Doa Suci

*Cerpen*

Penulis: Rahmania Safitri

Jurusan Manajemen Pendidikan Islam

Ini adalah kisah seorang gadis pemalu, baik hati, dan tak sombong. Itu adalah aku, nama ku Fatimah. Anehnya saat aku menulis cerita ini, saat itu juga aku lagi sibuk-sibuknya menyusun skripsiku. Tidak tau apa yang terlintas dipikiranku sampai menulis cerita ini. Tapi disitulah awal kisah ku dimulai, bersama seorang pria yang aku idamkan.
15 Agustus 2017.
Saat itu, aku pusing berfikir bagaimana cara menyususn kata-kata dalam skripsi yang akan ku buat. Jadi ku putuskan mencari referensi dari buku-buku diperpustakaan kampus.
“ Mau ke perpus Ti’ ? “ Tanya sahabat ku Sakinah.
“ Iya nih.. mau cari referensi buat skripsi “ Jawab ku.
“ Yah udah saya temenin aja “ Dengan senyum diwajahnya, sambil menggandeng tanganku menuju ke perpustakaan.
Orang bilang perpustakaan dapat menjawab semua pertanyaanmu, tidak terkecuali jodoh. Tapi bagiku untuk menyusun skripsi, sangat banyak buku referensi yang dibutuhkan. Sudah sekitar 6 buku yang ku dapat dalam waktu 20 menit, kurasa 6 buku sudah cukup.
Dan saat aku menuju meja untuk meletakkan buku ku, entah dari mana datangnya seorang pria menabrakku dan aku terjatuh.
“ aawwwwwwaaa… sakit “ bokongku sangat sakit saat menduduki lantai, apa pria itu terburu-buru sampai harus berlarian di dalam perpus?.
“ Fatimah kamu tak apa ? “ dengan cepat sakinah berada di samping ku dan memeriksa keadaanku.
“ aku tak apa. Hanya saja – “
“ apa kamu baik-baik saja? maafkan aku, aku sungguh minta maaf. Aku agak terburu – buru tadi, sampai tidak melihat kedepan. Sekali lagi aku minta maaf “ Pria itu memotong perkataanku dan meminta maaf dengan wajah bersalahnya.
“ aku tidak apa-apa. Jika kamu punya urusan yang mendesak, kamu boleh pergi “ aku memaafkannya, karena kupikir dia terburu-buru. Aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah.
“ Terima Kasih “ Kata pria itu, lalu pergi.
Aku yang sudah menduduki kursi, mengamati Sakinah yang tengah mengumpul buku ku yang masih berada dilantai. Sakinah beda semester dengan ku, tapi kami akrab sejak kami bertetangga, sebelum dia pindah rumah.
“ Ini buku mu. Semuanya ada tujuh “ Menaruh semua buku dimeja.
“ Tujuh ? “ Tanyaku heran. Karena setau ku hanya 6 buku yang ku ambil dari rak buku.
“ Iya, tujuh. Aku udah ngga bisa nemenin yah, aku ada kelas. Maaf “ Jawabnya sambil mengambil tasnya.
“ okey “ Dengan wajah bingungku. Apa jangan-jangan buku pria itu yang jatuh, dan dia tidak menyadarinya? Mungkin saja.

22 Agustus 2017.
Sudah seminggu aku mencari pria itu, bahkan menunggunya di perpustakaan sambil menyusun skripsi ku. Tapi dia sama sekali tidak terlihat. Kurasa dia bukan mahasiswa di kampus ini.
“ Apa aku tanya sama pihak kampus saja yahh. Mungkin mereka tau siapa peminjamnya “ aku pikir telah mendapatkan jalan keluarnya.
Tapi nyatanya buku ini bukan dari perpustakaan kampus ku. Aku sudah tak tau mau cari pria itu kemana lagi, jadi kuputuskan untuk pulang.
Aku berdiri di halte menunggu bus datang. Karena ayah tidak dapat menjemputku, ayah sibuk dengan kerjaannya. Sore itu, tumben banyak orang yang ingin naik bus. Padahal kalau hari-hari sebelumnya cuman beberapa orang saja. Tidak menunggu lama busnya pun datang. Karena mungkin semua orang punya urusan masing-masing, jadi pada terburu-buru semua. Dan aku pun kesenggol sana sini. Keseimbanganku hilang dan aku jatuh. Belum sempat aku berdiri busnya udah pergi.
“ Kamu ngga apa-apa? “ sontak aku kaget mendengar suara itu. Ada seorang pria berdiri didepanku. Aku yang masih terduduk dilantai halte sambil melihat wajah pria itu.
“ Aku baik-baik saja, terima ka – “ perkataanku terhenti saat mataku bertemu dengan mata pria itu. Ternyata dia pria yang kucari seminggu ini.
“ Kamu yang kutabrak diperpustakaan itu kan? “ kata pria itu.
“ Iya “ jawabku sambil berdiri.
“ sebenarnya aku mau nanya, apa ini bukumu? “ tanyaku sambil menunjukkan buku itu.
“ Iya ini buku ku, makasih yahh. Kamu nemu dimana? “ tanya nya, wajahnya sangat senang melihat bukunya kembali.
“ Bukunya jatuh saat kita bertabrakan diperpus “ Niatku hanya ingin mengembalikan buku itu, jadi kurasa urusanku sudah selesai.
“ Kalau gitu aku duluan yah, busnya udah datang “
“ Kok duluan sih? Kita kan bisa barengan “ Kurasa pria itu ingin mengantarku pulang deh.
“ Ngga usah, makasih yah. Aku naik bus saja “ Dengan sopan aku menolak ajakannya, aku hanya tidak ingin dia tersinggung.
“ Iya aku ngerti, maksudku kita naik bus bareng. Emang ngga boleh yahh? “ Sungguh aku beneran malu, mendengarnya berkata seperti itu.
“ Iya,tentu saja ngga apa-apa, buskan umum bagi siapa aja “ Aku hanya ingin mengendalikan suasana, sebelum wajahku memerah karena malu.

22 september 2017.
Tidak terasa sudah sebulan kami saling mengenal. Sangat banyak yang kami bicarakan sebulan belakangan ini. Haliq nama pria yang menabrakku diperpus sebulan yang lalu. Ternyata Haliq adalah dosen dikampusku, dan dia bersedia untuk membantu menyusun skripsiku. Tau tidak, hari ini lah aku mengumpul skripsiku. Ternyata skripsiku diterima. Aku sangat senang, alangkah baiknya aku memberitahu haliq tentang ini.
“ Halo, Assalamualaikum “ salamku padanya.
“ Waalaikumsalam wr. wb. “
“ Haliq skripsiku udah diterima, katanya bagus. “ aku tidak bisa berhenti tersenyum.
“ Alhamdulillah, syukurlah aku ikut senang mendengarnya “ katanya lega.
“ Fatimah, aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku ingin melamarmu, aku ingin menikahimu. Apa kamu bersedia?, aku serius Fatimah “ Sejenak aku terdiam, Haliq berkata seperti itu padaku. Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku. Please.!!!
“ Jika Haliq serius, bicaralah kepada orang tua Fatimah. Insya Allah orang tua Fatimah akan menerimanya. “ Sungguh ini bukan mimpi, ini nyata.
“ Fatimah tunggu Haliq 3 hari lagi, Haliq akan datang. “
Aku sudah tidak tau lagi seperti apa perasaanku saat ini, semua tercampur aduk. Ada sedih, haru, bahagia, entah apa namanya, aku tidak tau. Tapi aku sangat bahagia. Saking bahagianya, aku ingin membagi kebahagiaanku bersama sahabatku Sakinah. Katanya aku sangat beruntung dan dia akan mendoakan aku agar selalu diberi banyak kebahagiaan oleh ALLAH SWT.
Saat aku sampai rumah, ayah dan ibu malah memelukku. Padahal aku belum memberitahu mereka tentang hal itu. Aku justru bingung dengan kelakuan orang tuaku padaku.
“ Selamat yah sayangku, semoga ALLAH selalu memberikan banyak kebahagiaan untukmu “ Kata ibu sambil memelukku lagi.
“ Apa ibu dan ayah sudah tau ? “
“ Jadi anak kita sudah tau yah ayah? Kalau dia dilamar oleh pemuda yang baik. “ Kurasa ibu sangat bahagia mendengar kabar lamaran itu, aku pun ikut bahagia.
“ Anak ku sangat beruntung, ibu rasa Muhammad adalah pria yang tepat untuk mu “ Sekujur tubuh ku terasa membeku, saat mendengar perkataan ibu barusan. Ternyata bukan Haliq yang ibu maksud, tapi orang lain.
“ Muhammad? Siapa dia ibu “ Aku pasrah, aku juga tidak ingin mengecewakan orang tua ku. Aku bingung harus berkata apa.
“ Dia anak seorang ustad, berbudi luhur baik, dan agamanya mendalam, dan dia lulusan mesir. Ibu tidak tau, kenapa mereka sampai memilih anak kita yah ayah. “
“ Karena ibu rasa kamu bahagia, jadi ibu iyakan. Kamu bahagiakan sayang? “ Ibu sangat bahagia dengan lamaran ini, mana mungkin aku tidak mengiyakannya.
“ Tentu saja aku bahagia bu “ Aku tidak tau ekspresi wajah ku seperti apa, jujur aku sangat sedih. Tapi aku juga tidak mau melihat orang tua ku sedih, cukup aku saja yang rasa.

03 Oktober 2017.
Sudah seminggu lebih Haliq sama sekali tidak ada kabar. Hp nya kadang tidak aktif, kalau pun aktif pasti sibuk. Aku ingin memberitahunya kalau aku sudah dilamar, tapi dia tidak pernah membaca atau pun membalas pesanku. Aku bingung harus bagaimana. Sakinah pun tidak tau keberadaannya dimana, Haliq tidak pernah ada dikampus. Dan besok adalah pernikahanku. Ya Allah tolong bantu hambamu ini.
Sekarang sudah pukul 02:20 malam tepatnya tanggal 04 Oktober 2017. Aku melakukan shalat tahajud. Aku benar-benar meminta kepada Allah agar diberi kemudahan dalam menyelesaikan semua masalah yang tengah aku hadapi, serta diberi kesabaran atas hidup ini.
04 Oktober 2017
Kamarku begitu indah, dengan banyak sekali hiasan yang tergantung di dinding bahkan dilangit-langitnya. Aku duduk di atas ranjang dengan balutan gaun pengantin putih ditubuhku. Sayangnya aku tidak bisa mengeluarkan senyum bahagia diwajahku, saat hari pernikahanku.
Suara keributan yang mengatakan “ SAH “ sangat jelas terdengar di telingaku. Aku tidak percaya, aku sudah sah menjadi seorang istri dari pemuda yang tak pernah kutemui. Ibu menggandengku keluar kamar, dan menyuruhku duduk disebelah pemuda yang sudah menjadi suamiku. Aku tidak tertarik meliriknya, bahkan aku tidak bahagia dengan pernikahan ini.
“ Fatimah istriku “ Aku terdiam mendengar suara itu. Itu suara Haliq, suaranya tepat disampingku. Aku melihat kesumber suara itu, dan ternyata pemuda yang menikahiku adalah Haliq. Lebih tepatnya Muhammad Haliq.
TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *