Home Berita Keputusan Birokrasi Tidak Sesuai Dengan Tuntuttan Mahasiswa

Keputusan Birokrasi Tidak Sesuai Dengan Tuntuttan Mahasiswa

66
0

PALU, LPMQALAMUN.id- Aliansi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu melakukan aksi demonstrasi terkait dengan pemotongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 50% dan pembagian kuota internet yang tidak merata didepan gedung rektorat IAIN Palu. Rabu, (24/06/2020).

Manuver yang di lakukan oleh mahasiswa IAIN  Palu adalah bentuk upaya bahwa dimasa pandemi masih saja pihak birokrasi kampus melakukan  kongkalikong atau bermaksud melakukan sesuatu yang kurang baik kepada seluruh mahasiswa IAIN Palu.

Fahmi Ramadhan selaku koordinator lapangan (korlap), mengatakan berbagai macam tuntutan yang meresahkan mahasiswa.

“Tuntutannya itu ada 7 poin, untuk poin-poin besarnya itu ya pemerataan pembagian kouta gratis untuk mahasiswa karna melihat realita pada hari ini ada yang dapat sampai 6 kali ada juga yang mendapatkan hanya 1 kali itupun hanya  1GB. Sudah banyak fakta-fakta dilapangan dari laporan mahasiswa yang  masuk khususnya di SEMA, DEMA Institut dan juga menjadi permasalahan terkait dengan provider itu hanya telkomsel,” ujarnya.

Dan adapun masalah yang lainnya terkait menjadikan Telkomsel satu-satunya provider tetapi juga ada beberapa daerah yang mana hanya menggunakan selain dari Telkomsel.

“Dari pihak kampus menjadikan telkomsel sebagai satu-satunya provider dan seakan akan memaksa mahasiswa untuk mengganti kartunya menjadi telkomsel dan juga ada beberapa daerah yang jaringan bukan jaringan telkomsel dan itu menjadi salah satu tuntutan kami dalam aksi tersebut,” tambahnya.

Fahmi juga mengatakan soal tuntutan pemotongan UKT yang kurang masuk diakal mahasiswa.

“Dari birokrasi tetap bertahan pada posisi 20%  tapi aliansi mahasiswa itu sendiri tetap neto pada 50% atau pemotongan Rp.500.000. IAIN Samarinda sudah terapkan itu walupun secara SK belum keluar dari birokrasi akan tetapi secara kesepakatan lisan dan tulisan itu ditandatangani diatas materai 6000 jadi kita hanya menunggu,” tegasnya.

Ditanya soal pengelolahan alokasi dana ketika dipotong 50% yang katanya tidak cukup untuk biaya alokasi gaji dosen, satpam, dan sebagainya malah beralasan untuk pergi meninggalkan mahasiswa yang masih sementara menunggu jawaban.

“Dari hasil rumusan mereka tadi tidak bisa, karna penggambarannya untuk perhitungan suara total keseluruhan yang didapatkan dari UKT mahasiswa itu 14 Miliyar ketika ada pemotongan 50%  itu penghasilan 7 Miliar, berarti itu dikatakan untuk alokasi biaya gaji dosen, satpam dan lain sebagainya itu tidak akan cukup oprasional, buktinya seperti bagaimana?,” jelasnya.

Hari ini kita tidak bicara soal pemahaman tetapi bicara soal data riilnya itu mana pengelolahannya, berapa jumlah mahasiswa yang di katagori 1,2,3 dan seterusnya akan tetapi itu tidak di perlihatkan. Bahkan sampai hari inipun belum selesai kita audience pak warek langsung pergi meninggalkan lokasi tempat aksi,” tambahnya.

Wartawan : Mami dan San

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.