Home Cerpen Sebatang Coklat ?

Sebatang Coklat ?

92
0

Cerpen karya

Nama ; Nurul Izzati

Jurusan ; Perbankan Syariah

Semester ; 5

“ Rainnnn Rainnaaaa “

“Rainaaa awas dibelakang kamu, Raina liat depan “

(bbrrukkk)

“ Rainaaaaaaaaaaa “

Sepenggal kata terakhir yang ku dengar dari mulut Rara, sebelum aku terbaring lemah tak berdaya dibangsal rumah sakit umum Bangga Kencana,. Setelah kejadian itu, aku tak tau kejadian apa saja yang ku lewatkan. Dalam alam bawa sadar, aku merasa terpanggil, ada yang menyebut nama ku, tapi aku tak bisa membuka mata dan menjawab panggilan itu.

2 minggu terbaring lemah di bangsal rumah sakit, bangun dari tidur ku yang panjang, mencoba membuka mata perlahan-lahan, aku melihat senyum mereka yang ada disekitar ku, seakan berkata selamat datang didunia yang baru, merasa badan ku telah dipukuli oleh seribu massa, dengan peralatan medis yang menempel ditubuh,

Peralatan medis yang lengkap, yang aku saja tidak tau benda apa yg mereka tempelkan di tubuhku, penjepit yang menempel di ibu jari, alat penyangga di leher, alat bantu pernafasan yang membuatku susah bernafas, muncul pertanyaan besar dibenak ku kala itu, apa yang terjadi ??? aku butuh seseorang yang bisa menjawab semua Tanya ini.

“ Raina “

Aku tau suara itu, suara yang selalu menjadi alarm terbaik , suara yang selalu memanggil nama ku, suara yang selalu ku rindu dikala ku jauh, suara yang selalu menjadi pengingat dan penyemangat dikala dunia sedang tidak berpihak padaku, mama, yahh itu suara mama, suara yang 2 tahun terakhir aku dengar hanya melalui ponsel, dan sekarang aku mendengar langsung, dan suara itu sangat dekat dari telinga ku, air mata ku tumpah, tak mampu membendung rasa, ingin diri ini memeluknya tapi sayang aku tak berdaya

Mencoba sekuat tenaga membalikkan kepala ku kearah suara itu, aku angkat tangan dan ku arahkan ke sumber suara itu, dengan nafas yang terengah-engah aku mencoba menyapanya

“ mma ma mama, raa raaiina rin rindu maa mama ” dan kuarahkan tangan ku mencoba menggapai wajah malaikat yang tak bersayap itu.

Aku melihat wajah bahagia mama, dengan pipi diwarnai dengan air mata bahagia, ingin rasanya merangkul, mendekap di pelukannya, aku rindu hangatnya peluk mama, aku rindu belaian tangan mama, tapi semua itu tak mampu ku lakukan, aku hanya bisa menjadi saksi berlinangnya air mata mama.

“ Raina, mama disini sayang, kamu yang kuat sayang, mama disini jaga raina jangan banyak bicara dulu yahh sayang, kamu butuh istirahat yang banyak “ ujarnya singkat, lalu mencium kening ku, ciuman yang lama tak kurasakan akhirnya kurasakan kembali.

Langit-langit kamar berwarna putih, aroma obat-obatan yang memenuhi kamar, cairan infus yang terus menetes dan mengalir ke tubuh ku, makanan hambar tidak ada rasa , sapaan suster ditiap waktu jam makan, kesal rasanya menjadi satu dari semua hal yang membosankan ini,  dengan orang yang sama dan aktivitas yang sama. Jika diberi satu permintaan ingin rasanya cepat-cepat keluar dari ruangan yang selama ini membatasi ruang gerak ku

“ kenapa tidak mati saja, kenapa harus bertahan seperti ini jika pada ujungnya juga akan menderita dan mati secara perlahan “

Benar kata orang hargai sehat mu sebelum kau sesali sakit mu, ujar ku sambil mengangkat tangan kearah jendela, aku rindu udara segar dari balik jendela itu, bergerak tanpa selang infus yang melekat ditangan, rindu dengan aktivitas yang menyibukkan,  bisa berjalan bebas tanpa ada penyangga dileher. Mencoba meraih gelas berisi air putih di samping bangsal, mengeluh dan bertengkar dengan diri sendiri membuat tenggorokan kering.

Tangan ku terhenti saat melihat orang asing masuk dan berjalan menghampiri ku, pria bertubuh tinggi, dengan muka dan potongan rambut yang klasik, dan bola mata yang berwarna kecoklatan,

“Ini, jika kamu memerlukan bantuan, jangan segan untuk minta tolong, jangan melakukan hal-hal yang akan berakibat fatal akan kesehatan anda ” ujarnya sambil mengulurkan tangan menyerahkan segelas berisi air yang ada ditangannya.

Aku masih tidak habis fikir siapa laki-laki ini, dia tidak menyebutkan namanya, juga tidak  tau dengan tujuan apa dia memasuk dikamar ini, sempat ada rasa takut dan khawatir melihat tingkah dari pria misterius ini

 “ Benar kata orang, kata yang paling susah untuk diucapkan manusia itu adalah kata maaf dan terima kasih, bukan maksud untuk mengurui, tapi cobalah untuk menghargai usaha orang dalam membantu anda, tidak perlu melakukan hal yang besar, cukup berterima kasih “ ujarnya saat tak kunjung mendapatkan kata terima kasih dari diriku.

“Tidak usah berfikiran buruk tentang saya “

“Sebentar lagi susternya datang, tidak ada yang perlu anda cemaskan” ujarnya sambil menekan tombol merah itu

Mataku melotot, seketika tenggorokan ini tidak lagi menerima kehadiran air yg aku minum, mendengar ucapannya membuatku tertunduk malu, aku terlalu terfokus pada tanya ku sehingga lupa berterima kasih padanya, dia bisa baca fikiran ku ?? dia bisa tau aku dari tadi bertanya-tanya akan hadirnya ??

“ Ehh kemana laki-laki itu “ lamunan ku pecah saat suster datang dan menepuk pundak ku”

“ Dia sudah keluar mba, tapi dia menitipkan ini untuk mba“ jawabnya sambil memberikan sebatang coklat padaku”

Dia datang tanpa memberi pesan, dan pergi meninggalkan rasa penasaran, datang membawa harapan dan pergi meninggalkan sejuta pertanyaan.

 “Coklat ?? untuk saya suster ??”

“Iya mba, tadi mas itu menitipkan ini, katanya untuk mba supaya cepat sembuh, kalau begitu saya keluar dulu supaya mba bisa istirahat, dan jangan lupa buahnya dimakan “ ujarnya lalu pergi

“Note’s ?? “

“ Disaat mulut mu tak lagi mampu untuk berkata, maka menulislah untuk mu mengungkapkan rasa “

Setelah melihat potongan kalimat di kertas yang digulung dan diikat bersama coklat itu, aku yakin dia bukan orang sembarangan, potongan kalimat itu adalah kalimat penyemangat ketika dunia sedang tidak berpihak pada diriku, kalimat yang selalu menjadi acuan ku dalam menggoreskan segala keluh kesah diatas kertas putih, dan tidak banyak yang tau akan hal itu, Cuma, mama, papa, tante Sindy, bahkan Rara belum tau kalimat ini.

Bersambung………

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.