Selamat Menjadi Sarjana

Oleh: Hanifah Muallimah Asran, S.Sos*

SETELAH perjuangan panjang menempuh proses perkuliahan yang melelahkan, menguras waktu, tenaga, pikiran, dan materi, akhirnya mereka bisa bernafas lega dengan dibacakannya surat keputusan yudisium oleh Dekan Fakultas dan mendapatkan gelar sesuai disiplin ilmu masing-masing.

Selasa, 10 Oktober 2017 adalah hari yang sangat berarti bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan perkuliahan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Wajah cerah ceria dengan senyum yang merekah, terukir indah di setiap langkah Wisudawan dan Wisudawati. Potret kebahagiaan itu tak lupa diabadikan dalam sebuah gambar dan diunggah pada akun media sosial yang akan dikenang dan dilihat anak cucu di kemudian hari.

Mendapatkan gelar sarjana menjadi hal yang patut dibanggakan ketika berada di tengah masyarakat. Strata sosial menjadi meningkat dan diperhitungkan untuk memasuki dunia kerja yang lebih baik. Ekspektasi menjadi sarjana hanya akan menjadi ekspektasi semata apabila tidak didukung dengan kemampuan atau skill. Misalnya, kemampuan bersosialisasi di lingkungan masyarakat atau cakap beretorika di depan umum, serta yang lebih penting mampu mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama menjadi mahasiswa dan duduk di bangku kuliah. Tidak hanya kemampuan, tapi kemauan yang kuat juga berpengaruh.

Menurut hasil pengamatan dan pengakuan beberapa senior yang telah alumni, biasanya usai acara wisuda dan syukuran yang identik dengan makan-makan bersama keluarga dan teman sejawat, tiga hari kemudian tak bisa dipungkiri kegelisahan mulai muncul dengan pertanyaan “apa yang bisa aku lakukan?”, “masukan lamaran kerja dimana ya?”, “nikah atau S2?”. Kurang lebih pertanyaan semacam itu terlintas dalam pikiran sarjana-sarjana muda. Hingga akhirnya merasa lebih nyaman menjadi mahasiswa dan ingin kembali lagi merasakan suka duka menjadi seorang mahasiswa. Hal semacam ini hanya akan menambah daftar panjang pengangguran di Indonesia, terlebih lagi pengangguran yang berintelektual. Makanya tak heran ketika acara wisuda selesai, julukan “sarjana pengangguran” atau “selamat menjadi pengangguran” menjadi tidak asing lagi untuk didengar.

Pertanyaannya, mengapa setiap tahun pengangguran yang berintelektual semakin meningkat? Apakah lapangan kerja di Indonesia masih sangat terbatas? Ataukah lapangan kerja yang tersedia tidak sesuai dengan keilmuan yang dimiliki sarjana muda? Ataukah kriteria yang disyaratkan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam diri?

Penulis menganggap setiap tahun para sarjana muda yang telah lulus hanya mengandalkan terbukanya lapangan kerja atau informasi mengenai lowongan kerja. Namun, tidak dapat membangun sendiri usaha kreatif yang menghasilkan. Misalnya, membuat kerajinan tangan, membuat cemilan-cemilan seperti kerupuk pisang dll, atau membuka usaha jasa pengetikan makalah, dan sebagainya sesuai dengan bakat dalam diri. Lapangan kerja di Indonesia memang masih terbatas sehingga tak heran masih banyak warga negara Indonesia memilih untuk pergi ke luar negeri dan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ada pula karena susahnya masuk di sebuah instansi atau perusahaan, maka tenaga “orang dalam” sangat dibutuhkan.

Selain itu, tersedianya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan keilmuan yang dimiliki membuat sarjana muda enggan untuk memilih bekerja di tempat tersebut. Berdasarkan pengamatan, beberapa sarjana muda sulit mendapatkan pekerjaan karena kriteria atau syarat yang harus dipenuhi dalam daftar pelamar kerja tidak sesuai dengan keadaan yang dimiliki. Misalnya harus berpenampilan menarik, atau mampu berkerja di bawah tekanan. Tetapi bagi sarjana muda yang memiliki penampilan yang lumayan dan bermental baja, syarat maupun kriteria tersebut tidak menjadi penghalang.

Solusinya, bagi sarjana muda yang sedang kebingungan mencari lowongan pekerjaan (termasuk penulis), ada baiknya untuk sementara maupun jangka panjang membuat usaha kecil-kecilan yang mandiri dan kreatif. Jadi dari usaha tersebut dapat membuka kesempatan baru bagi masyarakat lainnya, sehingga terciptalah lapangan kerja baru. Selain itu, pendekatan dengan orang yang berpengaruh juga dibutuhkan untuk memudahkan kita dalam proses mencari pekerjaan. Perbanyak relasi atau kawan dan menjaga silaturahim, karena biasanya informasi seputar dunia pekerjaan bisa didapatkan dengan mudah melalui hubungan relasi yang luas dan terjaga dengan baik.

Poin penting dalam mengambil sebuah langkah menuju kesuksesan dan kebahagiaan adalah menentukan prioritas utama. Apa yang telah menjadi prioritas utama tentu saja menjadi motivasi yang kuat bagi kita untuk menjalani roda kehidupan. Dari setiap prioritas utama itu adalah keluarga dan impian terbesar kita. Setelah menentukan prioritas, fokus dan lebih pedulilah terhadap prioritas tersebut. Hidup hanya sekali, maka bijaklah menggunakan waktu. Lebih mementingkan hal-hal kecil hanya akan membuat waktu berlalu dengan sia-sia dan tak ada tempat lagi bagi hal-hal yang menjadi prioritas utama.

So, selamat atas gelar dan prestasi yang telah dicapai. Setelah semua, ini mulailah menentukan prioritas atau mengejar prioritas tersebut.

Penulis adalah mantan koordinator Devisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LPM Qalamun 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *