Refleksi Reformasi dan Kontenpelasi Kembali Pergerakan Mahasiswa.

20 Tahun sudah kita merasakan angin segar Reformasi, yang mana awal di mana kran-kran demokrasi di buka seluas luasnya, ini adalah hasil dari tetes keringat, darah bahkan nyawa para inteleqtual-inteleqtual muda yang dengan gagah berani melawan rezim otoriter yang selam 32 Tahun berkuasa di Negeri ini.

Reformasi adalah jalan di mana bangsa ini menuju transisi sistem politik Indonesia dari otoritarian menuju demokrasi.

Transisi sistem politik ini juga menjadi harapan besar segenap rakyat Indonesia akan transisi-transisi lainnya.

Mulai dari transisi ekonomi dari kapitalisme Orba menuju ekonomi kerakyatan yang mensejahterakan segala lapisan, hingga sampai kepada transisi kebebasan berpendapat dan keterbukaan informasi yang di masa Orba sangat termarginalkan dan penuh represi.

Cita-cita reformasi yang digulirkan oleh para mahasiawa pada saat itu belum semuanya terpenuhi, karena pada realitanya masih banyak persoalan bangsa.

Kemiskinan, kesenjangan, pengangguran, korupsi, kolusi, nepotisme, ketimpangan hukum dan berbagai problema multidimensi lainnya seakan menjadi badai topan yang tak kunjung henti mendera.

Alhasil Reformasi yang di gaungkan oleh mahasiswa hanya mampu menumbangkan Rezim otoriter atau penguasa pada saat itu, tetapi tidak mencabut persoalan sampia ke akar akarnya karena reformasi hanya bisa menumbangkan penguasa tapi tidak mampu merubah paradigma dari para penyelenggara negara yang korup dan menindas.

Walaupun tumbangnya Orde Baru disebabkan oleh banyak faktor dan mendapat sumbangsih dari banyak aktor, namun kita tidak bisa menafikkan bahwa peran mahasiswa mengambil porsi penting yang tak bisa dipisahkan dari sejarah reformasi Indonesia.

Yang menjadi sebuah pertanyaan besar, dimana lagi peran Mahasiswa hari ini ? dimana jiwa mahasiswa yang dulunya yang mampu menumbangkan rezim orde lama dan orde baru ? Terasa seperti hilang di telan oleh perkembangan zaman dan globalisasi yang acapkali memanjakan sebagian mahasiswa menjadi kaum borjuis kecil yang lupa diri. Ditambah dengan biaya studi yang semakin menggunung akibat penerapan Uang Kuliah Tunggal dan beban masa studi yang semakin dipersingkat (kuliah maksimal 5 tahun) menambah deretan panjang tantangan gerakan mahasiswa masa kini yang lebih berorentasi pada bagaimana bisa cepat lulus kuliah, bagaimana bisa ipk tinggi dan bagaimana bisa hidup tenang tanpa berfikir apa esensi dari peran Mahasiswa itu sendiri.

Padahal sejarah pergerakkan Mahasiswa acap kali menghiasi pergolakan pergolakan yang terjadi di Negeri ini dan selalu tampil terdepan dalam bergerak mengawal roda pemerintahan.

“Beda zama memang beda pula tantangannya” ungkapan ini acap kali kita dengar dalam lingkaran lingkaran diskusi tapi bukan berarti kita harus melupakan sejarah akan keberanian para senior senior kita dan dari sanalah kita bisa mengambil pelajaran bahwa kemenangan dan perubahan hanya bisa di raih oleh orang-orang yang berani dan siap untuk bekorban, yang oleh Pramoedya Ananta Toer yang penulis kutip dari Febri Walanda, Ketua Umum HMI (MPO) Cabang Palembang Darussalam
“dianggap sebagai unsur paling pokok dalam perjuangan melawan Orba Soeharto dan menurutnya ini hanya dimiliki oleh pemuda dan mahasiswa.

Tanpa keberanian, sepintar apapun kita, tak akan ada yang namanya perubahan.

Kedua adalah pengorbanan.
Tanpa adanya kesadaran untuk berkorban dan mengesampingkan kesenangan dirinya, demi kesenangan dan kepentingan orang banyak ini rasanya tidak akan mungkin gerakan mahasiswa akan dapat memiliki gaung yang signifikan.

Ketiga, konsistensi dan semangat kontinuitas dalam menyambung nafas gerakan. “Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar,” (Q.S. Hud : 112).

Lalu yang terakhir adalah daya kreatifitas yang diejewantahkan dalam eksperimen gerakan yang terus tumbuh dan berkembang sesuai tuntutan zaman dan medan perjuangan.

Keberanian, pengorbanan, konsistensi dan kreatifitas. Keempat esensi ini menjadi pembelajaran penting yang bisa kita ambil dari para pelaku sejarah gerakan mahasiswa pra-reformasi” ungkapnya.

Hal ini harus benar benar terpatari di hati Sanubari Mahasiswa, dan menjadikan pengalaman pengalaman yang lalu adalah pelajaran untuk bagaimana bisa memotivasi perjuangan mahasiawa saat ini..

ASemoga segala sesuatu yang kita lakukan menjadi nilai pahala dan ibadah di mata sang pencipta, dan semoga segala tuntutan reformasi secepatnya bisa terealisasi.

Selalu berjuang kawan, karena mati dan hidup kita harus bagaimana di orentasikan ke medan juang.
Karena berkata benar pada penguasa adalah jihad.

Allahuakbar.
Hidup mahasiswa

Penulis Ramadan Mahasiswa IAIN palu.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *