Home Cerpen KORIDOR KAMPUS Eps 3

KORIDOR KAMPUS Eps 3

68
0

Cerpen Karya
Nama : Nurulizzati
Jurusan : Perbankan syariah
Semeter : 5

“Note’s ?? “
“ Disaat mulut mu tak lagi mampu untuk berkata, maka menulislah untuk mu mengungkapkan rasa “
Setelah melihat potongan kalimat di kertas yang digulung dan diikat bersama coklat itu, aku yakin dia bukan orang sembarangan, potongan kalimat itu adalah kalimat penyemangat ketika dunia sedang tidak berpihak pada diriku, kalimat yang selalu menjadi acuan ku dalam menggoreskan segala keluh kesah diatas kertas putih, dan tidak banyak yang tau akan hal itu, Cuma, mama, papa, tante Sindy, bahkan Rara belum tau kalimat ini.

Eps 03
Kejadian kemarin menambah deretan cerita hidup yang akan menemani dan menjadi sejarah di perjalan hidup ku, yang akan terus aku ingat dan mungkin nantinya akan aku ceritakan kepada anak-anak dan cucu ku nanti.
Terbaring lama di rumah sakit membuat aku banyak kehilangan waktu, banyak hal yang aku lewati, pekerjaan dan kegiatan pun tertunda, yahh, termasuk studi ku, sesal yang tiada henti, usaha ku untuk lulus tepat waktu pun pupus, serasa semua perjuangan yang selama hampir 4 tahun itu berakhir sia-sia dengan terbaring lemah dirumah sakit selama kurang lebih 2 bulan. Terbayang senyum mama dan bapak yang selalu menjadi bahan dan penyemangat untuk aku menyelesaikan studi, seketika sirna dan berubah menjadi tetesan air mata kesedihan, aku telah mematahkan semangat mereka, mengecewakan mereka yang mengantung harapan besar terhadap ku, dan sekarang aku merasa orang yang paling bersalah dan tak berguna.

Rasa penyesalan itu terus menghantui ku, terlebih lagi keluar keputusan dari kampus bahwa diriku hanya bisa menyelesaikan studi di semester berikutnya. Tidak ada hal yang membuat ku semangat, bahkan suara mama dan bapak tidak menjadi obat untuk membuat senyum kembali mengukir di wajah ku, senja yang dulunya selalu menjadi motivasi dan semangat aku focus untuk meneyelesaikan studi, sekarang tidak bisa berbuat dan mengubah banyak, hujan yang dulunya membawa tawa dan riang akan hadirnya, berubah menjadi air mata kesedihan, teringat setiap kali turun hujan, selalu ada cerita perkembangan studi ku yang sedikit lagi hampir selesai, dimana setiap hal yang selesai aku kerjakan, akan ku ceritakan pada mendungnya langit, berbisik di tengah deruhnya hujan, menari dengan rintikan air, dan sekarang tidak lagi, hujan hanya mengundang air mata yang turun seiring derasnya hujan menerpa bumi, dunia ku hancur, aku tidak pernah berada pada posisi serendah ini.
Banyak ocehan yang makin membuat ku muak, serasa kepala ku ingin meledak, telinga ku panas mendengar mereka yang menganggap reaksi ku berlebihan, mungkin dari perspektif mereka aku terlalu lebay dalam menanggapi persoalan studi ku yang lambat selesai, karena sebagian orang menganggap itu sepele, dan bahkan menurut mereka itu hal yang wajar dan menjadi bumbu-bumbu perkuliahan, terlebih lagi akibat keterlambatan studi ku itu bisa dimaklumi dan tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena itu sudah menjadi ketetapan Yang di Atas, tapi menurut ku itu kesalahan terbesar, andai saja kemarin aku lebih focus menyelesaikan studi ku, mungkin aku sudah selesai sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi.

Melihat diriku dari pantulan cermin, kurus, pucat, bagai manusia yang berjalan bimbang di tengah keetidakpastian, bagai wanita yang hilang sang pujaan hati, ditinggal pergi pada saat hati mulai dihangati, bagai bunga yang rela kehilangan daun yang kering dan mati.
Aku tidak bisa bertahan dikondisi dimana aku hanya bisa menyesali perbuatan ku, aku butuh pulang “1 kalimat yang menjadi penutup jumpa pada kota perantauan ku dan menjadi awal kalimat pembuka di kota kelahiran ku”.
Senin, 29 januari 2009 AKU PULANG
Kembali menghirup udara yang sudah lama tidak merasuki rongga pernafasan ku, langit cerah, udara segar tanpa polusi udara dari limbah perusahaan dan asap kendaraan, masyarakat yang ramah, saling bertunduk jika berpapasan, tidak luput pula senyum yang tergaris di wajah mereka. Apakah ini yang ku rindukan, nuansa pedesaan, disinikah akan kembali ku temukan ceria, tawa, dan semangat ku.
Seperti biasanya, tepat pukul 16.30 aku duduk di tepi bendungan, yang airnya jernih, dan tenang, tampak ikan menari tanpa beban, dan yang tidak pernah aku lewatkan jika aku ada di kampung halaman, indahnya senja. Begitu sempurna, tanpa cela sedikit pun.

Matahari yang hampir terbenam terbentuk sempurna, seakan menyambut ku yang datang bertamu, langit yang dihiasi warna merah kegelapan, burung berkicauan untuk pergi, air bendungan yang tenang tanpa deruh seakan ikut mengantar kepergian senja, matahari pergi menurunkan ego untuk membiarkan malam sunyi hadir memenemani.
Aku tinggal pergi selama kurang lebih 4 tahun, aku fikir kau akan berubah, tapi aku salah kau tetap yang dulu, kau yang 4 tahun terakhir aku tinggalkan, tetap membuat pengagum mu takjub akan hadir mu, membayar tuntas utang rindu, dan membuat gunda dan lara jika menatap mu pergi, tapi berjanji untuk tetap kembali.
Tringg tringg ..” dering tlfon”
Yah pesan itu masuk di ponsel ku, dan aku bisa tebak pesan itu dari siapa, pesan yang selalu mengingat ku jika aku sedang menikmati senja, pesan yang tidak kudapatkan di tanah perantauan, itu pesan dari mama, yang selalu mengingatkan ku untuk tidak duduk lama di bendungan hanya untuk melihat senja, tapi karena kecintaan ku akan ciptaan Tuhan ini membuat ku sedikit membantah perintah mama, tapi mama tau itu, tau bagaimana kecintaan ku akan senja.
Raina, jangan lama-lama di bendungan neng, magrib tidak baik anak perawan kalau pulang magrib “ ku baca dan balas pesan dari mama, agar dia tidak khawatir pada ku ”
Iya maa, sebentar lagi, tunggu dia pergi, lama raina tidak menatapnya, jadi biarkan raina disini untuk mengantarnya Pulang. “jawab ku membalas ku mama dan kembali menatap senja yang sebentar lagi menghilang ”.

Selamat tinggal senja, terima kasih telah menyambut datang ku hari ini, senang melihat mu lagi, cukup lama kita tak bertemu, dan pertemuan hari ini cukup membuat rindu ku terbayar tuntas, dan tak lupa buku dan sebuah pulpen yang selalu menemani ku untuk menemui mu, akan aku abadikan hari ini di buku ku, agar supaya buku dan pulpen ku menjadi saksi bahwa kau ada untuk menyambut kedatangan ku. Jangan bosan dengan ku senja, karena aku adalah salah satu dari milyaran manusia yang menjadi pengangum dan selalu menunggu kedatangan mu.
“angin berhembus sayup, menghembus menyelimuti sepi, kau mengajarkan ku arti hidup, dimana senang dan sedih datang silih berganti, sinar mu mulai memudar, kicauan burung mulai tak terdengar, yahh kau pamit untuk pergi, menurunkan ego agar malam sunyi hadir menemani, hari ini kau dataang bertamu, datang untuk mengobati seribu rindu, lalu pergi meninggalkan sejuta pilu, mengantung temu yang masih ingin bertamu”
Masih suka menatap senja ??
Ketika aku bergegas akan pulang, ada suara yang sangat mengagetkan ku, tiba-tiba muncul tanpa tau asalnya dari mana, dia menyapa seakan dia kenal baik dengan diriku.

Aku tidak mengabari teman-teman ku bahwa hari ini aku pulang, hanya mama, bapak, tante Sindy, dan Rara, yang tau lantas siapa laki-laki ini. “ tanya ku saat mendengar sapaan dari laki-laki yang suaranya berasal dari atas bendungan”
Sudah malam, belum pulang ??” tanyanya lagi”
Aku yang penasaran mendengar suaranya pelan-pelan menoleh kearah pria yang tadi menegur ku.
Sontak aku kaget melihat pria yang ada didepan ku, ponsel yang ada ditangan ku terjatuh ke tanah, beruntung tidak masuk ke bendungan yang bergenangan air yang ketinggian saja tidak aku tau
Laki-laki tinggi dengan kemeja, celana dan sepatu dia bersandar di besi penghubung bendungan. Sambil mengangkat alis menunggu jawaban ku
Ka kaa kamu ?? “ Tanya ku gugup “

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.