Beranda Cerpen Duri Ketetapan Ilahi

Duri Ketetapan Ilahi

580
0

Cerpen karya : Febrianti
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam / Semester II

Andra Syarief Mufti, siapa yang tak mengenalnya, Ketua OSIS dari SMA Tirta bangsa itu
mampu membius semua kaum hawa yang ada.
Cowok tampan dengan milyaran pesona yang dimilikinya, tubuh tinggi dan tegap. Memiliki keturunan Arab-Padang yang terlihat jelas di wajahnya. Ia juga merupakan seorang cucu dari pemilik yayasan sekolah itu yang kelak akan diwariskan kepadanya.

Andra memiliki kekasih dan sosok sahabat, yaitu Shena Tasya Adrelia seorang siswi cantik SMA Tirta Bangsa yang terkenal dengan ramah nya kepada semua orang. Sepasang kekasih yang saling menyayangi ini telah menjalin hubungan selama 2 tahun.
Andra sangat mencintai Shena bahkan ia rela berkorban demi apapun untuk Shena sekalipun nyawa jadi taruhannya.
Dan Alvin Mahendra sahabat Andra sedari kecil.
Cowok berkulit hitam manis dengan postur tubuh yang hampir menyerupai Andra. Ia juga menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Alvin terkenal dengan sikap netral, yang selalu tenang dan dapat menyelesaikan segala masalah. Alvin juga telah menganggap Andra sebagai adiknya sendiri meski umur mereka tidak berbeda jauh.

Hingga pada suatu hari, sebuah peristiwa kecelakaan hebat terjadi saat Andra menuju rumah Alvin,tiba-tiba dari arah berlawanan ada kendaraan mini bus yang akan menyalip kendaraan didepanya. Saat itu Andra kehilangan kendali dan membuat kesalahan dengan membanting setir motor sportnya ke arah kanan.
Diwaktu yang bersamaan kendaraan lain dari arah belakang menabrak sisi bagian belakang motor Andra.

Setelah kejadian tersebut,Andra mengalami dua kali benturan keras dikepalanya, sebelum menabrak pembatas jalan dan menabrak pohon besar yang ada dipinggir jalan. Andra merasakan nyeri dan kaku pada sekujur tubuhnya dan sepertinya tangan kirinya juga patah.

Namun bukan itu yang ia pikirkan, dalam keadaan setengah sadar Andra dapat melihat Shena dipelupuk matanya. Gadis itu tersenyum dengan melambaikan tangan kepadanya.Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Andra membuka helm dengan tangan kanannya.
Membuat darah segar mengalir begitu saja dari pelipisnya. Saat andra melihat langit,terlihat mendung menyelimuti malam.Seakan semesta mendukung apa yang tengah terjadi. Ia merasa baru kali ini melihat malam tanpa bintang.

Bersamaan dengan itu, kesadaran Andra mulai redup.
Samar-samar dan mendengar banyak sekali suara orang yang mendekatinya.
Sedetik kemudian, semuanya terasa gelap dan Andra pun tak sadarkan diri.


Bunyi monitor peralatan medis menggema memenuhi ruangan itu. Mengiringi setiap langkah yang Shena lakukan. Seperti detik, Shena dapat merasakan waktunya semakin berkurang.

Saat mendekati bangkar Andra, Shena tidak kuasa menahan isakannya. Sambil terus memandangi Andra yang tubuhnya dipenuhi dengan luka.Tidak lupa perban yang melilit dikepala Andra membuat kesan bahwa dia seolah telah mati. Shena membekap mulutnya saat melihat Andra. Bahkan dalam keadaan sekarang Andra masih saja tersenyum ketika dirinya mendekat.

Hening beberapa saat, mereka hanya berkata lewat mata. ada banyak hal yang harus mereka berdua ketahui. Namun sekali lagi , waktu menjadi penghalang menyuruh dan memaksa mereka mengatakan beberapa kalimat saja.

“Hai….”
Suara Andra terdengar bergetar. Sambil sesekali tersenyum dia mengulurkan tangannya ingin meraih lengan Shena.
Tangan mungil didepan Ia genggam dan menarik perlahan sang pemilik supaya mendekat.

Irama monitor mengiringi setiap detik pertemuan mereka. Berseru mengatakan bahwa waktunya telah tiba.

Shena yang kini mendudukkan tubuhnya di pinggir bangkar dapat merasakan dinginnya tangan yang ia genggam. Sentuhan ibu jari dipipi gadis itu membuat tangis si empu semakin menjadi.

“Jangan nangis”
” Ke-kenapa? “
Ucapan yang menyimpan kesedihan dan kepedihan yang begitu mendalam keluar dari mulut Shena.

“Kenapa gak bilang”
Suara itu semakin lirih disetiap katanya. Shena tak kuasa menahan tangisnya hingga tumpah didada Andra.
Membuat Andra perlahan memeluk gadis itu dengan salah satu tangannya mencoba menenangkan meskipun dirinya perlu ditenangkan dengan balutan luka yang begitu banyak.

“Maaf”
Satu kata keluar bersamaan dengan air mata yang mengalir.
Mata yang dulunya terlihat berapi-api, kini redup bersamaan dengan waktu yang semakin mengikis kesempatan dirinya untuk bernafas.

“Mau janji suatu hal”
Shena menggeleng. Ia tahu Andra akan meminta sesuatu yang mungkin sulit untuk dia penuhi.

“Please…”
Disela-sela tangisnya Shena mengangguk samar.
Dia mendongkak demi melihat wajah yang telah lama Ia rindukan.
” Setelah ini jangan nangis lagi”
Andra memang masih disana. namun yang Shena rasakan bahwa Andra telah bersiap untuk meninggalkan semua dan juga dirinya.
“Jangan pergi”
Mungkin ini kesekian kalinya Shena meminta. Meskipun ia tahu bahwa tidak akan bisa mengabulkan keinginannya.

“Aku_”
Suara Andra tercekat, seakan dia tidak mampu melanjutkan setiap kata yang menurutnya akan menjadi kalimat perpisahan.

“Aku gak bi…sa…”
Sekeras apapun Shena meminta, nyatanya Andra tidak pernah akan mengabulkan.
Andra membawa Shena dalam pelukannya. Berharap dapat mengurangi tangisan pilu gadisnya itu.

“Tuhan, beri aku sedikit waktu lagi untuk bisa memeluknya lebih lama.
Beri aku kekuatan agar bisa tersenyum dan membuatnya bahagia.
Tuhan, sebentar saja.
Beri aku waktu beberapa jam lagi.
Tangan ini masih sulit untukku lepas,” ungkap hati Andra dalam belaiannya pada sang khalik.

“Sayang”
Panggil Andra pelan.
Dia telah menguraikan pelukannya setelah beberapa saat lalu,Shena berhenti menangis. Ternyata tuhan mengabulkan doanya

“Kenapa”
Shena memperhatikan wajah Andra yang tidak terlepas dari senyuman.
“Dingin”
Kata dia sambil meletakkan telapak tangan Shena pada wajahnya.
“Aku ambil selimut yah? atau mau aku buatin minuman hangat,” tawar Shena
“Gak usah sayang”
Shena mengernyit. namun tak pelak dia bahagia dengan panggilan itu.

“Shena”
“Hem? “
“Aku ngantuk”
Shena berhenti sejenak.
“Aku mau tidur”
Ujarnya lagi.
“Ya udah, kamu tidur aja aku bakalan selalu disini. Disamping kamu”
Shena memberikan senyuman terbaiknya
Meskipun hatinya sakit. dia takut jika tuhan tiba-tiba mengambil Andra darinya.
“Andra tersenyum bahagia”
Tidak butuh waktu lama untuk Andra terlelap. Shena berpikir mungkin ini efek dari obat yang dokter berikan tadi.

Beberapa saat Shena tetap memperhatikan wajah Andra. wajah yang kadang menyebalkan, namun selalu memberi kesan bahagia jika wajah itu di padukan dengan senyuman. Shena yang merasa Andra sudah terlelap dengan nafas yang teratur menarik tubuhnya dengan posisi berdiri. Dia hendak pergi mencari Alvin. Namun langkahnya terhenti ketika suara monitor di samping bangkar tiba-tiba berubah seperti musik yang bertempo cepat. Gelombang denyut jantung Andra yang dilayar monitor berubah menjadi garis lurus horizon.

Tubub Shena seketika bergetar. keringat dingin mulai membasahinya, degup jantung seolah berhenti saat itu juga.
Tanpa ia sadari tubuhnya ditarik menjauhi ranjang.
Para dokter dan tenaga medis berdatangan. Ruangan yang tadinya tenang berubah mengundang kepanikan semua orang. Sedetik kemudian dia baru menyadari apa yang telah terjadi di saksikan langsung oleh penglihatan nya.

“ENGGAK!! JANGAN PERGI! TOLONG JANGAN PERGI”””
Alvin yang baru saja datang langsung memeluk Shena yang berteriak menangis, meronta dan mulai memberontak meminta Alvin untuk melepaskan nya.
Beberapa tenaga medis dan dokter terlihat sibuk.Mereka mengisi difibrillator dengan energi listrik lalu melepaskan alat denyut jantung itu.

“Tambah dayanya!”
Dokter Raka berteriak.
Dokter Raka tidak menyerah. Dia berupaya menyelamatkan Andra dengan sistem CPR.
Beberapa kali menekankan dada Andra namun tidak ada perubahan.

Mata Raka mengerjab. Dia kehilangan salah satu pasiennya.
Tanpa sadar air matanya menetes.
Sedetik kemudian dia tersadar saat jas putih kebanggaannya ditarik kasar oleh seseorang yang raka ketahui adalah Shena.

Shena berhambur mendekati tubuh andra
“Kak, jangan pergi kak!! “
“Kak, bangun!!! “
Shena mengambil perlahan tangan Andra yang terkulai tidak bertenaga seperti saat tadi dirinya membalas genggaman itu.

“Aku janji gak akan merengek lagi”
Kini isakannya kembali menggema
“Aku janji akan terima kenyataan kalau kita udah putus. Kak minta kita putuskan? “
“Kak mau aku pergi kan. Aku akan pergi kak.
aku juga akan cari kebahagiaan aku sendiri kalau itu yang kak mau. Tapi tolong jangan kayak gini. BANGUN KAK!!”

“Tolong bilang sama aku. Tolong bilang dia enggak apa-apa! “
Disela isakannya, shena mencengkram tangan Alvin yang masih berdiri syok didepan nya. Bibir Alvin bergetar. Ia tak berani berbohong Dugaannya benar kalau Andra hanya menunggu Shena.

“Shena”
Panggilnya lembut.
“Dia gak akan ninggalin aku kak. Dia janji sama aku!! “
“Shen. Andra udah pergi Shen.”
“Enggak!!! dia masih hidup, kak. dia gak MATI!!!”
Terlihat kalau Shena sangat frustasi dan marah.
“Dia cuman bilang ngantuk dan dia lagi tidur sekarang kak!!!”
“Shen”
Alvin meraih kedua bahu shena.
“Dengerin Aku!!”
Shena berhenti memberontak, dia menatap Alvin dengan tatapan terluka.
“Dia udah gak ada Shen, dia udah ninggalin kita”

Alvin mengatakan itu seolah tidak rela. Dia selalu berharap ada keajaiban.
Namun tuhan lebih menyayangi Andra dan lebih mengakhiri sakit yang dideritanya.

“Enggak”
Shena menggeleng, tidak menghiraukan perkataan Alvin.
Dia kembali menghampiri bangkar Andra.
“Aku tahu, kamu masih tidur kan? “
Shena terkekeh miris, namun air matanya terus saja mengalir. Dia melihat Andra dengan hati yang masih terluka.Dan pada akhirnya ia tersadarkan akan sesuatu bahwa sosok yang Ia sayangi kini telah pergi untuk selama-lamanya~

kita dipaksa untuk menyerah kepada takdir. Bahkan tangisan, rasa kecewa dan amarah yang sekalipun tidak akan merubah apapun yang telah digariskan.Sebagai insan, mengikhlaskan adalah jalan yang harus digenggam, meskipun dalam genggamannya kita dapat merasakan luka oleh duri ketetapan sang Ilahi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.