Home IAIN Palu Membangun Akal Sehat dengan Toleransi Antar Umat Beragama

Membangun Akal Sehat dengan Toleransi Antar Umat Beragama

2
0

Pada dasarnya di era sekarang agama dijadikan sebagai tolak ukur dalam membedakan sesama manusia, memandang manusia tidak seusai dengan kodratnya. Agama dijadikan acuan atau alat untuk menghancurkan agama lainnya bahkan menimbulkan kebencian dari permusuhan antara umat beragama. Sudah tepatkah pernyataan itu? Haruskah kita menerima pernyataan ini?

Perbedaan jangan sampai membuat negara ini terpecah belah, karena perbedaan ini anugerah tuhan yang maha kuasa, perbedaan ini membuat negara ini di kenal oleh orang-orang asing. Coba kita cerna lebih dalam, berapa agama di indonesia, berapa provinsi, berapa kabupaten, berapa kacamatan, beberapa desa dan suku? begitu banyak perbedaan di Indonesia, hal ini jangan sampai di mamfaatkan oleh orang- orang yang ingin mempecah belahkan kesatuan bangsa kita, jangan mudah terprovokasi, jangan mudah dipengerahui untuk memisahkan, untuk melepaskan keeratan perdamaian NKRI yang telah di eratkan perbedaan dengan menggunakan akal sehat, untuk menjaga keeratan ini. Maka dibutuhkan adalah toleransi.

Pada hakikatnya semua agama, suku dan daerahnya di Indonesia mengajarkan toleransi, kasih sayang dan saling peduli dalam perbedaan-perbedaan tersebut yang membuat indonesia kuat, sehingga penganut suatu agama memiliki keyakinan bahwa agama yang di anutnya suatu agama memiliki keyakinan bahwa agama yang di anutnya merupakan agama yang benar baginya, disinilah peran besar toleransi dan akal sehat sebagai senjata dan penengah tercipatnya perdamaian antara umat beragama.

Oleh karena itu. Alangkah baiknya kita hadirkan dokrin dan toleransi bahwa agama itu merupakan pemersatu bukan pemecah belah. Jauhi doktrin atau theologi yang mengajarkan hal –hal keliru yang menjadikan agama sebagai alasan untuk membunuh, hal ini merupakan kekeliuran yang sangat fatal, karena itu bukan prinsip dari semua agama di Indonesia

Sekali lagi mari kita tegaskan, hadirkan toleransi, bentuk jiwa toleransi dalam jiwa sanuri bari kita, untuk menjaga kesatuan dan perbedaan tersebut. Terkadang muncul pertanyaan dalam diri kita, kenapa tuhan menciptakan perbedaan seperti suku-suku di Indonesia?. Tak lain agar negara yang kita cintai ini direkatkan dengan perbedaan tersebut menerapkan hidup saling berdampingan menghasilakn hidup yang berdinamika secara realika.

Dalam kehidupan nyata harus di tanamkan bahwa agama bukanlah alasan untuk melakukan ekstrimisme radikalisme dan terorisme. Contoh nyata yang saya temukan di luar Sulawesi, yang mana mereka berbeda agama, berbeda suku, dan tinggal dalam satu lingkungan . namun, hidup damai dan harmonis, yaitu lombok. Disana sungguh luar biasa kuatnya toleransi yang membangun, tidak pernah mendengar peselisihan kekacauan dan bentuk kriminal lainnya. Padahal terdiri dari agama dan suku yang berbeda, bahkan dalam satu kampung terdapat empat agama yang berbeda yaitu: Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Istimewanya lagi di salah satu daerahnya yang mana semua agama di Indonesia ada di dalamnya, sehingga muncul pertanyaan di benak saya apa yang membuat masyarakat tersebut hidup rukun, damai dan harmonis?. Salah satu dari sekian banyak pembelajaran yang saya dapatkan di kegiatan tersebut adalah mereka menomor duakan moderat dan toleransi, akan tetapi mereka menempatkan kata persaudaraan di nomor satu.

Indonesia terbentuk menjadi negara, diakui merdeka bukan karena Bugis , Kaili, Jawa, Madura. Indonesia merdeka karena bersatunya umat beragama, bersatunya suku-suku di Indonesia dari sebutkan bumi nusantara. Ini menjadi bukti bahwa toleransilah, moderatlah dan persaudaraanlah yang maupun melumpuhkan, membakar dan memusnakana sifat- sifat egois antara suku–suku dan agama.

Indonesia di ibaratkan kapal yang sedang berlayar terombang-ambing di tengah laut kemana kapal ini harus berlabu, kapal tersebut tidak bisa mencapai tujuannya jika orang- orang yang berada di dalam kapal tersebut tidak bersatu dan bekerja sama dalam memikirkan kemana kapal tersebut harus berlabu. Maka dari itu para petugas kapal mulai dari ABK NAVIGATOR, NAHKODA DLL. Harus sinkron dan menciptakan menejemen konflik dalam mengarahkan kapal tersebut, sehingga kapal tersebut dapat berlabu sesuai tujuannya. Begitupun dengan indonesia untuk saat ini untuk mencapai Indonesia merdeka harus bekerja sama mengesampingkan perbedaan menjunjung tinggi toleransi dan akal sehat.

Nahkoda di ibaratakan agama di Indonesia, ABK diibaratkan suku di Indonesia dan NAVIGATOR diibaratkan pedoman atau prinsip aturan dari agama- agama dan suku suku di Indonesia sehingga indonesia menjadi bangsa yang kuat dan seimbang dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia.

Jika kita sadar arti perbedaan dengan menggunakan akal sehat tak perlu di ragukan lagi tidak akan kacau balau. Karena meyakini perbedaan itu merupakan perekat untuk menyatukan Indonesia, tidak akan ada yang namanya ekstrimisme, radikaisme dan terorisme yang mana ketiga doktrin tersebut beranggapan bahwa hal itu merupakan jihad di jalan Allah, Padahal itu tindakan atau jalan yang salah untuk ditempuh, karena hal tersebut tak akan pernah di ajarkan dalam agama slam ataupun agama lainya. Berjihadlah sesuai porsinya dan sesuai agamanya masing- masing karena kita meyakini tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

Jadikan perbedaan ini sebagai perbedaan yang merangkul bukan memukul. Jadikan perbedaan ini sebagai perbedaan yang menimbulkan rasa saling mencintai bukan saling mencaci, ciptakan pendidikan akal sehat di muai dari kesadaraan diri sendiri. Wujudkan Islam rahmatan lil alamin yang identik dengan toeransi, moderat dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan, maka hadirlah kebahagiaan, keharmonisasian, keindahan di antara umat beragama di Indonesia. Damai Indonesiaku.

Ditulis oleh Sultan, mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi Syariah. (Alumni Lombok youth camp for peace leader 2018 Angkatan pertama)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.