Home Cerpen TULISAN TANPA JUDUL

TULISAN TANPA JUDUL

64
0

Cerpen karya
Nama. : Marissa Saud
Jurusan : Perbankan syariah
Semeter : 3

Saru telah melewati sewindu dengan sebuah pencarian. Berkasnya tertumpuk di sudut lemari, menguning. Dinding-dinding kamarnya penuh dengan catatan aksara. Kumis yang semakin tebal dan rambut sebahu membuatnya terlihat seperti usia paruh baya di umurnya yang masih berkepala dua. Mungkin orang normal pada umumnya sudah lama menyerah, namun hal itu tidak berlaku bagi Saru, baginya, setiap hari merupakan sebuah misteri yang harus ia pecahkan, terlebih surat yang ditinggalkan oleh neneknya itu-sangat menarik perhatiannya. Sebuah surat beraksara jawa, pikir Saru.

Hari itu Saru hendak pergi ke sebuah acara seminar khusus penulisan yang diadakan oleh universitas yang berada tak jauh dari rumahnya, meskipun Saru tidak berada di bangku kuliah, ia sangat antusias menghadiri acara seminar atau workshop yang terbuka untuk umum, terlebih seminar kali ini gratis.

Saru sudah siap dengan catatan kecil dan pulpennya untuk mencatat materi, tak lupa mengeluarkan ponsel untuk merekam suara dari narasumber.

Dua jam berlalu sangat cepat, sesi pertanyaan telah dibuka. Saru sudah menyiapkan pertanyaannya sedari tadi.
“Dari audiens apakah ada yang ingin ditanyakan terkait perihal kepenulisan ini?” tanya Moderator menyapu pandang dari atas panggung.

Saru mengacungkan tangannya tinggi.
“Baik, saudara saya persilakan naik ke panggung, perkenalan juga asal instansi ” ucap moderator.

“Ah baik, Perkenalkan, nama saya Saru, usia 23 tahun dan saat ini saya sedang memiliki kesibukan menjadi seorang penulis freelancer. Jadi langsung saja, 8 tahun yang lalu nenek saya meninggal dunia, lalu beliau meninggalkan sebuah surat untuk saya yang bahkan saya sendiri pun tidak tahu apakah itu sebuah pesan wasiat atau hanya surat peninggalan biasa, karena isi surat itu pun tampaknya seperti tulisan aksara dan parahnya itu tulisan tanpa judul. Saya sudah menanyakan beberapa keluarga dan mencari maksud dari tulisan itu, tapi sampai sekarang saya tidak menemukan apa arti dari surat itu. Apakah ada alternatif lain untuk mengetahui tulisan itu?” tanya Saru setelah berpanjang lebar.
Narasumber itu tersenyum.

“Saya tidak pernah menemukan pertanyaan seperti ini sebelumnya, tapi sepertinya saya tahu apa yang harus kamu lakukan,” jawab Narasumber itu.
Saru mengernyitkan dahinya, ia penasaran jawaban apa yang akan diberikan oleh narasumber itu setelah beberapa tahun ia mencari penyelesaian.
“Apakah kamu tahu aktivitas apa yang almarhuma nenek kamu lakukan sebelum ia meninggal?” tanyanya.

“Saya kurang tahu, saya terakhir mengunjunginya saat saya juga berusia 8 tahun, lalu saya mendapat kabar bahwa beliau telah meninggal. Kemudian baru aku mengunjunginya. Itu karena kondisi tempat tinggalku yang cukup jauh dari kediamannya,” lugas Saru.
“Tapi beberapa keluarga saya bilang kalau nenek saya suka sekali berkebun, ia menanam banyak tumbuhan sayur juga bunga di halaman rumahnya, tapi itu tidak terurus lagi karena keluarga lain juga sibuk,” tambah Saru.

Percakapan di dalam aula itu hanya terasa seperti milik Saru dan Narasumber, beberapa audiens juga sudah terlihat bosan dan tidak sabar menunggu gilirannya untuk bertanya.
“Kalau begitu mungkin kamu harus beralih profesi menjadi tukang kebun” ucap Narasumber tersenyum.
Saru memicingkan matanya, tersenyum miring mencerna kalimatnya.

“Kamu pasti tahu sebagai penulis bukan? Di dalam dunia kepenulisan, sebuah judul kadang tampak tidak berarti dan bahkan bisa sangat bermakna. Tetapi saya sendiri termasuk penulis yang tidak begitu mempermasalahkan perihal judul, akan tetapi melihat cerita di dalamnya seperti apa. Sebuah tulisan bisa saja terlihat sepele hanya dengan kita membaca judulnya, apalagi jika itu sudah sangat banyak kita temui,”
Saru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia belum mengetahui maksud narasumber.

“Maka dari itu judul hanyalah dibuat untuk menjadi penarik pembaca, padahal isinya hanya itu-itu saja, selesai, tidak ada kesan dengan pembaca. Berbeda jika sebuah tulisan tanpa judul, apalagi dengan menggunakan seperti tulisan aksara yang kamu katakan, pembaca akan dibuat penasaran dan tanpa sadar membaca dan terus mencari tahu apa maksud tulisan itu. Bukankah surat itu lebih terlihat seperti surat peninggalan antik?”
“Ah, benar sekali. Karena itulah saya sangat terobsesi untuk mengetahui apa maksud surat itu” sahut Saru.

“Disitulah tujuan utamanya. Surat itu dibuat untuk membuatmu terus berpikir hingga sekarang, dan tanpa sadar kamu selalu mengingat beliau, bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya,” ucapnya.
Audiens mulai tertarik dengan topik yang dibahas, suasana gedung kembali normal, audiens mendengar dengan saksama.
“Lalu, apa yang harus saya lakukan dengan surat itu?” tanya Saru lagi.
“Kamu harus menata halaman rumah beliau. Menanam, juga merawat tanamannya kembali, saya pikir itu adalah alternaif jawaban dari surat itu,” jelas narasumber.

Saru terdiam. Tidak menyangka jawabannya akan seperti itu, tetapi ia juga telah menyadari sesuatu bahwa sebuah tulisan juga memiliki arti dan makna yang tersirat. Saru merasa gagal menjadi penulis.

“Nenekmu lebih penulis daripada kamu lho, lebih banyak latihan ya, juga jangan lupa selalu menyiram tanaman beliau,” tutup Narasumber singkat.
Para audiens tertawa juga bertepuk tangan atas pertanyaan dan jawaban untuk Saru yang penuh makna. Saru salah tingkah di atas panggung.

                                                          ***

​Ponsel Saru berdering.
​“Saru, apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu itu? Bukannya naskahmu sudah tertumpuk untuk penerbitan?” tanya editor Saru ditelepon.

​“Ya, ini keputusan bulat. Saya sudah bilang untuk terus berkebun di sini. Jangan menelepon saya lagi,” Saru memutuskan panggilan sepihak.
​Saru kembali menabur pupuk di jejeran tanaman sayur mayurnya.

​“Baiklah, sudah selesai. Kebun ini terlihat indah, dan saya sudah bisa memanennya bulan depan Nek, kini nenek tak perlu khawatir lagi, beristirahat lah dengan tenang Nek,” gumam Saru puas setelah merapikan halaman rumah peninggalan Neneknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.