Home Kolom Literasi Masyarakat Kampus dan Idealismenya

Masyarakat Kampus dan Idealismenya

0
0

Oleh Ramadhan*

KAMPUS adalah aset besar yang selalu dijadikan sebagai lahan perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Orang-orang yang berada di dalam kampus adalah orang-orang yang akan siap untuk melakukan suatu perubahan.

Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, sering mengharapkan adanya suatu perubahan ditengah-tengah mereka dari kaum intelektual ini,  karena mereka menganggap bahwa kampus adalah sebagai sarana dalam mengembangkan diri dan berbagai kreativitas untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih baik.

Kampus juga sering dianggap sebagai lahan bagi perkembangan orang-orang yang juga memiliki idealisme. Idealisme dalam artian kekuatan yang ada pada diri seseorang untuk membawa dirinya kepada suatu kemajuan, terlepas apakah idealisme itu shahih atau justru sebaliknya, menyesatkan.

Dengan adanya idealisme ini, yang akan membawa kampus tersebut mengalami kemajuan. Dalam kehidupan kampus, didalamnya terdiri dari berbagai kalangan intelektual, mulai dari mahasiswa, dosen, para staf pegawai, birokrat dan juga pihak rektorat.

Bahkan para pakar, seperti pakar pendidikan, pakar sains dan teknologi, dan pakar-pakar yang semua dengan mudah dapat dijumpai disini.

Sebagaimana juga diketahui, gerakan-gerakan mahasiswa juga sangat berkembang dikampus. Umumnya mereka yang menyandang status mahasiswa belum merasakan menjadi mahasiswa sesungguhnya jika ketika mereka mengecam pendidikan dikampus tidak ada kegiatan yamg mereka ikuti.

Gerakan-gerakan yang muncul banyak sekali, mulai dari yang hanya sebatas bergerak di bidang kajian, penelitian ilmiah, bahkan mereka yang bergerak dalam suatu gerakan ekstrem.

Berbagai macam lembaga ini yang menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengembangkan berbagai kreativitasnya, dan sebuah gerakan adalah sarana yang sangat strategis untuk mencapai tujuan yang hendak diraih.

Banyak orang mengatakan, bahwa mahasiswa adalah agent of change atau agen perubahan. Artinya, setiap perubahan yang terjadi di masyarakat, baik perubahan itu parsial ataupun secara total pasti melibatkan para calon intelektual ini. Kita dapat melihat, bagaimana perjalanan sejarah bangsa ini.

Mulai dari deklarasi sumpah pemuda, kasus rengas dengklok, kasus pergantian rezim orde lama ke orde baru, kasus penghapusan larangan jilbab, dipastikan mahasiswa adalah sebagai penggeraknya.

Demikian juga jatuhnya rezim orde baru, yang diawali oleh serentetan aksi massa sejumlah elemen gerakan mahasiswa yang ada di Jakarta dan daerah-daerah lainnya. Menjadi agent of change bagi sosok para intelektual ini memang sebuah keniscayaan. Namun pada faktanya yang terjadi, potensi kampus untuk menuju perubahan seringkali tidak jelas. Dalam artian perubahan yang dilakukan terkadang justru jauh dari apa yang diharapkan.

Karena perubahan yang terjadi terkadang bukanlah perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi justru sebaliknya menjadi lebih buruk. Dengan potensi kampus sebagai agent of change, ini juga yang menjadi modal bagi asing untuk menguasai kampus dengan berbagai potensi yang dimilikinya.

Asing sangat menyadari bahwa kampus adalah lahan strategis untuk memuluskan cita-cita mereka. Kita bisa melihat bagaimana upaya yang mereka lakukan untuk dapat menguasai kampus, terutama kaum intelektualnya dengan jalan menguasai kebijakan-kebijakan yang ada. Jiwa muda, idealisme yang dimiliki, rasa ingin tahu yang luar biasa ini yang dimanfaatkan oleh asing.

Kampus menjadi sasaran utama memuluskan semua agenda-agenda mereka untuk semakin mengokohkan penjajahan mereka. Berbagai kebijakan yang ada sangat sarat sekali dengan kepentingan-kepentingan mereka.

Selain itu dilihat dari sisi lain seiring berkembangnya zaman, idealisme sebagian besar Mahasiswa sudah luntur dengan sifat keapatisannya, Mereka kuliah semata mata hanya mengejar nilai saja, dan mementingkan pribadinya tanpa memikirkan bagaimana teman sekelasnya yang mungkin kesusahan dalam membayar spp dan mėmbiayayai perkuliahannya, belum lagi masyarakat diluar sana yang membutuhkan penerapan ilmu yang kita sudah pelajari dikampus untuk merubah tatanan masyarakat kearah lebih baik, dan bahkan masyarakat sangat membutuhkan kėkritasan Mahasiswa untuk mengkaji dan menyuarakan aspiråsi masyarakat yang tertindas dan merasakan ketidak adilan dari kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat. Inilah fungsi dari peran Mahasiswa yang dikatakan sebagai agen perubahan dan control sosial. Bukan malah mementingkan diri sendiri.

Untuk itu marilah kita berbenah diri dan mengapikasikan peran seśungunya seorang Mahasiswa sebagai agen perubahan untuk merubah tatanån masyarakat dan Negara kita menjadi Negara yang sejahtera terbebas dari penindasan, penjajahan dan ketidak adilan menjadi Ňegara yang ďcita citakan oleh bapåk proklamator kita yang tertuang didalam ajaran Trisakti, yaitu Berdaulat di bidang Politik, Berdikari (mandiri) di sektor ekonomi, dan berkepribadian budaya. Sehingga dari konsep ini akan melahirkan keadilan, kesejahteraan, hilang’a penindasan dan penjajahan dari pihak asing.

 

Penulis adalah mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI) semester V Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Tulisan telah dipublikasi di terbitan cetak Qalamun Edisi IX, September 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.