Beranda Kolom Literasi Berantas Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan

Berantas Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan

192
0

Opini

Oleh : Dewi Sartika
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah / Sem. II

Maraknya kasus kekerasan terhadap Perempuan belum juga berkurang akhir akhir ini. Dampak dari tindak kekerasan anak perempuan membuat mereka tidak dapat hidup bebas dan selalu dihantui rasa takut dan rasa tidak aman sehari-hari.
Dapatkah kita benar-benar mengatakan bahwa kita hidup di dunia yang adil dan setara?
Bagaimana dengan realita yang ada ?

Di indonesia, kasus kekerasan terhadap kaum perempuan menjadi sorotan publik, baru-baru ini terkuaknya kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang anak berumur 16 tahun yang dilakukan oleh oknum kepolisian. Miris sekali bukan. Yang seharus nya oknum menjaga keamanan malah membuat ketidaknyamanan bagi kaum perempuan, yang mana oknum kepolisian tersebut sudah beristri dan juga memiliki bayi.

Hal tersebut menunjukkan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sulit difikir oleh masyarakat. mengapa tidak, seorang oknum aparat kepolisian dengan teganya melakukan hal keji terhadap anak usia 16 tahun. Kasus ini harus segera ditindaklanjuti tanpa ditutupi karena merupakan hak perlindungan anak dan juga perempuan yang mana sangat berpengaruh terhadap masa depan dan mental seorang anak .

Mengenai lembaga dan norma hukum tidak dapat diandalkan untuk bisa mewujudkan keadilan bagi korban kasus pemerkosaan. Di Indonesia, standar pembuktian menurut Pasal 183 KUHAP menjadikan pengungkapan kasus pemerkosaan begitu sulit. Kesulitan itu karena tidak mudah mengumpulkan alat bukti, apalagi mencari saksi yang melihat langsung kejadian, kecuali saksi korban dan tersangka saja. Sementara itu, tersangka, yang sudah bejat munafik pula, akan dengan mudahnya berkelit dan mengatakan ‘waktu itu saya khilaf’ dan berbagai alasan lainnya.

Sementara itu, bagaimana dengan korban menanggung beban derita yang begitu berat, di jeli stigma negatif, dan masa depannya diambang kehancuran. Tidak mudah bagi korban pemerkosaan untuk melupakan kejadian yang ia alami. Perlu waktu yang lama menguatkan mental korban untuk menghadapi kenyataan itu.

Kondisi yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual harus diubah supaya kelak tercapai keadilan karena sistem hukum kriminal yang disediakan negara gagal memberi rasa keadilan dan pembebasan, malah menciptakan lingkaran setan kekerasan yang tidak berkesudahan. Dan lagi-lagi muncul berita mengenai kekerasan seksual.

Perlunya di Indonesia diterapkan sistem keamanan yang lebih ketat terhadap anak dan kekerasan seksual yang terjadi. Hal tersebut agar tidak terulang kembali. Perlunya membangun komunitas-komunitas untuk mendorong anak dan perempuan yang telah menjadi korban agar tidak mudah menyerah dengan keadaan yang ia alami, melatih mental mereka agar tidak berkelanjutan, dan perlunya juga komunitas tersebut mendorong kepada tersangka agar mau mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.

Tentunya gerakan ini akan menyala dengan hidupnya komunitas-komunitas yang memiliki visi anti kekerasan seksual. Komunitas-komunitas itu tidak mesti komunitas perempuan, tapi bisa komunitas apa pun, seperti komunitas seni, olahraga, penulis, pendaki gunung, kelompok arisan, komunitas antikantong plastik, dan lain sebagainya.

Sebagai kaum perempuan saya pribadi sangat prihatin dengan kejadian-kejadian yang menimpa kaum perempuan lainnya mengenai kekerasan serta pemerkosaan. Maka dari itu saya mendukung komunitas-Komunitas agar tetap maju membela dan menegakkan kebenaran dan pembebasan terhadap perempuan dengan keamanan yang tepat. Agar kasus seperti ini segera berakhir dan perempuan dapat merasakan hidup yang tenang.

_Penulis merupakan Wartawan Lembaga Pers Mahasiswa Qalamun IAIN Palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.