Sarjana Mau Dibawa Kemana?

Oleh Riswandi*

WISUDA adalah momentum yang sangat bahagia bagi para mahasiswa. Dimana hari itu merupakan hari sangat yang ditunggu-tunggu dan tidak pernah dilewatkan oleh setiap mahasiswa di semester akhir di perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Di situlah timbul kebahagiaan dalam hati, selama dalam perjuangannya ingin mendapatkan gelar sarjana. Dimana topi toga yang diletakkan di atas kepala dan tali dipindakan ke sebelah kanan, dengan begitu resmi dilantik sebagai seorang sarjana. Keluarga, kerabat, saudara, maupun teman-teman dekat, semua ikut memberikan kebahagiaan dan ucapan selamat atas kesuksesannya selama ini.

Namun, di saat kemudian hari, kegalauan hati melanda yang tidak tahu arah, tujuan, dan kepastiannya mau kemana. Bukankah sejatinya di setiap perguruan tinggi baik universitas, institut, ataupun sekolah tinggi khususnya keagamaan Islam mencetak generasi yang unggul dalam ilmu serta berpengetahuan yang sangat luas? Fakta di lapangan mengatakan, begitu menjadi seorang yang mendapakan gelar sarjana, mereka disibukkan dengan aktivitas mencari pekerjaan di berbagai instansi yang tidak menentu.

Gelar sarjana seharusnya mampu mengubah nasib. Memperbaiki kehidupan serta memajukan bangsa dan Negara. Pendidikan mengubah generasi bodoh menjadi pintar, cerdas, berwawasan, dan memiliki daya saing. Selain itu juga berketerampilan dan berkontribusi di tengah masyarakat untuk menjadi solusi atas masalah bangsa, bukan malah menimbulkan masalah bagi bangsa.

Selama ini, pandangan masyarakat bahwa selembar ijazah dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana, merupakan kunci yang mutlak untuk memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Namun, seiring makin banyaknya sarjana yang dihasilkan baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta saat ini, ijazah layaknya selembar kertas yang tak ada artinya.

Hal tersebut dapat dilihat dari setiap tahunnya, tak sedikit perguruan tinggi di Indonesia meluluskan ribuan sarjana baru dari seluruh pelosok nusantara. Tingginya angka pengangguran sarjana menjadi masalah dan penyakit di negeri ini. Sebagian besar lulusan perguruan tinggi hanyalah bercita-cita menjadi pencari kerja dan jarang bercita-cita untuk menciptakan lapangan kerja.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2014, terdapat pengangguran sebanyak 7,39 juta orang di Indonesia. 398.298 orang adalah yang saya dapatkan di setiap tahunnya. Kasus ini wajip memperoleh perhatian dari barbagai pihak terkait, baik pemerintahan, perguruan tinggi maupun para mahasiswa yang tetap dalam peroses pembelajaran di bangku perkuliahan. Harapan untuk kedepanya bahwa negara Indonesia penuh dengan lulusan yang sangat aktif, kreatif, dan inovatif dalam membangun kemajuan sektor ekonomi yang ada di negara Indonesia.

Data statistik menyebutkan jumlah pengangguran sarjana atau lulusan dari universitas, institut, maupun sekolah tinggi pada Maret 2014 mencapai 470 ribu orang atau  6,14% dari total pengangguran yang mencapai 8,18 juta orang. Gelar dan ijazah bukan jaminan pendamping ke dunia kerja, setidaknya ini tergambar dalam data yang dikumpulkan BPS pada Agustus 2015. Di Indonesia ada 10,5% (799,770 orang) dari total pengangguran yang merupakan alumni perguruan tinggi. Mereka mempunyai ijazah diploma tiga atau ijazah Strata Satu (S1). Dari jumlah itu, paling tinggi 596,252 orang merupakan lulusan universitas yang bergelar sarjana. Perguruan terdidik itu (baik berijazah diploma maupun S1) meningkat dibadingkan tahun 2014 dengan peresentase pengangguran lulusan perguruan tinggi terbesar 9,47% (756.977 orang). (Abbas, dalam kompas.com)

Dalam faktor ini, penulis melihat dan mengamati yang ada di lapangan bahwa, sangat bertentang dengan undang-undang nomor 12 tahun 2012 mengenai pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan kebudayaan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi lain ialah membuatkan sivitas akademika yang inovatif, kreatif, terampil, dan berdaya saing, serta konferensif melawan tri dharma perguruan tinggi.

Pendidikan tinggi bertujuan untuk membuatkan ilmu pengetahuan dan teknologi memperhatikan serta menerapkan nilai-nilai humaniora. Selain itu, Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pasal 27 yang berbunyi tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Itulah alasan yang jelas menegaskan bahwa negara menjamin setiap penduduk untuk mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Melihat keadaan yang di atas, penulis yang kini masih berstatus sebagai mahasiswa maupun pembaca wajib menuangkan paradigmanya dan tak berpasrah diri hanya memiliki ijazah saja. Akan tetapi, wajib membuatkan softskill-nya agar selain sebagai pencari kerja juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Hal yang demikian menurut penulis mampu mengurangi angka sarjana pengangguran dan menolong serta mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Penulis merupakan mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) semester VII Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *