Beranda Cerpen Aku, Kamu, Beda Agama

Aku, Kamu, Beda Agama

100
0

Cerpen Karya : Rina Abd Halik
Mahasiswi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam / semester 3

Laki-laki itu tengah asyik bermain basket bersama teman-teman lainnya. Ia sudah berkali-kali mencetak skor, tubuhnya begitu lincah bergerak kesana kemari membawa dan memantulkan bola basket tersebut. Setelah merasa lelah dan cukup dengan permainannya, ia langsung out dan memilih untuk duduk di tepi lapangan basket. Nafasnya terengah-engah, ia mencoba mengatur nafasnya kemudian menengadahkan kepalanya ke atas menatap awan yang memiliki bentuk yang indah.

“LANGIIIT..” Teriakan itu membuatnya terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum tipis saat melihat sosok gadis yang tengah berlari menuju ke arahnya sambil membawa minuman dingin di tangan kanannya.

“Inhi minumhan unthuk kamhu” Gadis itu berbicara dengan susah karena masih merasa ngos-ngosan. Langit terkekeh melihat tingkah gadis tersebut.

“Atur nafas dulu, mbun. Ngapain sih lari-lari segala ? Kalau kamu jatuh gimana ? Kaki kamu nanti luka gimana ? Pasti kamu bakal nangis, kan ?” Langit langsung melemparkan berbagai macam pertanyaan padanya.

“Kan ada kamu, Sky” Embun nyengir dengan memamerkan deretan giginya. Embun memang lebih suka memanggil Langit dengan sebutan Sky.

Langit tersenyum kecut mendengar ucapan Embun.

“Aku bisa apa ? Menyentuhmu sama dengan aku melanggar perintah Tuhanmu” Langit menatap Embun yang duduk di sampingnya dengan jarak lumayan jauh. Senyum Embun memudar lalu ia menundukkan kepalanya, tidak sanggup mendengar ucapan Langit barusan. Langit begitu patuh pada aturan agamanya namun Embun sendiri tidak patuh. Di umurnya yang sudah 17 tahun ini Embun masih enggan keluar rumah mengenakan jilbab padahal baju yang ia pakai keluar sudah begitu tertutup hanya kurang di jilbab saja.

“Embun cantik tapi lebih cantik lagi kalau pakai jilbab” Ucap Langit. Perkataan Langit yang ini sudah sering Embun dengar. Embun mengangkat kepalanya lalu menoleh pada Langit, Langit langsung melempar pandangannya ke arah lain lalu tersenyum.

“Temanku yang bernama Adam kemarin bilang ke aku katanya dalam agama islam bertatapan dengan lawan jenis itu termasuk zina mata” Ucap Langit lagi

“Kamu tahu semua peraturan dalam islam. Kenapa gak mau seiman sama aku ?” Tanya Embun dengan mata yang berkaca-kaca.

“Maaf, mbun tapi aku tidak bisa berpaling dari Tuhan ku dan begitupun denganmu kan ? Ngorbanin keyakinan demi perasaan itu gak gampang” Jelas Langit, suaranya terdengar berat sekarang. Dadanya terasa sesak, pasalnya ia begitu mencintai Embun namun keyakinan yang berbeda membuat mereka berdua tak bisa bersatu.

“Maafin pertanyaan aku tadi, sky” Ucap Embun

“Its okay. Semua perbedaan ini indah, mbun. Dimana dimulai dari kita yang berbeda memanggil nama Tuhan, aku yang menyebutnya dengan Tuhan Yesus dan kamu yang menyebutnya Allah dan tentang aku yang beribadah ke katedral dan kamu ke Istiqlal, tentang aku yang mengucapkan Shalom dan kamu mengucapkan Assalamualaikum, tentang aku yang menyatukan tanganku ketika berdoa dan tentang kamu yang membuka lebar tanganmu ketika berdoa, tentang Bio ku yang tertulis Yesus Kristus dan Tentang Bio mu yang tertulis Allah SWT, tentang salib di leherku dan tasbih di tanganmu, tentang bagaimana aku membaca Al-kitab dan tentang kamu yang membaca Al-Qur’an. Pada akhirnya kita memang harus saling mengikhlaskan” Jelas Langit, matanya memanas sekarang, ia tak bisa menahan bulir air matanya lebih lama lagi hingga pada akhirnya air matanya kini lolos membasahi pipinya. Isakan tangis Embun terdengar di telinga Langit.

“Tapi jodohkan di tangan Tuhan, Sky. Jadi gak ada yang tahu gimana kita kedepannya” Ucap Embun dengan sesekali menyeka air matanya, Langit tertawa hambar mendengar perkataan Embun barusan.

“Jodoh emang di tangan Tuhan tapi kalau Tuhan kita aja beda gimana tangannya mau sama,mbun ? Pilihan satu-satunya hanyalah saling mengikhlaskan itu adalah yang terbaik karena aku tidak mau dan tidak akan pernah berpaling dari Tuhanku begitupun dengan kamu” Langit diam sejenak, ” Satu yang harus kamu tahu bahwa aku anak Tuhan ini hanya ingin mencintai hamba-Nya, bukan ingin merebutmu dari-Nya” Langit tersenyum sementara Embun sudah menangis sejadi-jadinya. Embun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah pasrah dengan semua ini.


Keesokan paginya,
Embun mendapat sebuah surat dan juga sebuah kotak besar berwarna biru pastel. Embun membuka lipatan kertas tersebut kemudian membaca isi suratnya.

Assalamualaikum,

Selamat Pagi.
Sebelumnya aku minta maaf, mbun suratnya aku titipin ke Bude soalnya aku buru-buru. Oh iya pagi tadi aku lewat depan rumahmu kamu cantik banget pakai jilbab, jangan di lepas-lepas yah jilbabnya. Kalau keluar rumah harus pakai jilbab terus. Dan Maaf karena kemarin gak ngasih tau ke kamu kalau hari ini aku bakalan pindah sekolah ke Amerika, aku dan keluargaku akan menetap di sana. Terimakasih, mbun sudah menjadi orang baik untukku dan juga keluargaku di sini.
Aku akan merindukanmu.

Maaf karena membuat jarak kita semakin jauh .tapi, walaupun aku di Indonesia kita tetap jauh. Dijauhkan oleh perbedaan keyakinan itu benar-benar ldr yang sesungguhnya.

Embun meneteskan air matanya ketika membaca surat singkat dari Langit. Ia kemudian membuka kotak besar tersebut dimana isinya adalah Al-Qur’an dan juga tasbih. Embun lalu mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi langit namun nihil ponselnya tidak aktif, sepertinya Langit benar-benar akan berada sangat jauh darinya. Mulai hari ini Embun harus membiasakan dirinya tanpa Langit. Embun sadar bahwa Allah menghadirkan Langit hanya untuk saling mengenal saja namun apa daya perasaan keduanya melampaui semuanya dan juga kehadiran Langit membuat Embun semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sang pemilik hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.