Home Kolom Literasi Ramah Tamah dan Hilangnya Wibawa Senior

Ramah Tamah dan Hilangnya Wibawa Senior

3
0

Pengenalan Budaya Akademik dan Mahasiswa kampus (PBAK)  adalah suatu bentuk perkenalan yang wajib disetiap kampus dan menjadi tradisi disetiap tahunnya, oleh karena itu banyak yang melahirkan catatan-catatan dan peristiwa-peristiwa dalam penerapan edukasinya kepada seorang mahasiswa baru dalam berbagai bentuk pengajaran dan pengabdian menuju langka pembaharuan dalam kampus.

Maka Kesempatan ini saya mengemukakan pendapat yang lebih terbuka didunia kampus dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) untuk lebih mendorong dan bercermin para Mahasiswa baru menjadi pribadi yang berani berdebat dan berdiskusi dan melawan kezoliman dinegeri ini.

Melainkan di acara Rama Tamah PBAK tersebut banyak yang menimbulkan perilaku, etika yang tidak layak dan untuk dipertontonkan dan didikasiakan kepada Mahasiswa Baru.

Sebagaimana wacana yang dilontarkan beberapa petinggi-petinggi yang ada dilingkugan kampus IAIN Palu bahwa calon mahasiswa baru itu harus dididik menjadi mahasiswa yang kritis dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi.

Teriakan hidup mahasiswa, hidup rakyat dan hidup rakyat miskin Kota menggema didalam ruangan auditorium dan dilapangan kehormatan bagaikan teriakan takbir Bung Tomo mampu membangkitkan semangat pemuda dikala itu, ditambah lagi sumpah Mahasiswa yang disuarakan oleh beberapa senior yang membaut Mahasiswa baru terpana dan merinding mendengarkanya.

Sebagai mana Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Palu selalu mengatakan dan menyuarakan kepada Mahasiswa baru “harus betul-betul menjadi mahasiswa yang kritis dan melawan suatu penindasan dan jangan jadikan perkataan dosen sebagai perwakilan tuhan yang tidak bisa dibantah kebenaranya”.

Tibalah puncak akhir kegiatan PBAK tersebut yang dinamakan Rama tamah dan juga sekaligus pengembalian hak bagi setiap mahasiswa baru dan juga dinyatakan sah sebagai mahasiswa IAIN Palu. Namun kegiatan tersebut Tidak ada satupun sikap etika dan moral yang baik dipertontokan kepada mahasiswa baru, dikarenakan beberapa senior yang tidak mampu menjaga wibawah kepada juniornya. Belum lagi senior yang joget dan memanggil mereka naik kepanggung dan sikap ini yang tidak baik menurut kami . Kita seorang senior boleh mengekspresikan diri dipanggung tapi jangan sampai Mahasiwa baru beranggap senioritas sudah selesai pada saat PBAK tersebut. Semua itu kita tidak inginkan kedepannya sebagai senior, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.

Dan juga himbauwan buat kita semua, bahwa jangan jadikan moment sebagai ajang tebar pesona atau sebagai ajang manaikan elektabilitas untuk dapat terkenal di kampus. Tapi jadikan sebuah moment tanggung jawab kita bersama untuk menyadarkan mereka yang masih tertidur lelap didalam penindasan rezim saat ini.

Penulis: Sandi Adhar

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 5.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.