Home Opini Nasib UKT kami : Catatan Sederhana Tentang kemustahilan 50%

Nasib UKT kami : Catatan Sederhana Tentang kemustahilan 50%

350
0

Opini karya

shadiq_muntashir

Aliansi mahasiswa IAIN Palu

*Kerja Aliansi*

Sepekan sudah saya menyaksikan teman teman yang tergabung di aliansi terus ber-konsolidasi demi mengumpul data terkait penurunan UKT. Mulai dari IAIN Langsa di Aceh, sampai IAIN di Sorong, kesemuanya memantau sampai mana birokrasi memberi kebijakan. Tidak hanya itu, mereka pun mencari data akan dana yang masuk ke birokrasi dan kemana dana anggaran itu dibelanjakan. Demikian kiranya potret perjuangan mereka yang ada di aliansi mahasiswa IAIN Palu akhir-akhir ini.

Kenapa mau menghabiskan waktu untuk melakukan semua itu? Sebagian dari mereka bahkan tidur tak lebih dari 3 jam dalam sehari, “seperti diceritakan oleh wapresma IAIN Palu 2020 Kak Anshar beberapa hari lalu.” Saya menyadari bahwa teman teman mahasiswa pun tak sedikit yang mendukung segala bentuk keputusan birokrasi, termasuk dalam hal UKT ini. Tapi tentu anak muda aliansi yang saya sebutkan diatas bukan berdiri tunggal tanpa alasan dan prinsip.

*Mungkin kah 50%?*

“Kita tidak bisa 50% nak, ada banyak yang perlu di biayai.” Lebih kurang seperti itu kalimat yang kerap diucapkan oleh birokrasi setiap kali kami menuntut penurunan UKT sampai pada presentase angka 50%. Benarkah tidak bisa? Atau sebenarnya bisa, hanya saja birokrasi yang enggan mengambil kebijakan itu? Dalam KMA 515 pun jelas, bahwa kemenag tidak memutuskan berapa angka pasti pemotongan, kembali pada kampus masing masing. Berangkat dari KMA tersebut, kita pun bisa paham, bahwa kampus lah yang paling bisa menentukan berapa pemotongan yang pas agar tak menghambat jalannya kampus. Lalu muncul pertanyaan sederhana, benarkah IAIN Palu hanya bisa 20%? Kalau benar, kenapa birokrasi enggan melakukan transparansi anggaran? Kenapa pertanyaan dari Presiden Mahasiswa Kak Rizal Liara pun pada saat aksi sebagian besar dijawab hanya dengan pembenaran disertai sentimen ? Tidak dengan data yang sesuai. Bahkan ketua Gugus covid sendiri pun, dalam hal ini bapak Wakil rektor 3 saat ditanya berapa anggaran covid untuk IAIN, dijawab dengan tidak tahu. Lucu bukan? Ah sudah lah, mungkin beliau lupa.

*Apa Langkah kita?*

Saya tak ingin menyebut kajian data yang dilakukan oleh teman teman aliansi sudah benar benar sempurna, tentu sebagai manusia dan mahasiswa biasa, kekeliruan tak bisa betul betul lepas dari mereka. Tapi setidaknya birokrasi pun berhasil dibuat bungkam sampai akhirnya mencari pembenaran kiri kanan ketika data itu dibuka didepan massa aksi. Dan yang paling penting, usaha mereka ikhlas, semua berkeringat, semua lelah. 

Tak ada yang menjamin perjalanan mereka, tak jarang pula mereka saling kumpul uang hanya untuk sekedar membeli gorengan  menemani diskusi diskusi mereka. Tak ada yang gaji, tak ada donatur tetap, apalagi dana perjalanan dinas, tak ada! Tapi kenapa mereka terus bergerak? Tujuannya, membuka mata hati birokrasi, agar dengan itu kebijakan yang keluar adalah kebijakan yang berlandas nalar kemanusiaan bukan yang justru menyusahkan mahasiswa. Dimanapun teman teman berada, jangan lupa doakan mereka. Hak yang diperjuangkan bukan hak golongan, bukan hak ketua lembaga. Melainkan hak dan suara mayoritas mahasiswa IAIN Palu.

#tolaksuratedaranrektor

#menujuaksijilid2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.