Rezim Pengkhianat Amanat Reformasi

Opini: Ramadhan
Mahasiswa Jurusan: Management Pendidikan Islam
Semester: VIII (Delapan)

Setiap reformasi menjanjikan perubahan ke arah yang lebih baik, namun apa daya 22 tahun lamanya berjannya reformasi nampaknya cita-cita dan tujuan reformasi malah menjauh dari relnya, semakin berganti rezim maka semakin tidak tercapainya apa tujuan sebenarnya dari reformasi, padahal reformasi lebih merupakan sebuah reaksi atas ketidak mampuan sistem yang berlaku.

Reformasi itu menghendaki perubahan dari suatu kondisi ke arah kondisi yang lebih baik, dari jatuhnya ke otoriteran orde baru di bawah kepemimpinan soeharto oleh mahasiswa dan aktivis yang pro reformasi menghendaki dibukanya kran demokrasi yang seluas luasnya, bahkan bukan hanya itu sistem yang dulu bersifat sentralistik menjadi desentralistik yang mana daerah di beri tanggung jawab untuk mengelolah daerahnya, namun apa daya hari ini di bawah kepemimpinan jokowi, cita cita demokrasi yang menghedaki adanya kebebasan menyampaikan pendapat yang dulunya di bungkam kini kembali seperti kalanya, bukan hanya kritik kepada pemerintah, bahkan ormas yang tidak sejalan dengan ke inginan pemerintah di takut takuti dengan perpu ormas yang kini telah di undang undangkan, pembungkaman terhadap pengkritik pemerintah sangat halus karena penguasa dengan segala kekuatan dan instrumen pendukunganya melegitimasi kehendaknya pada rana kebijakan kebijakan yang mereka keluarkan sehingga ormas, aktivis dan tokoh politik yang tidak pro tidak bisa berdaya untuk melawan kekuasaan, bukan hanya itu pembredelan terhadap tayangan tayangan yang memberikan kritik juga tak luput dapat intimidasi dari penguasa, hal ini bukan menimbulkan perubahan dalam demokrasi kita bahkan kita kembali mundur ke 22 tahun yang lalu.

Kita juga bisa lihat bagaimana beringasnya penguasa hari ini, di sisi lain potensi pelanggaran HAM dan pelemahan supremasi hukum makin meningkat. Beberapa faktor antara lain dikeluarkannya Perppu Ormas, UU MD3, dan RKUHP yang isinya tidak berdasarkan HAM dan keadilan. Selain itu, pasal penodaan agama masih dipertahankan dan menyasar siapapun, kriminalisasi atas tindakan aktivisme dan kebebasan berekspresi masih terjadi, penyiksan [torture] masih menjadi budaya kepolisian sementara Peraturan Pemerintah No. 92 Tahun 2015 yang mengatur ganti rugi terhadap korban salah tangkap tidak berjalan efektif.

Kegiatan menyatakan pendapat dan berkumpul semakin dipersulit oleh kepolisian, SARA menjadi komoditas politik di setiap pilkada bahkan pilpres, ujaran kebencian menguat antar kelompok dan kepada kelompok minoritas. Penggusuran paksa dan perampasan tanah masyarakat adat masih menjadi cara pemerintah dalam pembangunan tanpa mengindahkan hukum dan HAM.

Maka dengan alasan tersebut rezim jokowi-Jk mengkhianti cita cita demokrasi yang sudah berjalan puluhan tahun lamanya, dan mencermati situasi hari ini pasca pemilu serentak 17 April 2019 yang banyak mengambil korban jiwa, indikasi kecurangan yang begitu masif, sehingga menimbulkan kemarahan salah satu pendukung dengan mengeluarkan statment akan melakukan “People Power” untuk memdesak pihak KPU dan Bawaslu untuk memperbaik kinerjanya karena di nilai juga ikut terlibat dalam kecurangan ini, namun oleh rezim yang juga sebagai calon presiden dan kroni kroninya mengangap people power adalah makar sehingga beberapa orang yang mengeluarkan statment tersebut di huruh dan akan di penjarakan.

Hal ini sangat tidak logis rezim seharusnya membuka ruang demokrasi kepada mereka yang merasa terzholimi setidaknya rezim harus turut ikut dalam membantu untuk mecari dugaan kecurangan tersebut, namum apa daya demi mempertahankan status quo maka dengan segenap kekuasaannya menghalangi untuk mencari kebenaran dengan tuduhan tudahan makar bagi lawan politik.

Akhirnya cita cita Demokrasi haruslah mendapat tempat yang baik bagi siapa yang berkuasa demi kemajuan Indonesia kedepannya bukan malah demi kepentingan pribadi dan kelompok mengabaikan cita cita reformasi, karena sejatinya bangsa ini berdiri tidak lahir begitu saja atau hadiah dari orang lain namun berkat perjuangan yang berdarah darah oleh para pahlawan maka seharusnya perjuangan itu menjadi bahan para elit di negeri ini untuk merenung dan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *