Beranda Cerpen Sosok Penuh Kenangan

Sosok Penuh Kenangan

155
0

Cerpen

Karya Fitri Atunnufus, mahasiswi Jurusan Hukum Tata Negara / Semester II

Awal bulan Januari, saat itu keluarga nenek di kota mengadakan acara pernikahan, sementara itu keponakan nenek sedang jatuh sakit yang cukup kritis dan parah. Bisa dibilang sakit tersebut saking parahnya hanya tinggal menunggu ajal. Hal tersebut membuat mama bingung harus ke kota untuk menghadiri acara pernikahan atau menjaga keluarga nenek yang sakit.

” Wati….(panggilan nenek untuk mama) kalau boleh kamu nda usah pergi ke kota karena sebelumnya kamu sudah pernah kesana,”Katanya

Akhirnya mama memutuskan untuk membatalkan niatnya ke kota dan ingin menjaga keluarga yang sakit. Tinggal beberapa hari lagi acara pernikahan yang di kota akan di laksanakan dan ternyata nenek yang melarang mama ke kota malah nenek yang pergi ke kota, padahal keponakan nenek sedang sakit. Akhirnya mama bingung dan sedikit kecewa.

Seminggu sudah nenek berada di kota dan malam ini dia pulang kerumah dan kami sangat senang atas kepulangannya dari kota, terkecuali mama. Kemungkinan mama masih menyimpan rasa kecewa atas perilaku plin plan nenek kemarin.

“Yeeyyy…. Nenek pulangg”. Kataku dengan penuh antusias

Ketika pulang, nenek membawa oleh-oleh dari kota berupa makanan dan beberapa biskuit lainnya untuk cucu-cucunya yang ada di rumah. Aku ikut senang bukan karena oleh-oleh nya tetapi senang bisa berkumpul lagi bersama di rumah.

Suara adzan Isya telah berkumandang dan akupun bersiap-siap untuk ke mesjid menunaikan kewajiban. Setelah selesai aku pulang dan kaget melihat lantai basah seperti habis ngepel. Anehnya lantainya tidak semuanya basah hanya sebagian. Ternyata lantai basah karena air kencing nenek yang hendak ke kamar mandi. Mama pun langsung panik karena pasti penyakit nenek kambuh akibat penyakit gula yang dideritanya.

Tadinya aku bahagia atas kepulangan nenek, dan akhirnya malah jadi sedih sebab nenek pulang malah jatuh sakit. Keesokan harinya nenek tidak kuat lagi untuk berjalan ke kamar mandi walaupun sudah dengan bantuan tongkat, Akhirnya mama berinisiatif untuk memakaikan nenek popok celana.

Hari demi hari penyakit nenek makin parah, aku sangat sedih melihat keadaan nenek karena nenek akhir-akhir ini sudah mulai lupa ingatan, mulai bersikap seperti anak kecil belum lagi kaki nenek sudah ada timbul luka-luka kecil akibat gigitan semut.

“Separah itukah penyakit diabetes/ gula?”. Pikirku dalam hati.

Esok hari Keluarga mulai berdatangan menjenguk untuk melihat keadaan nenek. Dan hari itu aku tambah sedih melihat nenek tidak bicara sepatah kata pun dan hanya tidur dengan memberikan senyumannya kepada semua orang dalam artian dia baik-baik saja.

Malam mulai larut keluarga yang menjenguk sedikit demi sedikit pulang untuk beristirahat dan sebagian keluarga menetap di rumah bersama kami.

“Fit… Lepas sholat baca surah Yasin yah di samping nenek”. Kata Papa

” Iyah pa”. Jawabku dengan nada yang gemetar

Adzan subuh berkumandang dan setelah sholat aku duduk d samping nenek yang terbaring lemah menahan rasa sakit yang ia derita sambil membaca surah Yasin di samping nenek.

Pukul 06:30 nenek menghembuskan nafas terakhirnya dengan penyakit yang ia derita. Sungguh tidak menyangka begitu cepat nenek pergi meninggalkan kami semua. sebulan lagi menuju bulan Ramadhan yang di mana nenek bilang bahwa kita akan sahur pertama bersama-sama kenyataannya tidak. Mengapa nek mengapa engkau mengingkari semuanya?

Aku melihat jasad nenek yang terbujur kaku

” Nenek!!!”. Aku memeluknya, jasad nenek memancarkan senyuman hangat.

” Terima kasih ya nek” Bisikku

Dalam perjalanan hidupku, ini saat pertama kali merasakan patah hati. Ketika orang yang setiap saat mengajarkan banyak hal itu tiba-tiba pergi begitu saja, pergi jauh untuk selama-lamanya dan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.