Memahami Suhu Politik Kampus yang Memanas

Oleh Ramadhan*

KITA ketahui bahwa kampus adalah miniatur negara terkecil. Dimana di dalamnya civitas akdemika sebagai kesatuan dari masyarakat dalam kampus tersebut. Mereka berproses melakukan aktivitas pembelajaran dan pengembangan individu maupun lembaga dengan sederet visi misi dan cita-cita dari para intelektual muda. Tentunya negara terkecil tersebut tidak luput dari pesta demokrasi untuk merebut kekuasaan sebagaimana pemilihan presiden dalam sebuah negara.

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu dalam sejarah demokrasi mahasiswanya, hampir setiap tahun penuh dengan berbagai macam polemik dan persaingan yang berujung pada menaiknya suhu politik di kalangan mahasiswa. Itu terjadi karena begitu kentalnya politik kampus yang diwarnai oleh sederet aktivis-aktivis yang berpengaruh dari latar organisasi ekstra dan internal kampus. Olehnya, ketika menjelang pesta demokrasi yang akan dilaksanakan bulan Desember 2017 mendatang, sudah terasa begitu hangatnya perdebatan dan pencitraan yang dilakukan. Hal tersebut tidak lain dilakukan oleh para aktivis yang berasal dari lembaga yang nantinya akan bertarung di Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemiluma). Baik lewat media sosial maupun kampanye dihadapan masyarakat kampus pada umumnya.

Saking panasnya suhu politik kampus, sesama mahasiswa saling mejatuhkan. Bahkan menggunakan akun palsu untuk membunuh karakter dari bakal calon yang akan berebut kekuasaan. Salah satu contohnya, berawal dari perdebatan seminar yang akan diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Palu yang akan mendatangkan Fahri Hamzah selaku Wakil Ketua DPR-RI. Akhirnya perdebatan itu berlanjut dengan puluhan komentar oleh para aktivis kampus maupun senior.

Dari hal tersebut, sudah tercermin bahwa lembaga-lembaga mahasiswa baik internal dan eksternal telah mempersiapkan kadernya untuk menduduki jabatan Presiden Mahasiswa. Karena mengingat, waktu pesta demokrasi mahasiswa tidak lama lagi. Banyak cara yang dilakukan oleh lembaga mahasiswa untuk menaikkan popularitas kadernya yang biasa disebut pencitraan. Bahkan untuk menjatuhkan lawan politiknya, tidak jarang saling menjatuhkan lewat cara-cara politik kotornya. Tentunya hal ini menjadi perhatian serius bagi para calon ketua lembaga dan seluruh mahasiswa, karena praktek-praktek curang seperti ini sama sekali tidak dibenarkan. Ini  mencederai nilai-nilai demokrasi.

Okelah, demokrasi memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memberikan pendapatnya. Tapi, kebebasan berpendapat itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Untuk itu, problem ini hampir setiap tahun menjadi polemik di kampus kita. Hal ini akan terus bergulir setiap tahun kalau setiap organisasi masih tetap mempertahankan egonya tanpa memikirkan bahwa bertarung secara sehat itu lebih baik dan lebih mendewasakan. Selain itu, memberikan pembelajaran kepada kader di bawahnya tentang pentingnya kejujuran agar menjadi petarung yang siap fight. Bukan malah menjadi pengecut yang menjatuhkan pamor dan membunuh karakter lawan politiknya dengan mencari-cari kesalahannya.

Dengannya, penulis menaruh harapan besar untuk demokrasi di kampus kita, tidak lagi diracuni dengan hal-hal seperti ini lagi. Politik pada dasarnya itu suci, karena politik adalah alat untuk mendapatkan kekuasaan. Politik bisa jadi buruk dan kotor jika pelaku politiknya tidak punya akhlak, karena politik tidak memandang engkau rajin sholat dan sering di Masjid. Atau kau seorang preman tapi prilakumulah yang mampu meluruskan dan mengembalikan kesucian politik dan demokrasi yang sesungguhnya. Karena sejatinya, mahasiswa sebagai seorang intelektual muda dan calon cendikiawan muslim yang akan menjadi pemimpin di masa datang. Maka seharusnya kita menyadari kekhilafan diri dan banyak mengintropeksi diri. Dengan begitu kita tahu bagaimana hakikat hidup yang sesungguhnya.

Penulis merupakan mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, semester V.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *