Baksos di Lingkungan Non-Muslim, Jadi Program Akhir DEMA FTIK

LPMQALAMUN.id – Akhir-akhir ini hubungan antar umat beragama mulai renggang karena berbagai isu sara. Demikian ungkapan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Noval Satro kepada LPMQALAMUN.id.

Atas dasar itulah, katanya mereka mengadakan Bakti Sosial (Baksos) di salah satu sekolah terpencil di desa Soi, Marawola Barat, kabupaten Sigi yakni SDN 1 Soi yang  siswanya mayoritas beragama Kristen.

“Sehingga tepat kiranya untuk kembali mempererat tali silaturahim antar umat beragama sekaligus membantu saudara kita di pelosok negeri dalam hal ini pendidikan dan sosial,” jelasnya.

Kegiatan yang bertajuk “Berbagi Mimpi dalam Rajutan Ukhuwah” tersebut dilaksanakan pada Rabu (22/11/2017). Menurut Noval, itulah program akhir dari DEMA FTIK 2017.

Untuk yang Pertama Kalinya

Menurut Kepala SDN 1 Soi, Mahfud mengatakan Baksos ini baru pertama kalinya dilaksanakan di sekolahnya.

“Sebelum-sebelumnya belum ada. Selaku kepala sekolah, saya senang dan bangga karena mahasiswa IAIN mau mengunjungi sekolah pelosok dan berbeda agama dengan kita,” katanya.

Ia mengatakan sekolah yang memiliki 35 siswa tersebut, bangunannya sudah tidak layak pakai. Sudah pernah dikunjungi pihak lain dan akan diberikan bantuan, katanya. Namun, sampai saat ini belum ada realisasinya.

“Saya berharap agar bangunan sekolah ini bisa diperbaiki agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” tambahnya sambil menunjukkan ruang kelas yang roboh.

Urutan ke 8 dari 94 Kota di Indonesia

Dilansir dari viva.co.id, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Setara Institute menggunakan paradigm negative rights, kota Palu berada di urutan 8 dari 94 kota di Indonesia yang dianggap paling toleran.

Dalam riset yang diluncurkan melalui Indeks Kota Toleran (IKT) 2017 tersebut sekaligus untuk memperingati Hari Toleransi Nasional yang jatuh pada Kamis (16/11/2017).

“Jadi di sini kami ingin mempromosikan kota yang dianggap berhasil memperjuangkan toleransinya yang kami nilai dari November 2016 hingga Oktober 2017. Ini bisa memicu kota-kota lain untuk mengikuti perencanaan praktik toleransi,” ujar Halili Hasan, peneliti Setara Institute kepada media.

Kota Palu dalam hal ini diberikan skor 5,80 lebih tinggi dibanding Surakarta yang skornya mencapai 5,70. Skor tertinggi untuk kota paling toleran di Indonesia menurut Setara Institute diraih oleh Manado dengan skor 5,90. (IS/INH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *