Home Berita Brutalisme Polisi, Perintah Atau Spontan??

Brutalisme Polisi, Perintah Atau Spontan??

112
0

Opini karya
Mama :Moh Risyal Syamsuddin
Jurusan : Hukum Keluarga islam
Semester : 5

Apa yang menyebabkan Polisi bertindak brutal, semena-mena, bahkan hampir saja mencabut nyawa seorang pejuang Demokrasi?? Apakah tindakan tersebut memang sebuah perintah? Apakah hal tersebut benar? Tentu tidak. Tindakan tersebut hanya mencoreng nama Kepolisian bukan?

Aksi penuh kekerasan bahkan bisa di bilang sangat brutal oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terhadap demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang dilakukan di berbagai kota khsusunya di Kota Palu yang membuat Mahasiswa mengalami luka yang begitu cukup parah, serta penangkapan. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan publik kenapa polisi bisa bertindak brutal? Apakah tindakan brutal itu terjadi secara sistematis? Apa tanggapan negara mengenai perilaku brutal kepolisian dalam menghadapi massa?

Aksi Unjuk Rasa penolakan Omnibus law kemarin merupakan salah satu aksi terbesar yang ada di Kota palu, dan juga aksi yang di penuhi kecaman dari berbagai pihak. Kenapa tidak, aksi tersebut bisa dibilang aksi berdarah-darah yang terjadi. Dimana Mahasiswa menjadi tempat amukan brutal para polisi yang mengamankan aksi tersebut. Kita bisa lihat di berbagai linimasa media sosial bahkan video amatir yang tersebar bagaimana aparat kepolisian begitu brutal dalam membubarkan aksi massa yang terjadi. Bukan hanya Mahasiswa bahkan pegawai-pegawai kantor, masyarakat serta orang-orang yang tak tahu menahu persoalan aksi tersebut yang berada di lokasi juga ikut mereka bantai.

Begitu banyak Mahasiswa di perlakukan dengan kasar layaknya seorang maling yang berusaha melarikan diri, mereka tak segan-segan mengeroyok Mahasiswa yang tertangkap baik berbadan besar maupun berbadan kecil hingga bermandikan darah segar yang keluar dari badan para Mahasiswa tersebut. Mereka bantai layaknya singa yang kelaparan. Tentu tindakan seperti ini sangat tidak manusiawi. Dimana HAM saat ini? Dimana letak pengayoman polisi saat ini?!

Bahkan jurnalis yang meliput aksi itu tak luput juga dari kekerasan polisi. Beberapa wartawan kampus (Pers Mahasiswa) yg ikut meliput dalam aksi tersebut juga mendapat tindak kekerasan, pemukulan serta penangkapan oleh pihak kepolisian.
Begitu pula Jurnalis-jurnalis umum tak luput dari amukan mereka, bahkan salah seorang jurnalis perempuan mengalami luka tonjokan pada bagian wajahnya. Mereka juga melakukan perampasan alat kerja, sampai penangkapan. Setau saya para pers itu di lindungi UU lalu mengapa juga mendapat perlakuan kasar oleh pihak kepolisian.

“Pasal 18 ayat (1) UU Pers memberikan sanksi bagi setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan kebebasan pers sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500 juta”. Bukankah UU di atas sudah jelas?? Ataukah UU tersebut tidak berlaku bagi aparat kepolisian??

Tercatat setidaknya 3 orang Pers Mahasiswa dan 3 orang pers umum yang mengalami tindakan brutal dan penangkapan oleh polisi.

Sebelumnya, di aksi tentang penolakan RUU KUHP ditahun 2019 kita juga menyaksikan tindakan polisi yang brutal kepada Mahasiswa pada saat itu.

Saya khawatir, aksi kekerasan yang dilakukan polisi kepada demonstran adalah sebuah aksi sistematis, yang tidak hanya dilakukan secara spontan di lapangan, tetapi memang arahan dari atasan mereka. Jika itu yang terjadi, publik harus menggugat kepolisian untuk membenahi sistem penanganan massa aksi dan mendisiplinkan anggotanya. Karena ketakutannya masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada aparat kepolisian. Bukan begitu??

Kalau memang benar bahwa Mahasiswa yang melakukan anarkisme dengan melakukan pelemparan lebih dulu, setidaknya pihak polisi jangan pernah menganiaya Mahasiswa ketika tertangkap, apalagi sampai mengeroyok dengan brutal hingga Mahasiswa-mahasiswa bermandikan darah. Bukankah kalian berpakaian lengkap dengan sebuah pemukul dan gas air mata? Di banding Mahasiswa yang hanya bermodalkan tangan kosong. Sungguh suatu tindakan yang begitu miris.

Berbagai media menyoroti dengan tajam aksi brutalisme polisi ini. Mereka juga menuntut keterbukaan informasi dari polisi terkait korban kekerasan akibat aksi mahasiswa.

Begitu juga masyarakat sipil mengutuk aksi kekerasan polisi itu. Di Palu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sulteng menyesalkan tindakan Aparat Polisi. Direktur LBH Sulteng, Julianer SH mengatakan bahwa tindakan brutal aparat dalam penanganan massa demo dijalan Dr.Sam ratulangi sangat tidak mencerminkan rasa pri kemanusiaan , anarkisme aparat tercermin dari tindakan refresif yang dialami oleh para mahasiswa bahkan wartawan dilokasi Demo.

Kelompok masyarakat berpendapat bahwa Negara semakin brutal dalam menangani masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasinya dengan tindakan kekerasan yang di lakukan oleh aparat kepolisian.
Dalam hal ini polisi sudah menjadi penghalang dalam berdirinya hak-hak Demokrasi.

Pertanyaannya jika tindakan brutal polisi terus terjadi, apakah masyarakat masih respect dan percaya kepada pihak Kepolisian? Ataukah hanya akan menanam sebuah dendam dan kebencian di hati masyarakat. Wallahu a’lam.

Tentu Harapan besar bagi kami agar pihak kepolisian tidak lagi melakukan aksi brutal dalam mengamankan massa aksi para demonstran, dan juga lebih memperhatikan undang undang terhadap perlindungan insan Pers yang meliput aksi demonstran. Karena sejatinya polisi adalah pelindung dan pengayom masyarakat.

“Kami Mahasiswa pak, kami adalah suara rakyat diluar sana yang tak bisa melakukan apa-apa, kami bukan maling, kami bukan kelompok-kelompok yang melakukan tawuran pak, kami hanya ingin menyampaikan aspirasi kami, kami hanya ingin menunjukan hak-hak kami. Izinkan kami, kawal kami, lindungi kami. Karena ini Negara Demokrasi”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.