Home Cerpen Mangkuk Perpisahan

Mangkuk Perpisahan

206
0


Cerpen
Karya: Moh Awal
Jurusan: HKI /FASYA
Semester:2

   
    Ibu saya bilang perempuan harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. aku merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan tidak lagi menjadi masalah. Zaman sudah berkembang, teknologi sudah semakin canggih, sekali mengklik, makanan apapun tersedia. Lantas, mengapa ibu masih saja menyuruhku belajar memasak lagi? Terlebih disaat jadwalku benar-benar padat, aku pun sudah berkeluarga. Begitu kataku pada ibu yang  meneleponku siang ini. Ia bersikeras memanggilku untuk memasak. Pekan ini aku ada pertemuan penting sekaligus jadwal operasi, suamiku saat ini dinas di luar kota. Aku mencoba menelepon ibu sekali lagi, menolak ajakannya.

Satu dua kali tidak terjawab, tiga kali ibu pun mengangkatnya

“ Halo, ada apa nak? ” suara ibu tampak samar.

“ Bu, aku tidak bisa ke rumah ibu pekan ini, aku sangat sibuk. Meeting dan jadwal operasi padat, bukan saatnya untuk cuti begitu saja” bantahku menolak ajakan ibu.

“ ………”

Suara  ibu seketika hilang. Lalu muncul kembali

“ Halo? Ibu dengar tidak? ”
“ ya nak, maaf, jaringan kali ya. Tadi kamu bilang apa? ” ibu mengulang pertanyaannya, suaranya tampak aneh, tapi aku tak peduli, mungkin karena jaringan.

Aku menghela napas panjang “ Aku tidak bisa pergi ke rumah ibu, jelas? ”

“ Begitu ya, kalau memang sibuk sekali, lain kali aja, kalau masih bisa usahakan datang ya nak, ibu berharap sekali”

“ Orang-orang juga berharap padaku ibu, alasan mereka lebih penting saat ini ketimbang hanya memasak, aku tidak akan menarik ucapan ku, aku sibuk. Nanti aku telepon lagi ” aku memutuskan panggilan sepihak. Nanti ibu akan terus protes. Merepotkan.

Aku kembali ke kamar pasien mengeceknya dan memastikan kondisi apakah pasien telah dalam kondisi yang memungkinkan menjalankan operasi.

“ Ners, apakah pasien makan satu hari ini? ” tanyaku kepada salah satu perawat pasien itu.

“ tidak dok, dia masih berpuasa, tadi malam aku sudah memberikannya pil, dan mengatur laju infusnya”. Jawabnya

“ baiklah, catat per tiga jam kondisi pasien, jika ada perubahan dari data kemarin, hubungi saya di ruangan dr. Ghani. Saya  memastikan meeting dulu ” pintaku

“ Dok, apa tidak ingin menukar shift operasi saja? Tampaknya jadwal anda padat saat hari H ,  dr. Helen tidak mengikuti meeting hari itu, anda bisa menukar shift menjadi dua pekan depan saat shift dr. Helen”. Ners itu memberi masukan.

“ tidak. Aku yang akan tangani pasien ini” . Ners itu terdiam tidak menanggapi, Ners itu sempat mendengar percakapannya dan ibunya sert hanya ingin meluangkan  dr. Lisa mengunjungi ibunya.

  Hari ini aku meeting pukul 09.00 sampai dengan pukul 15.00 lalu setelah itu dilanjutkan dengan operasi pasien, kemudian mendata beberapa hasil laporan.  Suamiku hari ini juga tiba, aku tidak bisa menjemputnya saat ini. Enam jam telah ku lewati, aku beristirahat sejenak mengecek ponselku, lima belas panggilan tak terjawab? Yang benar saja. Dua kali dari suamiku, sisanya panggilan ibu, apa yang ia pikirkan? Aku kan sudah menolaknya.

Operasi pun berjalan lancar, keadaan pasien membaik. Hanya tunggu waktu pemulihan, pasien sudah bisa pulang kerumah. Cukup melelahkan, aku harus mendata laporan lagi. Pukul 23.30 aku telah menyelesaikan laporan, saatnya bergegas pulang, suamiku pasti menunggu. Kucek kembali ponselku, kali ini dua puluh. Tapi semuanya dari suamiku. Apa mungkin dia marah?

Aku bergegas ke mobil dan pulang dengan khawatir. Mobil telah mantap terparkir di garasi rumah, kulihat suamiku berdiri di pintu rumah menatapku, wajahnya setengah marah dan sedih.

“ Hey, maafkan aku, aku sudah kabari kan kalau hari ini aku padat. ” aku menjelaskan.

“ Ibumu di ruangan operasi , hampir 8 jam kau tahu? ”.

“ Apa? 8 jam ? ibu tidak pernah di operasi selama itu” aku sedikit kaget dengan kabar itu, ini ketiga kalinya ibu di operasi dan selama itu.

“ Lisa, ayo kita ke rumah sakit sekarang . aku takut ibu kenapa-kenapa”

Aku menghela napas panjang. Memang ini keadaan yang genting, namun tubuhku lelah luar biasa, aku tahu ibu akan menyuruhku istirahat jika ia melihatku seperti ini.

“ kau berlebihan, aku lebih mengetahui penyakit ibu, ibu akan baik-baik saja, besok sore kita jenguk ibu ke rumah sakit” aku melangkah berat masuk ke rumah, meninggalkan suamiku yang tak setuju dari raut wajahnya.

“ oh iya sebelum kemari aku sempat mengunjungi ibu di rumah, ia memasakkan sup kesukaanmu, lalu setelah beberapa jam aku tiba, beliau sudah dilarikan ke rumah sakit, kau makanlah itu dulu” pintanya sambil mengeluarkan sup dari lemari penyimpanan.

“ aku capek, mau tidur secepatnya. Sup itu pasti dibuat pada waktu pagi, rasanya pasti sudah tak enak, buang saja, aku akan memasaknya sendiri” aku langsung menuju kamar dan siap untuk tidur.

Keesokan harinya, aku bangun memasak untuk sarapan suamiku, kulihat sup itu masih utuh tersimpan di lemari, aku tak berniat memakannya lagi, aku akan membuat sup lagi untuk kubawa ke rumah sakit. Setelah selesai dengan pekerjaanku, suamiku menjemput untuk pergi mengunjungi ibu, dijalan tiba-tiba aku teringat sup ibu yang lupa ku buang, pasti sudah membusuk di rumah. Ah biarkan saja.

Kami tiba di rumah sakit As-syifa, tempat ibu selalu berobat dan di operasi, kami menuju ke resepsionis menanyakan kamar ibu.
“ Mba, kamar pasien atas nama Halimah, yang baru dioperasi kemarin dimana ya? “ tanyaku.

Staff itu mencari di daftar nama, kemudian ia terdiam,

“ Maaf mba, Ibu Halimah baru saja dipulangkan siang tadi-”

“ ohh ternyata udah keluar ya, yuk mas kita ke rumah ibu aja langsung, sup nya keburu dingin tuh”. Aku berbalik badan berterima kasih kepada staffnya, ia melanjutkan kalimatnya.

“ Mohon maaf mba, Ibu Halimah  59 tahun, hari rabu, jam 23.30 telah berpulang. Jenazahnya dibawa siang tadi ke rumah duka, anda siapanya ya kalau boleh tau mba? Biar saya data”

Sejak saat itu aku tidak mengingat apa-apa. Kata suamiku aku pingsan, lalu dibawa ke rumah duka, aku tidak sadarkan diri sampai ibu dikebumikan, aku menyesal seumur hidupku. Membenci diriku sendiri dan seluruh perkataan ku saat itu, ingin rasanya ku tampar diriku saat itu, yang tidak mengerti tanda-tanda kepergian ibu, tidak sempat memasakkannya untuk terakhir kalinya, dan tidak bertemu dengannya, juga tidak mendampingi sisa-sisa hidupnya, anak macam apa aku ini? Dokter macam apa aku ini!? Aku berteriak sia-sia. Menumpahkan air mataku sebanyak-banyaknya. Aku melangkah tertatih ke dapur, membuka lemari penyimpanan, ku ambil semangkuk sup buatan  ibu, lezat sekali, meskipun dua hari telah disimpan, rasanya tetap lezat.
Itu menjadi sup terakhir ibu, sup terlezat.

sedunia, juga sup penyesalan seumur hidupku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.