Beranda IAIN Palu Oknum Dosen ‘Paksa’ Mahasiswi Buka Cadar, Wajarkah?

Oknum Dosen ‘Paksa’ Mahasiswi Buka Cadar, Wajarkah?

1194
0

Opini : Cindy Fatika Sari
Mahasiswi Jurusan Hukum Keluarga / semester II

Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang Arab atau Timur-Tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya Timur-Tengah.

Tidak ada ayat atau hadits yang menyatakan secara tegas bahwa kaum muslimah wajib menggunakan cadar, yang ada adalah ketentuan seorang muslimah untuk menutupi auratnya.

Di sejumlah riwayat, Rasulullah tak pernah melarang penggunaan cadar namun juga tidak mewajibkannya. Abdullah Ibnu Umar RA pernah meriwayatkan bahwa, Ketika Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyyah, beliau melihat Aisyah mengenakan niqab di tengah kerumunan para sahabat dan Nabi mengenalnya juga tak melarangnya.

Namun di zaman sekarang sekarang ini ada beberapa oknum yang menjadikan cadar sebagai aturan bahkan larangan penggunaannya. Hal ini tentu tidak sesuai dengan hak kebebasan tiap-tiap manusia sekaligus syariat Islam.

Seperti yang terjadi di kampus kita IAIN Palu, terdapat oknum dosen yang menyuruh seorang mahasiswi melepaskan cadarnya. Hal ini berawal dari pengakuan salah satu mahasiswi “M” ketika disuruh untuk melepaskan cadarnya oleh dosen yang berasumsi akan dirinya takut ditipu oleh mahasiswi bercadar.

“Berawal dari meminta TTD dosen di absensi mahasiswa. Lalu tiba-tiba bapak tersebut meminta saya untuk buka cadar beberapa detik..dengan asumsi takutnya nanti ada mahasiswi mengaku mahasiswa tapi ternyata bukan atau takutnya mengaku sebagai diri saya,tapi padahal bukan,” ucap M.

M sebagai salah satu mahasiswi yang mengalami kejadian pahit tersebut didesak oleh dosen untuk melepas cadarnya beberapa menit saja. Padahal kampus kita berbackground agama, saya kira kita semua paham atau sekurang-kurangnya pintar menghargai, namun ternyata rasa toleransi teman Kristen saya lebih patut di contohi dan diberi apresiasi, dari pada yang nyatanya seagama bahkan berpendidikan tinggi tapi tidak paham dengan cara menghargai muslimahnya sendiri.

perlu dipertanyakan kualitasnya sebagai laki-laki?
Saya yang notabenenya tidak bercadar sakit hati dengarnya. apa kabar dengan saudari kita yang diposisi itu?
Hebat sekali saya rasa perempuan yang berani bercadar, karena tidak segampang itu istiqomahnya bukan main-main tanggung jawabnya walaupun sebenarnya hukum cadar sebagian ulama bilang Sunnah, tapi miris sekali rasanya karena sesama muslim sendiri yang berprilaku tidak agamis.

Mau tidak mau mereka melepas cadar demi mendapatkan sebuah paraf tanda tangan dosen untuk kepentingan mendesak. Dengan terpaksa dan bermodalkan Bismillah ia akhirnya membuka dan tidak berani untuk menolak permintaan tersebut.

Jikalau oknum dosen takut ditipu dengan asumsi yang mendatangi mereka bukan seorang mahasiswa.Apalah gunanya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) ? saya pikir dengan adanya KTM sudah cukup bahwa mereka seorang mahasiswi tanpa harus membuka cadar mereka.

Problematika dosen menyuruh mahasiswi melepas cadar sudah berulangkali terjadi di lingkungan IAIN Palu dengan alasan yang beragam. Meskipun tidak semua oknum dosen berperilaku seperti itu, tetapi bisa jadi pemicu satu dosen akan melakukan hal yang sama.

Jikalau memang kita tidak terlalu mendukung cadar yah cukup diam, jangan malah kita pandang sebelah mata mereka yang bercadar, atau tidak menghargai keberadaannya mereka yang berjalan di atas Sunnah, atau bahkan mengklaim mereka fanatik agama. nauzubillah,…

Semoga tidak terjadi lagi hal seperti ini, kalau memang tidak bisa menghargai cadar setidaknya jangan lecehkan cadarnya, karena yang bercadar juga pasti paham dengan konsekuensi pilihan mereka, cukup sedikit rasa saling menghargai maka perbedaan bukan hal yang patut dipermasalahkan, agama juga mengajarkan tentang saling menghargai, dan semua agama pasti mengajarkan tentang berkasih sayang antar sesama manusia, tidak ada agama yang mengajarkan Kekerasan, kecuali mereka yang berhati batu.

Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

“Orang-orang yang saling berkasih sayang akan disayang oleh Dzat yang maha penyayang. Maka sayangilah penduduk bumi maka Allah yang berada diatas langit akan menyanyangi kalian.” (HR. Abu Dawud, No. 4941).

Penulis merupakan Wartawan Lembaga Pers Mahasiswa Qalamun IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.