Home Kolom Literasi Suara dari Marjin; Literasi Sebagai Praktik Sosial

Suara dari Marjin; Literasi Sebagai Praktik Sosial

0
0

Oleh: Rohmat Yani*

Salam Literasi !

Saya berharap, kita tidak berkecil hati dan atau malah jadi labil dengan hasil survei yang dilaksanakan United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) terhadap peringkatan literasi internasional. Sekalipun miris memang jika melihat posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut.

Ternyata saya baru berpikir lagi menyoal posisi literasi bangsa kita kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga yang tergolong negara berkembang, di Asia. Saya mengira-ngira, diantara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi di negeri ini, salah satunya adalah sifat “malas” yang masih berkelakar dalam jiwa manusia bangsa kita. Bahkan saya tidak bisa jamin, kaum akademik yang akan dan telah menyandang gelar sarjana yang ditandai dengan penembahan beberapa huruf di belakang namanya, dapat memiliki budaya literasi yang baik. Bahkan salah satu bagian dari literasi, yaitu membaca, belum tentu sudah menjadi budaya yang mengakar pada keseharian mereka.

Mungkin saya bisa jadi salah ketika mengatakan penyakit literasi itu ada pada kecenderungan tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.

Suara dari Marjin; Literasi Sebagai Praktik Sosial, karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini bisa dibilang awal mula dari ulasan baru tentang dunia baca-tulis, literasi, interaksi pengetahuan, dan cara berpikir.

Buku yang menurut saya, desain sampulnya sederhana ini, isinya sangat tidak sederhana, karena buku ini risetnya sangat dalam dan referensi buku yang lumayan.

Di bab pertama, saya menemukan pembahasan kompleksitas literasi dan mengurai perkembangan kajian literasi yang terkini, yaitu melalui pendekatan kajian literasi baru yang menekankan pada etnografi yang lebih mampu merepresentasikan budaya serta lebih kuat melibatkan partisipan.

Di bab kedua, saya melihat kerangka pemahaman Sofie tentang literasi, dimana Sofie memutuskan memilih dan berkenalan dengan praktik literasi anak jalanan yang sering di pandang tidak literet. Perspektif ini mambantu saya dalam memahami kerangka analisis Sofie terhadap aktivitas literasi partisipasi kunci yang disajikan pada bab selanjutnya.

Pada bab ketiga, saya menemukan trajektori literasi Pratiwi yang menjadi dasar penyemaian konsepsi tentang literasi dan pemilihan partisipan buruh migran di Hongkong.

Sedangkan pada bab keempat, saya mendapat penegasan peran literasi sebagai medium untuk mengukuhkan identitas kaum marginal yang menunjukkan betapa tulisan dan kegiatan menulis memungkinkan buruh migran dan anak jalanan menciptakan identitas posisional atas dirinya. Pratiwi menganalisis tulisan buruh migran dan membingkainya dalam kerangka pemahaman mereka tentang situasi yang mereka hadapi. Melalui wawancara dengan partisipan buruh migran, Pratiwi menganalisis konstruksi mereka tentang identitas serta pemaknaan mereka tentang status dan relasi sosial mereka. Demikian pula Sofie, juga menganalisa peristiwa literasi ketika partisipan anak jalanan menuangkan gagasan mereka tentang cita-cita. Tulisan mereka dikaji dalam konteks makna aktual cita-cita anak jalanan dalam sistem kebijakan pendidikan dan norma masyarakat yang memarginalkan anak jalanan.

Pada bab kelima, saya juga menemukan hal yang baru, bagaimana mengkaji literasi dapat memberikan ruang bagi buruh migran dan anak jalanan untuk mendaya gunakan kapital budaya dan teks kultural dalam kegiatan menulis dan menggambar. Bab ini mengikuti pengalaman seseorang buruh migran dalam berjuang meretas kemiskinan dan pada saat yang sama, menentang stereotip sosial tentang buruh migran. Dengan kerangka konseptual yang sama, Sofie mendokumentasikan kegiatan literasi seorang anak jalanan yang dianggap tidak tertarik untuk belajar, namun mampu bercerita banyak melalui kegiatan menggambar. Bab ini memaparkan konsepsi bahwa kaum marginal bukanlah orang-orang yang kalah dan terbelakang. Mereka memiliki sumber daya dan cara yang unik dalam mengkonstruksi dan mengukuhkan identitas sosial.

Bab keempat dan kelima menjadi dasar pemaknaan konsepsi baru tentang literasi yang kontekstual dan autentik, yang sebelumnya belum ada di kepala saya. Pemahaman ideologis soal literasi kaum marginal ini, memberikan alternatif bagi model literasi yang mendominasi dunia pendidikan saat ini yang dijadikan tolak ukur literetnya suatu kaum.

Pada bab keenam, memandu saya untuk membumikan konsepsi literasi ideologis ini, dalam mengembangkan model literasi lokal dan memberikan arahan praktis bagi perumus kebijakan, pegiat literasi, serta pendidik yang peduli terhadap upaya memberdayakan masyarakat.

Bab ketujuh sebagai penutup, saya menemukan ajakan untuk merefleksi dan melihat kembali arah gerak literasi  di Indonesia.

Suara dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di sini literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas. Tapi jauh dari itu, literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa. Dan itu sebenarnya yang terpenting menurut saya.

Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca. Buku ini memantik saya untuk merenungkan kembali literasi, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia.

Akhirnya saya berkesimpulan, data dari pemeringkatan literasi dari Unesco, saya tidak peduli. Karena menurut saya bangsa kita sudah sangat terliterasi dan yang menjadi PR adalah bagaimana cara mendampingi setiap kaum masyarakat dan menumbuhkan relasi agar model-model literasi di setiap kaum masyarakat yang satu dengan yang lainnya, dapat diberdayakan. Sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang memiliki literasi autentik dan orisinil, tanpa didikte oleh Unesco sekalipun, dan tanpa menjiplak.

Salam literasi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.