Beranda Kolom Literasi Kucing Anggora Diponegoro

Kucing Anggora Diponegoro

329
0

Opini

Oleh : Zulkifli
Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam / Semester II

Kampus sebagai pusat peradaban memiliki makna bahwa dari kampuslah bermula berbagai gagasan, inspirasi, serta motivator.

Dalam hal ini, sumber daya mahasiswanya yang akan mewarnai dan menentukan arah perjalanan bangsa.
“Mata air-mata air” yang tersebar diseluruh Indonesia diharapkan dapat mengalirkan gagasan, inspirasi serta aksi dari mentor-mentor penggeraknya sehingga dapat “menghidupkan” gairah serta pengembangan diri untuk mahasiswa.

Tetapi berbeda dengan kampus IAIN Palu sekarang,
kasihan sekali kampus kita yang dulunya dikenal sebagai “Macan Hijau”, tetapi sekarang kelihatan seperti “Kucing Anggora” Diponegoro.

Apalagi dengan keadaan mahasiswa sekarang,
Dari pandangan kacamata saya bahwa mahasiswa IAIN Palu ±60% kebanyakan mahasiswa yang hedonis dan apatis.

Tentu banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan hal ini terjadi. Salah satunya mungkin saja dikarenakan kurangnya ruang ruang diskusi di kampus, dan juga Covid-19 yang tak jelas ini, sehingga membuat sukar untuk orang orang beraktivitas.

Padahal dalam keadaan sekarang ini merupakan kesempatan kita untuk bagaimana mengatasi berbagai problematika yang ada, karena sesungguhnya problem adalah jembatan untuk menuju kepastian. Entah kah keberhasilan ataukah kegegalan yang didapati pada intinya jalanin aja dulu.

Tapi bagaimana mau menjalani, kalau teman teman banyak yang cuek, hedon, seakan akan tak ada beban dan pedulinya. Inilah yang saya katakan tadi, bahwa sebelumnya kita yang dikenal dengan Macan hijau tetapi sekarang tinggalah Kucing anggora Diponegoro.

Maka dari itu, marilah kawan kawan sama sama kita hijaukan kembali rasa dinamis dan kepedulian kita. Mari kita bangun kembali budaya budaya diskusi yang sempat terhalang akibat pandemi ini, suarakan apa yang perlu kita suarakan bagi teman teman mahasiswa yang kesulitan disana, sampaikan kebenaran meski itu hal pahit sekalipun.

Mungkin teman teman merasa bosan dengan kata-kata ini, akan tetapi
Jikalau tidak kalian semua, siapa lagi? dan jika tidak sekarang, kapan lagi?

Sebagaimana Hadist Nabi Muhammad SAW. :

“Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

Penulis merupakan Wartawan Lembaga Pers Mahasiswa Qalamun IAIN Palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.