Home Cerpen Sang Waktu

Sang Waktu

87
0

Cerpen karya
Nama : Nurul Izzati
Jurusan : PSY
Semester : 4


“Entah apa kelebihan mu hingga banyak orang yang menyukai mu, hanya bermodalkan matahari yang hampir tenggelam, ditemani dengan balutan awan sore, dan sedikit tiupan angin, hanya dengan menyugukan itu kau sudah bisa buat hati pengagum mu tenang, kau buat masalah dari penikmat mu berkurang walaupun kau tak berkata dan memberikan solusi apapun, kau bisa membuat orang-orang tercengang akan pesona mu, banyak orang yang rela duduk dan menatap mu, yahh salah satunya aku, entah apa yang membuat ku duduk dan menatap mu disini ” gumam ku dalam hati seolah mencari jawaban dari tanya ku..

“ apa sii kelebihannya itu langit, sudah hampir sejam kamu duduk disitu udah kali Cuman langit juga ” ujarnya sewot sambil memegang smartphonenya.

“ sampai sekarang kuu pun tak tau, alasan apa yang harus ku berikan apabila pertanyaan itu di lontarkan kembali “ ujar ku dalam hati sambil berlalu meninggalkan Rin yang sibuk dengan smartphone nya.

“ Raa mau kemana sii, ehh ditanya malah pergi gitu aja, apaan sii tu anak gara-gara ini langit kayaknya “ sambil menatap dan menunjuk langit yang sudah mulai gelap.

Dia Rin adik kandung ku, aku tiga bersaudara, aku anak pertama dan, Rin anak kedua, sebenarnya namanya Rina, tapi aku memanggilnya Rin, dan Bayu adalah adik terakhir, anak laki-laki dan anak paling bungsu, yahh dan paling disayang.

“ dari liat senja lagi Raa?? “ tanya bayu yang melihatku lewat di sampingnya.

“ Hmmm” jawab ku singkat sambiil membuka kulkas dan mengambil apel di rak kulkas paling bawah.

“ saya juga punya teman suka dengan senja, tapi tidak sefanatik kamuu juga sii, sudah ku coba tanyakan alasan dia menyukai senja tapi dia bilang “ yahh suka aja” gituu “ menjelaskan sambil mempraktekkan pecakapannya dengan temannya.

“ karena tidak semua hal itu harus ada penyebabnya, dan tidak semua pertanyaan “kenapa” itu ada jawaban “karena” nya faham !! “ jawab ku sambil fokus ke smartphone ku.

“ hmmm terserah cewelah. Capek debat sama cewe ujung-ujungnya cowo juga yang salah “ balasnya pasrah.

“ nahh itu tau “ ujar ku singkat sambil memasang earphone
“ Raa raa Mairaaaaa Nurul Aisyah “ teriaknya sambil melepas earphone dari telinga ku.

“ apa sii yuu santailah, saya dengar kok engga usah teriak gitu kali “ jawab ku jengkel sambil merampas earphone dari tangannya.

“ liat tuu “ sambil mengarahkan matanyaa ke arah kamar mama.
“ apa sii, aahh bapak kenapa maa?? “ ujar ku kaget melihat bapak terbaring didepan mama.

“ bapak maagnya kambuh “ ujar mama pelan sambil memegang tangan bapak.
“ bapak, nurul pergi belikan obat yahh “ ujar ku sambi memegang tangannya yang hangat.

“ tidak usah nakk bapak baik-baik saja kok “ jawabnya dengan suara paraunya.

“ bapak juga sudah minum obat kok, tinggal tunggu reaksinya, palingan sebentar lagi sembuh, cukup istirahat saja ini, tidak usah khawatiir. “ tambah bapak yang mencoba menenangkan ku.

Yahh dia bapak dan mama ku sekarang bapak berkumpul dengan kami sudahh hampir 1 bulan, akibat virus covid 19 yang sudah menjadi pandemi ini, disisi lain ku bersyukur karna, gara-gara penyebaran virus ini bapak bisa punya banyak waktu bersama kami, yang dulunya kami hanya bisa berkumpul 1 sampai 2 minggu, sekarang bapak sudah hampir 1 bulan bersama kami, disisi lain banyak korban yang berjatuhan, ekonomi dipertaruhkan, tenaga medis menjadi pahlawan di garda terdepan demi memerangi virus ini. Semoga semua cepat berlalu dan keadaan kembali seperti biasanya.

“ mama suruh Maira pergi beli obat yah pak “ ujar mama khawatir.
“ tidak usah ma, bapak tidak apa-apa kok “ ucap bapak pelan.

Ku yang usai menunaikan sholat magrib lewat didepan kamar mama dan bapak dan mendengar percapakan mereka, dan langsung masuk kedalam kamar, nampak mama yang disamping bapak, sementara Rin dan Bayu menyusul dibelakang ku.

“ Raa bapak kenapa “ tanya Rin yang juga baru selesai menunaikan sholat magrib.
“ bapak sakit, maagnya kambuh “ ujar ku pelan sambil memasuki kamar mama dan bapak.

“ bapak tidak kenapa-kenapa “ tanya Rin khawatir.
“ udah tau sakit pake nanya lagi “ jawab Bayu sewot.
“ bukan kamu yang saya tanya “ jawab Rin sambil melempar bantal kearah Bayu.

“ kalian apaan sii, bapak lagi sakit ini, sempat-sempatnya bercanda” ujar ku sambil menatap Rin dan Bayu.
“ Bayu tuu Raa,, emang mau ajak gelud terus “ sewot Rin

“ Apaan sii hidup mu aja tuhh serius banget “ jawab Bayu santai.
“ sudah-sudah, bapak tidak apa-apa cuma maagnya aja kambuh “ jawab mama menengahi perkelahian Rin dan Bayu.

“ bapak telat makan ma ? “ tanya ku ke mama
“ tidak juga bapak mu makannya tepat waktu, cuma mungkin kebanyaan minum teh dari pada air putih, makanya maagnya kambuh. “ jelas mama sambil menatap bapak yang terbaring lemah.

“ hmm, jadi Maira pergi beli obat buat bapak, mumpung belum larut malam ini “ ujar ku bergegas.
“ tidak usah nak “ ujar bapak pelan.
“ kenapa pak, bapak harus minum obat, biar perasaannya enakan “ ujar Rin setelah mendengar ucapan bapak.

“ kalian butuh banyak uang, keperluan kalian banyak, belum lagi makan sehari-hari, nah sekarnag bapak tidak kerja, sisa uang sama mama kalian tinggal sedikit, kalau uangnya bapak pake beli obat uangnya akan berkurang lagi, daripada belikan bapak obat mending belikan keperluan sekolah kalian” ujar bapak sambil berusaha untuk bangkit dari tidurnya.

“ lagi pula bapak baik-baik saja sudah diberi obat dari sama mama kalian” tambahnya dengan nafas yang terengah-engah.

Ku yang tadinya bergegas ingin pergi beli obat, langsung terpaku mendengar alasan bapak yang tidak ingin dibelikan obat, betapa terpukulnya ku sebagai anak pertama mendengar kalimat yang dikeluar dari mulut bapak, seakan ku tak berguna. Dan air mata yang tak mampu ku bendung mengalir dipipi ku, ku merasa ku tak berguna, pendidikan ku selama ini yang ku tempuh seolah tak berguna.

Tak mampu mendengar ucapan bapak ku langsung keluar dari kamar bapak menuju kamar ku.

“ Yaa Allah kenapa ku terlambat ada didunia ini, ku merasa tak berguna “ ujar ku dalam hati dengan air mata yang mengalir dipipi ku.

“ sebesar itu sayang bapak sama kami anak-anaknya, hingga dalam keadaan sakit sekalipun, bapak masih fikir kebutuhan kami, sampai-sampai tak menghiraukan kesehatannya “ ujar ku sambil memukul meja yang ada didepan ku.

“ kenapa harus bapak yang sakit, kenapa bukan saya, kenapa harus Kau berikan penyakit itu pada orang yang sangat sangat ku sayangngi Yaa Allah, kenapa, kenapa, kenapa bukan saya saja, ku sangat menyayangi bapak ku, ku tak sanggup melihatnya menderita Yaa Allah, cukup sudah dia merasakan penderitaan saat ia banting tulang mencarikan nafkah untuk ku, adik-adik ku dan mama, jangan Kau tambah lagi penderitaannya dengan memberikan penyakit padanya “ ujar ku sambil menundukan kepalaku ke meja belajar yang ada didepan ku.

“ panjangkan umur kedua orang tua ku Yaa Allah, berikan ku kesempatan untuk membahagiakan mereka, berikan ku kesempatan memberikan fasilitas yang selama ini tidak bisa mereka miliki dan nikmati, Aamiin “ tulis ku dibuku diary ku, buku dimana semua perasaan dan keluh kesah ku tuangkan dibuku itu, dimana disaat mulut ku sudah tak mampu berkata, maka semuanya tertulis dan terlampir dibuku ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.