Kegagalan Mahasiswa Menjaga Idealisme dan menentukan Orientasi Pergerakannya

Oleh Ramadhan*

Mahasiswa dalam sejarah bangsa ini, sangatlah berpengaruh dalam merekonstruksi sebuah peradaban. Dari keterpurukan pemimpin yang zalim, yang cenderung otoriter demi menjalankan dan mempertahankan status quonya.

Mahasiswa dengan segala identitasnya terabdikan dalam gerakannya. Seperti yang selama ini diagung-agungkan dalam sejarah kemahasiswaan bahwa mahasiswa sering disebut Agent of change (agen perubahan), Moral of force (penegak moral), Social control (pengontrol sosial) dan seterusnya. Labelitas seperti itu telah mendarah daging dalam diri mahasiswa.

Tapi apakah dengan identitas yang melekat kepada mahasiswa itu sudah termanifestasikan dalam pergerakannya? Yah, mungkin kita ketahui bersama dulunya Mahasiswa mampu menumbangkan orde lama dan orde baru. Hal ini di karenakan musuh Mahasiswa hanyalah satu dan jelas didepan mata. Tetapi hari ini, setelah pasca reformasi begitu banyak musuh musuh mahasiswa yang tidak jelas. Sehingga perlu kiranya Mahasiswa mempunyai beragam varian pergerakannya baik internal dan eksternal kampus. Karena di tengah sulitnya menentukan orientasi pergerakannya, mahasiswa di ‘jaman now’ ini harus juga merekonstruksi pergerakannya.

Gerakan yang di maksud adalah untuk pelecut pembangkit gairah pergerakan mahasiswa. Di situlah organisasi internal dan eksternal kampus harus menciptakan kompetisi yang mendorong mahasiswa untuk berprestasi dan berkarya bagi umat dan bangsa.

Begitu pun dalam dunia kampus. Seharusnya kampus harus memberikan kebebasan penuh untuk mahasiswa menambah pengetahuannya. Sehingga, ia dapat menjaga idealismenya sebagai agen of control dan agen perubahan. Tapi, sayangnya hari ini Mahasiswa cenderung pragmatis dan apatis dalam menentukan orientasi gerakannya. Mereka terjebak dalam situasi di mana alat perjuangannya yang membuat dirinya pragmatis dan cenderung terlalu jauh masuk dalam pergerakan politik praktis. Sehingga, fungsinya sebagai agen of control terabaikan.

Di tengah situasi itu juga, pergerakan mahasiswa terpuruk dan terjebak dalam sifat apatisnya. Sehingga, para kapitalis-kapitalis memanfaatkan situasi ini dengan meninabobokan mahasiswa dengan berbagai alat teknologi yang sebagian Mahasiswa mempergunakannya hanya untuk ‘bermain Game’ dan kegiatan yang tidak punya nilai edukasi dan perubahan.

Begitu pun dengan elit politik di Negeri ini. Mereka memanfaatkan ketidakberdayaan Mahasiswa, agar lebih jauh terjebak dalam pergerakan semu dan utopia belaka. Dengan menciptakan berbagai macam organisasi kemahasiswaan yang orientasinya menjadi pengabdi untuk kepentingan para elit yang akhirnya menjerumuskan mahasiswa dalam situasi yang hanya mementingkan kepentingan kelompok dan golongannya.

Akhirnya identitas Mahasiswa yang sangat diagung-agungkan itu, hanya sebagai sejarah dan dongeng yang enak didengar, tapi tidak termanifestasikan dalam kehidupannya. Padahal Mahasiswa tidak akan mampu memetik buah revolusi jika idealisme pergerakan mahasiswa tidak diadopsi sebaga visi dan misi umat. Padahal, tingkat kepercayaan umat terhadap mahasiswa turun drastis. Wajar, dan tidak bisa disalahkan. Realitas yang ada menunjukan kebanyakan pergerakan mahasiswa saat ini hanya berujung pada pragmatisme pergerakan.

Oleh karenanya, mahasiswa harus kembali ke khitah perjuangannya yang  dahulunya sangat berpengaruh terhadap peradaban bangsa ini. Mahasiswa harus berani berfikir progresif dan revolusioner agar menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik. Sudah saatnya Mahasiswa bangkit dari keterpurukan dan mendidik dirinya untuk menjadi seorang pelopor perubahan sebagaimana identitasnya. Dan juga, mahasiswa lebih kreatif lagi menciptakan varian gerakannya yang jauh dari pragmatisme dan terjebak dalam politik praktis agar idealismenya tetap murni sebagai control sosial. Dengan tetap menanggapai isu-isu yang ada dan juga tetap seperti mahasiswa adanya dengan terus belajar, berdisukusi, menulis, dan mengaplikasikan identitasnya di tengah-tengah masyarakat.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) semester V Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *