Home Opini Tiba-Tiba Menjadi Ahli Segala Ahli

Tiba-Tiba Menjadi Ahli Segala Ahli

188
0

Opini karya
Nama : Muhammad Rasyid Ridho Djupanda
Jurusan : Aqidah Dan Filsafat Islam (FUAD)
Semester : 6

Seorang pendekar yang baru bangun dari tidurnya, berdiri tegak ditengah-tengah kandang singa menantang mautnya, lalu mengatakan ajalnya di tangan tuhan.

Agama sejatinya tidak mematikan akal, namun sebagian penganutnya mengubur akalnya sendiri, agama menganjurkan memerdekakan akal budi namun sebagian penganutnya menjajah akalnya dengan nafsu.

Islam sejatinya agama logis, logis dalam artian islam di pahami atas dasar struktur pengetahuan, bukan dengan nafsu. Ciri orang memahami agama dengan nafsunya, ketika tidak segan-segan lagi menunjukkan taringnya di depan ulama, dan mempublikasikan sendiri kebodohannya.

Hal-hal yang tidak semestinya di kaitkan dengan persoalan aqidah ternyata merembek tanpa kendali. Covid 19/coronavirus harus dihubung-hubungkan dengan persoalan Aqidah dan teologi, yang lebih berbahaya dari virus itu sendiri. kini atribut-atribut dan kosa kata dalam agama di obral tanpa arah.

Ulama yang bergelut pada bidangnya seharusnya dihormati dan didengar hujjahnya, karena yang paling paham masalahnya, paham ilmunya, tafsirannya, aturannya, kaidahnya, namun kini Sayang seribu sayang, banyak orang-orang bagai kera mendapatkan bunga, Bahkan berani menghinanya.

Tong kosong nyaring bunyinya, namun tak malu memasang dada, layaknya seorang anak tk yang teriak kencang mengkritik resep dari dokter. Orang yang tidak tauh apa-apa kini banyak bicara.

Media sosial Bagai pintu tak terpasak, perahu tak berkemudi, Kini media sosial menjadi momok yang mematikan dan mengerikan. Hinaan, hujatan, cercaan, kritik tanpa makna menjadi nafas bagi netizen yang budiman tanpa pandang bulu. Hingga semuanya ingin menjadi ahli segala ahli, layaknya tahu segala hal.

Entahlah apakah pembakang dan tdk membangkang di ciptakan oleh tuhan supaya saling menyeimbangkan, sama halnya seperti dosa dan pahala!?.

Agama yang dulunya sebagai rahmatan lil alamin (rahmat semesta alam), nampaknya mulai ternodai, bukan oleh corona virus maupun agama lain, tetapi yang membuatnya adalah umatnya sendiri, umat yang mabuk dengan agama.

Mereka terlalu sombong dengan ke imanan nya,  seolah olah mereka telah bertemu dengan tuhan dan tuhan telah melabelkan sebuah ijazah untuk mereka masuk syurga, sehingga mereka lupa akan hubungan sesama manusia, yang tidak sepaham dengan dia di anggapnya kafir, bid’ah dan sebagainya.

Tahukah kamu apa yang lebih buruk dari virus corona?,  yaitu seseorang yang telah kecanduan agama, bahkan seorang ulama pun di anggapnya sebagai orang yang tidak paham dengan agama, di hujatnya oleh netizen yang baru lahir kemarin, yang baru mengenal (a, ba, ta, ),.

Pemerintah sekuat tenaga menghimbau dengan bijak tapi tetap saja di abaikannya dengan narasi ” corona adalah makhluk allah, tdk perlu takut kepada makhluk allah, takutlah hanya kepada allah SWT”, mereka tidak sadar bahwa harimau, macan, singa, ular, adalah ciptaan tuhan juga, bagaimana kalau kita jadikan narasinya sebagai tamparan bagi dia ” kemarilah biar aku kandangin kamu, Jangan takut terhadap singa, macam, harimau, dan ular, mereka adalah makhluk ciptaan tuhan, takutlah kepada allah akhi wa ukhti”.

Berhentilah menjadi manusia yang memiliki kebenaran bersifat mutlak, itu hanya akan menodai formalitasmu, tdk ada kebenaran mutlak di dunia ini maupun barang baharu , yang ada hanyalah sebuah kebenaran yang menandakan bahwa adanya kebenaran mutlak.

Jadilah islam yang tidak mematikan akal,  tidak kah engkau mempelajari bagaimana nabi ibrahim mengetahui bahkan mengenal tuhannya menggunakan akalnya!?, lantas mengapa engkau dengan sombongnya mengatas namakan imanmu yang tidak berlandaskan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.