adalah Koordinator devisi Informasi dan Komunikasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *