Beranda Kolom Literasi Beauty Privilege, Keistimewaan Bagi Kaum ‘Good Looking’ dan Potensi Diskriminasi

Beauty Privilege, Keistimewaan Bagi Kaum ‘Good Looking’ dan Potensi Diskriminasi

248
0

Opini : Eca Aulia
Mahasiswi Jurusan Hukum Tata Negara Islam / Sem. II

Sering kita temui perlakuan istimewa khususnya bagi perempuan yang berparas cantik. Dalam beberapa kasus dengan keindahan fisik, seseorang akan mendapatkan perlakuan khusus dari orang yang masih belum terlalu lama mengenalnya, atau mungkin masih baru pertama kali bertemu.
Tindakan tersebut sering kita jumpai di berbagai tempat. Contohnya di tempat pelayanan publik seperti Bank, Puskesmas, ataupun di tempat Perbelanjaan, Instansi Pendidikan, dan dunia kerja.

Seseorang yang memiliki rupa menawan tidak hanya mendapat perlakuan istimewa ketika ia membutuhkan sesuatu, namun ada keuntungan lain yaitu “dimaklumi” ketika melakukan kesalahan. Sedangkan jika kesalahan tersebut dilakukan oleh seseorang yang penampilan fisiknya tidak menarik, maka akan berbeda pula cara masyarakat dalam menyikapinya.

Nah, lebih lanjut hal tersebut diceritakan di dalam K-drama yang berjudul ‘True Beauty’. Drama ini mengangkat topik pembahasan terbesar, yaitu ‘beauty privilege’. Serial Korea ini menceritakan tentang kisah seorang gadis remaja, Jukyung, yang diejek di sekolah lamanya karena penampilan yang kurang menawan. Tetapi, ketika ia memutuskan untuk merias wajahnya saat pindah ke sekolah baru, ia menjadi sangat populer dan disukai oleh teman-teman barunya.

Buat yang belum familiar, ‘beauty privilege’ adalah sebuah istilah atau konsep yang menggambarkan kemudahan dan keuntungan seseorang yang rupawan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Beauty privilege pada dasarnya merupakan istilah untuk menggambarkan betapa beruntungnya hidup seseorang yang terkesan lebih lancar dibandingkan orang lain kebanyakan, karena terlahir dengan rupa yang menawan.

Kenapa itu bisa terjadi?
Penelitian telah menunjukkan adanya ‘attractiveness halo effect’, Di mana kesan kita terhadap seseorang mempengaruhi perasaan dan pemikiran kita tentang karakter mereka. Misal, “kamu cantik banget, baik lagi, pasti pintar juga deh, sini biar aku bantu!”.

Yah, sepertinya efek ini sudah sangat melekat di masyarakat, sehingga persepsi kita terhadap kualitas seseorang, akan menuntun kita untuk mengasumsikan kualitas lain dari orang tersebut. Tapi tak masalah, manusiawi kok. Karena secara psikologis, seseorang akan cenderung penuh dengan kebaikan apabila hatinya berbahagia. Dan salah satu hal yang membuat hati bahagia atau menaikkan mood yaitu dengan melihat visual paras yang rupawan. Dari sini makin sadar dengan adanya ‘halo effect’, orang-orang cenderung lebih menerima seorang yang atraktif dengan sangat baik.

Sebenarnya sih, stigma ‘Beauty Privillege’ ini ada negatif dan ada positifnya juga, namanya juga dunia, ada gelap dan ada terangnya juga. Misal, untuk sisi positifnya, kita menjadi lebih termotivasi dalam merawat diri, memperhatikan penampilan dan sadar bahwa hal tersebut merupakan wujud seseorang dalam menghargai dirinya. Tentunya, yang paling pasti hal positif sangat dirasakan oleh penyandangnya, yaitu mereka yang memiliki paras rupawan.

Dan dampak negatif dari stigma tersebut yaitu perasaan diskriminatif dari orang-orang yang berpenampilan biasa saja. Atau bahkan, jauh dari kata menarik. Padahal belum tentu mereka tidak memiliki bakat dan pemikiran yang cemerlang, walaupun fisiknya kurang mendukung, kurang memenuhi standar kecantikan. Masyarakat secara tidak sadar telah menyelewengkan Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Baik secara hukum, maupun dalam mendapatkan pelayanan publik.

Tentunya memunculkan anggapan bahwa hal itu juga tidak sesuai dengan sila ke 5 dalam Pancasila yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dengan adanya kenyataan hidup yang begitu keras dalam masyarakat, sehingga banyak orang yang memplesetkan bunyi sila tersebut menjadi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking”. Terdengar sangat ngakak sih, namun sesuai dengan fakta yang terjadi dalam lingkup masyarakat luas.

Maka dari itu, ‘beauty privilege’ adalah isu yang cukup penting sebab menilai seseorang hanya dari fisiknya saja tidaklah baik karena dapat menimbulkan konsekuensi yang serius di berbagai bidang seperti pendidikan, perekrutan pekerja, dan di lingkungan sosial.

Ini menjadi pengingat bagi kita untuk harus selalu memperhatikan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain?, Apakah kita memperlakukan semua orang dengan setara?
Di episode 13, teman-teman Jukyung terlihat menunjukkan dukungan ketika ia datang ke sekolah tanpa riasan wajah. Karena apa yang mereka sukai dari Jukyung adalah kepribadiannya yang baik hati dan suka membantu orang lain.

Jadi, apakah kecantikan fisik adalah segalanya?
Kita semua tahu bahwa kecantikan itu sifatnya subjektif, relatif pake banget. Maka dari itu kita harus berhenti membuang-buang waktu dengan insecure, apalagi bersusah payah menyesuaikan diri dengan ide kecantikan orang lain. Yang terpenting adalah bersyukur, perlakukan diri sendiri dan orang lain dengan rasa hormat yang setara. Itu baru true beauty~

Kurangi Insecure, Perbanyak bersyukur

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 14)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.