Ini 4 Tuntutan Terkait Sengketa Warga Tanjung

LPMQALAMUN.id-Aliansi mahasiswa dan berbagai organisasi masyarakat lainya bersama-sama turun mengecam dan mengutuk penggusuran tanah yang dilakukan oleh aparat hukum di daerah Tanjung, Kabupaten Banggai.

Penggusuran yang dilakukan oleh aparat hukum membuat masyarakat kehilangan tempat tinggalnya dan mata pencaharian masyarakat setempat.

Aksi penolakan yang dilakukan oleh masyarakat luwuk khususnya di daerah Tanjung dibalas gas air mata oleh kepolisian setempat. Hal itu membuat masyarakat menjerit dan menangis atas tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Atas kejadian itu Aliansi mahasiswa dan Ormas yang ada di Palu, Sulawesi Tengah turun untuk mengecam dan mengutuk segala kejadian yang ada di Kabupaten Banggai khususnya di daerah Tanjung, Selasa (20/3/2018).

Aksi solidaritas dan aliansi mahasiswa ini dilakukan di tiga titik yaitu kantor POLDA Sulteng, kantor gubernur, dan DPRD Palu. Namun, ketika masa hendak ingin masuk ke gedung Gubernur seluruh aparat di dalam gedung tidak ada keluar sehingga tidak ada yang bisa ditemui.

Hasilnya hanya kantor POLDA Sulteng dan kantor DRPD Provinsi Sulawesi Tengah yang bisa diduduki oleh masa untuk menyampaikan orasi dan gugatan mereka.

Adapun tuntutan masa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa dan organisasi masyarakat (ORMAS) yaitu diantaranya:
1. Turunkan Herwin Yatim sebagai bupati banggai dan selamatkan warga Tanjung.
2. Tarik semua personil keamanan di daerah sengketa dan copot Kapolres Banggai.
3. Kembalikan tanah warga Tanjung.
4. Bebaskan masyarakat tanjung yang saat ini ditahan.

Seperti yang diketahui bahwa ada 26 warga tanjung yang ditahan oleh polisi karena melakukan aksi perlawanan dan menghambat proses penggusuran rumah-rumah warga.

Dari sumber yang didapatkan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyebutkan, akibat putusan pengadilan itu, sekitar 200 unit rumah warga dan 343 keluarga yang terdiri dari 1.411 jiwa menjadi korban penggusuran sepihak.

Akibat pergusuran itu juga, masyarakat yang tergusur terpaksa harus tinggal dipuing-puing bangunan rumah mereka yang sudah rata dengan tanah seperti dilansir dari CNN Indonesia.

“Kami dari mahasiswa IAIN Palu siap melakukan aksi lanjutan ketika tuntutan kami tidak dipenuhi, bahkan kami akan menggerakkan lebih banyak lagi personil ketika kasus ini tidak ditindak lanjuti oleh aparat hukum dan pemerintah setempat,” ujar Presma IAIN Palu, Taqdir saat menyampaikan tuntutan masa.

Menurutnya, mahasiswa IAIN Palu siap memfasilitasi teman-teman yang akan ikut melanjutkan aksi, ketika tuntutan yang disamapaikan tidak didengar.

“Jika darah adalah bayaran nya kami siap untuk membela kebenaran itu. Allahuakabar,” tegas Takdir.

Wartawan: Irwansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *